Ribuan pengunjung memadati Kebun Binatang Ueno di Tokyo untuk menyaksikan penampilan terakhir sepasang panda raksasa kembar, Xiao Xiao dan Lei Lei, sebelum mereka dijadwalkan kembali ke Tiongkok pada akhir Januari 2026. Momen perpisahan ini menandai berakhirnya era kehadiran panda raksasa di Jepang, sebuah peristiwa yang memicu gelombang emosi dan refleksi mendalam di kalangan masyarakat.

Momen Warga Jepang Berpamitan dengan Panda Raksasa Terakhir

sulutnetwork.com – Suasana haru menyelimuti Ueno Zoo pada Minggu, 25 Januari 2026, ketika warga Jepang berbondong-bondong datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Xiao Xiao, panda jantan, dan Lei Lei, panda betina. Kedua panda berusia empat tahun ini telah menjadi ikon dan daya tarik utama kebun binatang tersebut sejak kelahiran mereka, dan kepulangan mereka ke tanah leluhur akan membuat Jepang tidak lagi memiliki panda raksasa untuk pertama kalinya sejak tahun 1972. Antusiasme publik terlihat jelas dari panjangnya antrean dan ekspresi wajah para pengunjung yang campur aduk antara kebahagiaan melihat panda dan kesedihan karena akan berpisah.

Kehadiran panda raksasa di Jepang selalu menjadi simbol penting dalam hubungan bilateral antara Tokyo dan Beijing. Sejak kedatangan dua panda pertama, Kang Kang dan Lan Lan, pada tahun 1972 sebagai hadiah dari Tiongkok untuk menandai normalisasi hubungan diplomatik, hewan-hewan berbulu hitam-putih ini telah memegang peran unik dalam diplomasi publik. Selama lebih dari lima dekade, panda-panda di kebun binatang Jepang, terutama Ueno Zoo, tidak hanya menjadi daya tarik wisata tetapi juga jembatan budaya dan simbol persahabatan, bahkan di tengah pasang surutnya dinamika politik antara kedua negara.

Momen Warga Jepang Berpamitan dengan Panda Raksasa Terakhir

Fenomena "diplomasi panda" sendiri bermula pada masa Dinasti Tang, namun praktik modernnya dimulai pada tahun 1950-an ketika Tiongkok mulai menghadiahkan panda kepada negara-negara sahabat sebagai tanda niat baik. Seiring waktu, praktik ini berevolusi menjadi program pinjaman jangka panjang, di mana negara-negara penerima biasanya membayar biaya konservasi tahunan yang signifikan dan setuju bahwa semua keturunan panda yang lahir di luar Tiongkok tetap menjadi milik Tiongkok. Kesepakatan ini mencerminkan upaya Tiongkok dalam melestarikan spesies yang terancam punah sekaligus memelihara hubungan diplomatik melalui daya tarik universal hewan yang dicintai ini.

Sejarah panda di Ueno Zoo sendiri cukup kaya. Setelah Kang Kang dan Lan Lan, kebun binatang ini menyambut beberapa pasang panda lainnya. Orang tua Xiao Xiao dan Lei Lei, yaitu panda jantan Ri Ri dan panda betina Shin Shin, tiba di Ueno pada tahun 2011. Mereka adalah bagian dari program pembiakan yang ambisius, dan keberhasilan mereka melahirkan anak-anak panda secara alami merupakan pencapaian besar bagi tim konservasi. Sebelum Xiao Xiao dan Lei Lei, Ri Ri dan Shin Shin juga melahirkan Xiang Xiang pada tahun 2017, yang popularitasnya juga meledak dan telah lebih dulu kembali ke Tiongkok pada Februari 2023.

Momen Warga Jepang Berpamitan dengan Panda Raksasa Terakhir

Kelahiran Xiao Xiao dan Lei Lei pada 23 Juni 2021 merupakan peristiwa yang sangat dinanti-nantikan. Mereka adalah panda kembar pertama yang lahir secara alami di Ueno Zoo, sebuah keberhasilan yang luar biasa dalam upaya pelestarian spesies. Sejak pertama kali diperkenalkan ke publik, kedua panda ini langsung merebut hati jutaan orang. Tingkah laku mereka yang lucu dan menggemaskan selalu berhasil menarik perhatian, mengubah Ueno Zoo menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di Tokyo. Kehadiran mereka tidak hanya meningkatkan jumlah pengunjung kebun binatang secara signifikan tetapi juga membawa kebahagiaan dan hiburan bagi masyarakat, terutama di masa-masa sulit.

Untuk mengelola lonjakan pengunjung yang ingin melihat Xiao Xiao dan Lei Lei, pihak Ueno Zoo harus menerapkan sistem undian tiket kunjungan. Ribuan warga Jepang mendaftar setiap harinya, berharap bisa mendapatkan kesempatan terakhir untuk melihat langsung panda-panda kesayangan mereka. Pada hari terakhir penayangan, hanya sebagian kecil dari pendaftar yang beruntung bisa masuk, menciptakan momen yang terasa sangat istimewa dan personal bagi mereka yang berhasil. Kamera-kamera berkedip tanpa henti, merekam setiap gerakan panda, sementara banyak pengunjung yang berusaha menahan air mata perpisahan.

Momen Warga Jepang Berpamitan dengan Panda Raksasa Terakhir

Salah seorang pengunjung bernama Machiko Seki mengungkapkan perasaannya kepada media, "Rasanya seperti akhir dari kisah satu keluarga." Sentimen ini diamini oleh banyak orang, yang merasa bahwa panda-panda ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka, membawa keceriaan dan kehangatan. Bagi banyak warga Tokyo, kunjungan ke Ueno Zoo untuk melihat panda adalah tradisi keluarga, dan kepergian Xiao Xiao serta Lei Lei meninggalkan kekosongan emosional yang mendalam. Mereka bukan hanya hewan, melainkan duta persahabatan yang hidup, penghibur, dan simbol harapan.

Meskipun kepulangan panda-panda ini telah direncanakan sejak lama sesuai dengan kesepakatan pinjaman yang umumnya berjangka waktu 10 tahun, sebagian pihak di Jepang tidak dapat mengabaikan bahwa momen ini bertepatan dengan periode di mana hubungan antara Jepang dan Tiongkok tengah menghadapi tantangan. Namun, bagi sebagian besar pengunjung dan pengamat, perpisahan ini lebih dimaknai sebagai ungkapan terima kasih atas kehadiran panda yang telah memberikan hiburan dan penghiburan emosional selama bertahun-tahun. Mereka memilih untuk fokus pada warisan positif yang ditinggalkan oleh panda-panda ini, daripada mengaitkannya dengan kompleksitas politik saat ini.

Momen Warga Jepang Berpamitan dengan Panda Raksasa Terakhir

Proses kepulangan panda raksasa ke Tiongkok bukanlah hal yang sederhana. Ini melibatkan koordinasi logistik yang rumit, termasuk pengangkutan khusus menggunakan pesawat kargo yang disesuaikan, serta didampingi oleh tim ahli dari kebun binatang dan dokter hewan. Tujuan utama dari kepulangan ini adalah agar Xiao Xiao dan Lei Lei dapat bergabung dengan program pembiakan di pusat konservasi panda di Tiongkok, seperti di Sichuan. Di sana, mereka diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan populasi panda raksasa global dan menjaga keragaman genetik spesies tersebut.

Kepulangan Xiao Xiao dan Lei Lei akan meninggalkan Jepang tanpa panda raksasa untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima puluh tahun. Ini mengakhiri sebuah babak panjang dalam sejarah kebun binatang Jepang dan hubungan diplomatik antara kedua negara. Meskipun demikian, warisan yang ditinggalkan oleh panda-panda ini akan tetap abadi. Mereka telah mengajarkan banyak hal tentang konservasi, mempromosikan pemahaman lintas budaya, dan yang terpenting, membawa senyum dan kebahagiaan bagi jutaan orang. Momen perpisahan di Ueno Zoo bukan hanya tentang mengucapkan selamat tinggal kepada dua hewan, melainkan tentang menghormati simbol persahabatan dan warisan yang telah mereka bangun.

Momen Warga Jepang Berpamitan dengan Panda Raksasa Terakhir

Dengan kepergian Xiao Xiao dan Lei Lei, Ueno Zoo akan memasuki fase baru tanpa daya tarik utama yang telah memikat banyak hati. Namun, kenangan akan panda-panda ini, serta pelajaran tentang konservasi dan persahabatan yang mereka representasikan, akan terus hidup dalam ingatan warga Jepang. Perpisahan ini adalah pengingat bahwa bahkan dalam dunia diplomasi yang rumit, ada makhluk-makhluk yang dapat melampaui batasan politik dan menyatukan hati manusia melalui daya tarik alami dan pesona mereka.