Guci Tegal kembali diterjang banjir bandang pada Sabtu, 24 Januari 2026, menimbulkan kerusakan signifikan pada sejumlah fasilitas dan infrastruktur di kawasan wisata populer tersebut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah segera mengambil langkah tanggap darurat dan perencanaan perbaikan, namun upaya pemulihan terkendala oleh kondisi cuaca yang belum stabil, mengharuskan penundaan sejumlah pekerjaan vital demi keselamatan petugas dan efektivitas rekonstruksi.

sulutnetwork.com – Insiden banjir bandang yang melanda Guci, sebuah destinasi wisata air panas yang terletak di kaki Gunung Slamet, telah memicu kekhawatiran serius terkait keselamatan pengunjung dan keberlanjutan operasional pariwisata di wilayah tersebut. Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas C Penanggungan, dalam keterangannya, mengonfirmasi bahwa tim reaksi cepat telah dikerahkan untuk memantau situasi dan melakukan asesmen kerusakan pasca-bencana. Banjir kali ini merupakan pengingat akan kerentanan wilayah pegunungan terhadap fenomena hidrometeorologi ekstrem, terutama di musim penghujan.

Menurut Bergas, setidaknya ada tiga titik lokasi utama yang paling parah terdampak oleh terjangan banjir bandang ini. Ketiga titik tersebut meliputi Pancuran 13, Pancuran 5, dan area Kolam Barokah. Ketiganya merupakan bagian integral dari kompleks pemandian air panas Guci yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Kerusakan yang terjadi bervariasi, mulai dari penumpukan material lumpur dan kayu gelondongan, hingga kerusakan pada struktur bangunan penahan air dan jembatan. Kondisi ini secara langsung mengganggu aktivitas wisata dan aksesibilitas di area tersebut, memaksa penutupan sementara demi keselamatan publik.

Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan utama bagi tim penanganan bencana di lapangan. Intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah hulu seringkali memicu peningkatan debit air dan potensi longsor susulan, yang sangat membahayakan jika pekerjaan perbaikan dipaksakan. "Sementara di titik tersebut belum dilakukan pembenahan, menunggu cuaca baik. Kalau saat ini rencananya bangunan penahan aliran air di Permadi (diberi) bronjong," kata Bergas melalui pesan singkat kepada sejumlah awak media pada Minggu, 25 Januari 2026. Penundaan ini adalah langkah preventif untuk memastikan bahwa setiap upaya perbaikan dapat dilakukan dengan aman dan hasilnya optimal, tanpa risiko tambahan bagi para pekerja.

Rencana perbaikan yang telah disusun oleh BPBD Jawa Tengah mencakup beberapa prioritas. Salah satunya adalah pembangunan bronjong di area Permadi, sebuah struktur kawat berisi batu yang berfungsi sebagai penahan erosi dan pengatur aliran air sungai. Penggunaan bronjong diharapkan dapat memperkuat tebing sungai dan mencegah terjadinya pengikisan tanah lebih lanjut, yang dapat mengancam stabilitas infrastruktur di sekitarnya. Ini merupakan solusi jangka pendek yang efektif untuk mengamankan area rawan erosi sembari menunggu perbaikan permanen yang lebih komprehensif.

Selain itu, BPBD juga merencanakan pemasangan jembatan Bailey di lokasi Jembatan Jedor. Jembatan Bailey adalah jenis jembatan sementara yang terbuat dari baja, dirancang untuk perakitan cepat dan mampu menahan beban berat, sangat ideal untuk situasi darurat pasca-bencana. Kerusakan pada Jembatan Jedor kemungkinan besar telah memutus atau menghambat akses vital di kawasan tersebut, sehingga pemasangan jembatan Bailey menjadi krusial untuk memulihkan konektivitas dan memfasilitasi distribusi bantuan serta mobilisasi peralatan berat. Namun, penanganan perbaikan Jembatan Guci yang lebih besar dan kompleks masih harus menunggu kondisi cuaca yang benar-benar stabil dan landai, mengingat skala pekerjaan yang lebih besar dan risiko yang terlibat.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jawa Tengah saat ini terus aktif menyisir dan memantau area terdampak secara menyeluruh. Tugas mereka tidak hanya terbatas pada asesmen kerusakan, tetapi juga melibatkan pembersihan material banjir bandang yang memenuhi aliran sungai dan area wisata. Material seperti lumpur tebal, kayu gelondongan, dan sampah-sampah yang terbawa arus telah mengubah alur sungai secara signifikan. Perubahan alur ini dapat memicu masalah baru seperti penyempitan sungai, peningkatan risiko banjir di masa depan, dan kerusakan ekosistem sungai. Oleh karena itu, pembersihan material menjadi prioritas utama untuk mengembalikan fungsi sungai seperti semula dan mengurangi potensi bahaya.

Banjir bandang di Guci ini bukan hanya berdampak pada infrastruktur, tetapi juga pada sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Dengan penutupan sementara aktivitas wisata di beberapa titik terdampak, pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor ini, mulai dari pedagang kaki lima, pengelola penginapan, hingga pemandu wisata, akan sangat terpukul. "Aktivitas wisata di beberapa titik terdampak dihentikan sementara demi keselamatan pengunjung," ungkap Bergas, menekankan bahwa keputusan ini diambil semata-mata untuk menghindari risiko kecelakaan yang tidak diinginkan mengingat kondisi medan yang masih berbahaya dan tidak stabil.

Peringatan keras juga dikeluarkan kepada masyarakat dan pengunjung untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjauhi aliran sungai. Daerah aliran sungai, terutama setelah banjir bandang, seringkali memiliki struktur tanah yang tidak stabil dan potensi longsor susulan yang tinggi. Arus bawah air yang kuat juga masih dapat membahayakan. Imbauan ini sangat penting untuk mencegah korban jiwa atau cedera lebih lanjut. Edukasi mengenai bahaya banjir bandang dan langkah-langkah mitigasi juga terus digalakkan oleh BPBD kepada komunitas lokal, agar mereka lebih siap menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang.

Fenomena banjir bandang di Guci ini merupakan cerminan dari kompleksitas masalah lingkungan dan tata ruang. Wilayah pegunungan dengan kontur berbukit seperti Guci, jika tidak diiringi dengan praktik konservasi lahan yang baik di bagian hulu, akan selalu rentan terhadap erosi dan aliran permukaan yang deras saat curah hujan tinggi. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pembangunan yang tidak memperhatikan kaidah lingkungan dapat memperparah dampak bencana alam. Oleh karena itu, upaya jangka panjang tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga pada restorasi lingkungan dan pengelolaan daerah aliran sungai yang berkelanjutan.

Pembersihan material lumpur, kayu, dan sampah yang dilakukan oleh TRC dan relawan merupakan tugas yang berat dan memakan waktu. Material-material ini tidak hanya mengganggu aliran air, tetapi juga dapat menjadi sarang penyakit dan mencemari lingkungan. Upaya ini memerlukan koordinasi yang baik antara berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, TNI, Polri, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat setempat. Solidaritas dan gotong royong menjadi kunci dalam mempercepat proses pemulihan dan membersihkan sisa-sisa bencana.

Meskipun fokus utama saat ini adalah penanganan darurat dan perbaikan segera, BPBD dan pemerintah daerah juga perlu memikirkan strategi mitigasi jangka panjang. Hal ini meliputi pembangunan sistem peringatan dini yang efektif, sosialisasi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat secara berkala, serta penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana. Analisis mendalam terhadap penyebab banjir bandang ini juga harus dilakukan, apakah karena curah hujan ekstrem semata, atau ada faktor lain seperti kerusakan lingkungan di hulu sungai yang turut berkontribusi. Dengan demikian, langkah-langkah pencegahan di masa depan dapat lebih terarah dan efektif.

Perekonomian Guci, yang sangat bergantung pada sektor pariwisata, diharapkan dapat pulih secepatnya setelah perbaikan selesai. Pemulihan tidak hanya berarti infrastruktur kembali berfungsi, tetapi juga kepercayaan wisatawan kembali tumbuh. Promosi yang gencar tentang keamanan dan keindahan Guci pasca-bencana akan menjadi bagian penting dari strategi pemulihan. Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan penuh kepada para pelaku usaha pariwisasa untuk bangkit kembali, mungkin dengan memberikan insentif atau bantuan modal.

Kejadian ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali standar keamanan dan fasilitas di Guci. Peningkatan fasilitas keselamatan, seperti jalur evakuasi yang jelas, rambu-rambu peringatan bahaya, dan sistem pengawasan yang lebih canggih, dapat meningkatkan rasa aman bagi pengunjung di masa depan. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal akan menjadi fondasi utama dalam membangun Guci yang lebih tangguh dan berkelanjutan, mampu menghadapi tantangan alam di masa mendatang tanpa mengorbankan pesona dan daya tariknya sebagai destinasi wisata unggulan.

Dengan demikian, meskipun tantangan perbaikan pasca-banjir bandang di Guci Tegal cukup besar, semangat untuk memulihkan dan membangun kembali kawasan ini tetap tinggi. Kesiapsiagaan, koordinasi yang solid, dan partisipasi aktif dari semua pihak akan menjadi penentu keberhasilan dalam menghadapi dampak bencana ini dan mempersiapkan Guci menjadi destinasi wisata yang lebih aman dan berdaya tahan di masa depan. Masyarakat dan pengunjung diharapkan terus mematuhi imbauan keselamatan dan mendukung upaya pemulihan yang sedang berlangsung.