Sulutnetwork.com – Bencana longsor melanda Kampung Pasir Kuning RW 10 dan RW 11, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu, 24 Januari 2026, pukul 03.00 WIB.
Berdasarkan laporan di lapangan, terdapat sekitar 20 rumah tertimbun material tanah longsor yang berasal dari tebing di sekitar permukiman.
Longsor dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama 2 hari terakhir, disertai angin kencang.
Terkini, sebanyak 82 orang masih dinyatakan hilang dalam peristiwa longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Operasi pencarian dan penyelamatan korban melibatkan TNI, Polri, BPBD, perangkat desa, serta relawan dari berbagai kalangan.
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail menyebutkan total ada 34 keluarga atau sekitar 113 jiwa terdampak.
Saat ini, 23 orang berhasil selamat, dan 8 orang telah ditemukan meninggal dunia.
“Sampai saat ini ada sekitar 82 orang masih dalam status hilang,” ungkap Jeje di lokasi kejadian, Cisarua, Bandung Barat, pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Tetapkan Status Darurat Bencana
Jeje menyebut, pihaknya telah menetapkan status darurat bencana mengingat skala kejadian yang sangat luas dan jumlah korban yang banyak.
Akses menuju lokasi terdampak sangat sulit, sehingga pihak berwenang akan menurunkan petugas khusus untuk mengatur jalur distribusi bantuan agar bisa sampai ke korban dengan cepat.
“Saat ini, korban yang diungsikan ditempatkan di posko yang telah disiapkan, sebagian juga tinggal sementara di rumah saudara,” terang Jeje.
Bupati Bandung Barat itu belum bisa memastikan penyebab pasti kejadian dan masih dalam tahap kajian.
Di sisi lain, Jeje merasa khawatir terkait kondisi di atas lokasi longsor karena terdapat potensi risiko lebih besar.
“Saya juga mengimbau seluruh warga di daerah rawan bencana, terutama yang tinggal di lereng bukit dan tanah miring untuk tetap waspada karena curah hujan saat ini sangat tinggi,” tandasnya.
Korban Selamat: Terdengar Suara ‘Bum’
Dalam kesempatan berbeda, seorang ibu yang menjadi korban selamat dalam bencana longsor di Cisarua menyampaikan kesaksiannya.
Ibu tersebut mengaku sempat mendengar dentuman keras dari daerah hulu, pada Jumat, 23 Januari 2026, sekitar pukul 23.00 WIB.
Kemudian, dirinya memastikan insiden longsor mulai terjadi sekitar keesokan harinya, pada pukul 02.00 WIB.
“Sempat terdengar suara ‘Bum’ itu sekitar jam 11 malam, kemudian kejadiannya jam 2 dinihari,” ungkap sang ibu, sebagaimana dilansir dari akun Instagram @asarhumanity, pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Saat insiden terjadi, sang ibu menceritakan terdapat warga yang sempat menyelamatkan diri, namun ada pula yang rumahnya langsung tertimpa reruntuhan tanah.
“Warga ada yang sempat menyelamatkan diri, ada juga yang tidak,” terangnya.
“Korban yang langsung kejatuhan material tanah tidak sempat selamatkan diri,” tandas sang ibu.
Berkaca dari hal itu, insiden longsor di Bandung Barat tersebut pun telah mendapatkan perhatian khusus dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi: Seharusnya Berisi Pohon, Bukan Kebun Bunga
Melalui unggahan Instagram pribadinya, @dedimulyadi71, pada Sabtu, 24 Januari 2026, Dedi menuturkan dirinya saat meninjau lokasi bencana tersebut.
“Saat ini saya berada di Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat,” terangnya.
Atas kejadian itu, Dedi menduga daerah tersebut seharusnya berisi pepohonan sebagai penopang tanah, bukan beralih fungsi menjadi perkebunan.
“Daerah ini seharusnya berisi pohon penahan tanah dan air, tapi kawasannya diubah menjadi kebun bunga dan sayuran,” sebutnya.
“Kita ingin tidak lagi terjadi alih fungsi sedemikian itu di Jawa Barat,” tukas Dedi.
Hingga berita ini terbit, proses evakuasi di lokasi bencana tersebut masih terus dilakukan oleh petugas gabungan bersama warga setempat.
