Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) kini resmi membuka pintunya di kawasan Pantjoran PIK, Jakarta Utara, menandai sebuah tonggak penting dalam upaya melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya Tionghoa di Nusantara. Kehadiran galeri ini menegaskan komitmen untuk menyajikan sebuah ruang budaya, edukasi, dan kolaborasi yang inklusif, dirancang dengan pendekatan kuratorial yang naratif serta relevan dengan dinamika zaman kini. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga pada revitalisasi cara budaya diserap dan dipahami oleh masyarakat modern, khususnya generasi muda.
sulutnetwork.com – Peresmian GBTI pada Jumat (23/1/2026) merupakan bagian integral dari strategi pengembangan destinasi dan program budaya berkelanjutan di area Pantai Indah Kapuk (PIK) yang diinisiasi oleh Agung Sedayu Group. Galeri ini dirancang secara komprehensif bukan sekadar sebagai ruang pamer artefak sejarah, melainkan sebuah pusat komunitas yang berfungsi merekam jejak, merayakan kontribusi, dan mengartikulasikan perjalanan panjang sejarah serta peran fundamental masyarakat Tionghoa dalam membentuk mozaik keragaman budaya Indonesia. Dengan demikian, GBTI menjadi manifestasi nyata dari visi untuk menciptakan ruang yang dinamis bagi interaksi budaya.
Lebih dari sekadar etalase budaya, GBTI mengusung visi menjadi jembatan penghubung antar generasi, sebuah platform yang memungkinkan dialog terbuka mengenai identitas, sejarah, dan masa depan bangsa. Dengan memadukan unsur edukasi dan hiburan, galeri ini berupaya memecah stereotip museum tradisional yang kerap dianggap kaku dan kurang interaktif, beralih pada pengalaman yang lebih hidup, berwarna, dan berinteraksi. Tujuannya adalah memastikan bahwa warisan budaya Tionghoa Indonesia tidak hanya tersimpan rapi dalam arsip, tetapi juga hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat kontemporer, serta dapat diakses dengan cara yang menyenangkan.
Natalia Kusumo, CEO of Amantara Agung Sedayu Group, dalam pernyataannya menjelaskan pendekatan berbeda yang diusung GBTI dibandingkan museum pada umumnya, khususnya dalam upaya menjangkau generasi muda. "Selama ini, metode yang digunakan museum-museum mungkin cenderung lebih tradisional dan konvensional," ujar Natalia pada kesempatan peresmian. "Namun, di sini kami berupaya untuk berinteraksi lebih erat dengan generasi muda, sehingga kami menghadirkan suasana yang lebih hidup, lebih berwarna, lebih dinamis, dan tentu saja, lebih menyenangkan. Kami percaya bahwa cara ini akan lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan sejarah."
Natalia menambahkan bahwa GBTI juga ditujukan sebagai destinasi budaya yang memiliki daya tarik global, mampu memikat wisatawan dari berbagai penjuru dunia melalui sajian pengalaman yang menyenangkan dan interaktif. "Kami berharap turis dari berbagai negara dapat datang ke sini dan menikmati budaya kami dengan cara yang menyenangkan dan mengasyikkan," jelasnya. "Ini bisa melalui permainan, melalui interaksi langsung, atau melalui berbagai bentuk keterlibatan lain untuk belajar tentang budaya Indonesia secara umum, serta budaya Tionghoa Indonesia secara khusus. Kami ingin pengalaman belajar budaya menjadi sesuatu yang tak terlupakan."
Lebih jauh, Natalia mengungkapkan alasan fundamental di balik pendirian GBTI yang berakar pada kepedulian mendalam terhadap sejarah, identitas, dan masa depan bangsa. "Mengapa kami membentuk GBTI ini? Alasannya sangat sederhana, yaitu karena kami peduli," tuturnya dengan nada penuh semangat. "Kami peduli tentang sejarah kita, kami peduli dengan identitas kita, kami peduli dengan negara kita. Kami ingin cerita-cerita dari sejarah itu tidak dilupakan, dan kami ingin generasi sekarang serta generasi mendatang juga terus belajar tentang sejarah dan budaya kita. Ini adalah investasi jangka panjang untuk bangsa."
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, yang turut hadir dan meresmikan acara tersebut, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap kehadiran GBTI. Menurutnya, galeri ini merupakan ruang edukasi budaya yang disajikan secara inovatif dan relevan dengan tuntutan zaman. "Pertama, saya mengapresiasi pimpinan Agung Sedayu Group dan tentu para budayawan, kurator, serta akademisi yang bersatu padu menampilkan galeri budaya Tionghoa Indonesia ini dengan cara yang memberikan edukasi dan menceritakan sejarah secara inovatif," ungkap Menteri Riefky, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Menteri Riefky melanjutkan bahwa pendekatan imersif yang dihadirkan di GBTI memungkinkan pengunjung untuk merasakan secara langsung perjalanan sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia. Lebih dari itu, pengalaman ini juga memfasilitasi pemahaman mendalam mengenai nilai-nilai kebersamaan dan persatuan yang telah terbangun sejak masa awal kedatangan leluhur Tionghoa di Nusantara. "Di dalam museum ini, kita bisa merasa terinformasi dengan baik, dengan suasana yang nyaman, dilengkapi animasi, foto-foto, bacaan-bacaan, dan yang paling penting adalah experience merasakan suasana ketika leluhur warga Indonesia keturunan Tionghoa baru datang ke Indonesia," jelasnya, menyoroti dimensi emosional dari pameran. "Hal ini sangat menyentuh dan tentu banyak pelajaran yang bisa kita ambil tentang kebersamaan antara warga Tionghoa dengan warga Indonesia sejak dulu."
Ia juga menyoroti bagaimana fasilitas dan teknologi mutakhir yang digunakan di GBTI mampu menjangkau pengunjung dari berbagai spektrum usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga generasi muda. "Fasilitasnya cukup baik, menurut saya ini luar biasa karena suasananya nyaman, ditampilkan dengan teknologi, ada dokumentasi, ada experience yang bisa kita rasakan," imbuh Menteri. "Jadi ini juga cocok sekali tidak hanya untuk orang tua, tetapi anak-anak, remaja, maupun pelajar. Ini bisa menjadi referensi yang sangat baik untuk pembelajaran sejarah dan budaya yang disajikan dengan cara modern dan menarik."
Dengan pendekatan kuratorial yang kontekstual dan dinamis, GBTI secara aktif mengajak setiap pengunjung untuk memahami budaya sebagai sebuah pengalaman hidup yang terus-menerus terbentuk melalui interaksi lintas generasi dan komunitas. Galeri ini juga berfungsi sebagai ruang komunitas yang membuka lebar dialog tentang identitas dan keberagaman, sekaligus menjadi wadah edukasi dan kreativitas. Berbagai program, lokakarya, dan kegiatan interaktif secara rutin diselenggarakan untuk menarik dan melibatkan pengunjung dari segala usia, mulai dari seni pertunjukan, storytelling, hingga diskusi panel.
Di dalam GBTI, pengunjung akan diajak menelusuri tiga zona utama yang dirancang dengan alur narasi yang kuat, yaitu Ruang Kedatangan, Ruang Kesaksian, dan Ruang Keakraban. Masing-masing zona menawarkan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi mengenai perjalanan identitas, pembentukan komunitas, dan penemuan rasa kebersamaan yang mendalam. Narasi yang disajikan merangkai kisah sehari-hari dari berbagai lapisan masyarakat – mulai dari pedagang yang gigih, perajin yang terampil, ibu rumah tangga yang berdedikasi, wirausahawan yang inovatif, hingga tokoh publik yang turut membentuk masyarakat Indonesia yang majemuk dan harmonis.
Setelah menuntaskan penjelajahan di ketiga zona utama, pengunjung akan memasuki Area Pameran Temporer (Temporary Exhibition Area) yang secara berkala menghadirkan pameran bergilir setiap enam bulan. Pameran perdana yang diluncurkan bertajuk "≠/ Tidak Sama Dengan", sebuah judul yang provokatif dan menggugah. Pameran ini secara khusus mengangkat tema keberagaman identitas yang selalu terbuka terhadap hal-hal baru dan perubahan, menantang persepsi konvensional tentang identitas budaya. Karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil kolaborasi seniman ternama dan kontemporer seperti Edita Atmaja, FX Harsono, Meliantha Muliawan, dan Yaya Sung, yang masing-masing merepresentasikan interpretasi unik mereka tentang identitas dalam konteks modern dan relevansinya dengan budaya Tionghoa Indonesia.
Rangkaian acara pembukaan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia berlangsung meriah dan penuh khidmat, diawali dengan Upacara Pembukaan (Opening Ceremony) yang dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari pemerintahan, komunitas budaya, dan sektor swasta. Kemeriahan dilanjutkan dengan pertunjukan Barongsai Cao Cai Cing Pao yang atraktif dan sarat makna, disusul dengan Upacara Pemotongan Pita (Ribbon Cutting Ceremony) sebagai penanda resmi beroperasinya galeri bagi khalayak umum. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama para undangan, serta tur galeri dan pengalaman kuratorial yang dipandu langsung oleh tim ahli GBTI. Seluruh rangkaian kegiatan peresmian diakhiri dengan jamuan makan malam bersama di kawasan Pantjoran PIK, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan akrab antar seluruh partisipan.
Melalui beragam pameran interaktif, pertunjukan seni yang memukau, dan diskusi publik yang mencerahkan, pengunjung diajak untuk tidak hanya memahami sejarah secara pasif, melainkan terlibat aktif dalam menjelajahi kisah komunitas Tionghoa di Nusantara. Mereka dapat merasakan bagaimana tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta kehidupan sehari-hari yang dijalani, telah secara fundamental membentuk keragaman budaya Indonesia yang unik dan kaya. GBTI menjadi sarana vital untuk menumbuhkan apresiasi terhadap warisan budaya ini.
Kehadiran GBTI di Pantjoran PIK juga merupakan wujud nyata dari sinergi dengan kampanye "PIK Berbudaya" yang telah dicanangkan sejak tahun 2025. Inisiatif strategis ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali kekayaan dan keberagaman Nusantara melalui perpaduan harmonis antara sejarah, seni pertunjukan, kuliner autentik, dan kreativitas kontemporer di berbagai destinasi unggulan di PIK. GBTI menjadi salah satu pilar utama dalam upaya revitalisasi dan promosi budaya ini, menegaskan posisi PIK sebagai pusat destinasi budaya yang komprehensif.
Dengan demikian, GBTI diharapkan dapat melengkapi dan memperkaya pengalaman pengunjung Pantjoran PIK, mengubahnya tidak hanya sebagai destinasi kuliner yang digemari, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan budaya yang imersif, relevan, serta terbuka bagi semua kalangan masyarakat. Galeri ini menjadi bukti komitmen terhadap pelestarian warisan budaya dan pembangunan jembatan pemahaman antarbudaya yang kuat, berkontribusi pada penguatan identitas nasional yang majemuk.
Peresmian Galeri Budaya Tionghoa Indonesia turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dan representatif dari berbagai kalangan. Di antaranya adalah perwakilan manajemen Agung Sedayu Group, para akademisi terkemuka, kurator seni dan budaya profesional, serta berbagai komunitas seni dan budaya yang antusias. Turut hadir pula Prof. Dr. Lilawati Kurnia dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang menjabat sebagai Direktur Jakarta Center for Cultural Studies, seniman partisipan GBTI FX Harsono, serta perwakilan dari komunitas Tionghoa Indonesia yang berperan aktif dalam pelestarian budaya mereka, menunjukkan dukungan luas terhadap inisiatif ini.
Melalui inovasi dalam penyajian sejarah dan budaya, GBTI diharapkan dapat menjadi mercusuar inspirasi bagi upaya pelestarian budaya lainnya di Indonesia, sekaligus memperkuat pemahaman tentang identitas kebangsaan yang majemuk dan inklusif untuk generasi masa kini dan mendatang.




