Jakarta – Tim Nasional Vietnam U-23 berhasil menorehkan sejarah baru di kancah sepak bola Asia dengan merebut peringkat ketiga pada ajang Piala Asia U-23 2026. Dalam pertandingan perebutan tempat ketiga yang penuh drama, Golden Star Warriors sukses menundukkan rival kuatnya, Korea Selatan, melalui babak adu penalti dengan skor akhir 7-6 setelah kedua tim bermain imbang 2-2 hingga perpanjangan waktu. Kemenangan ini menandai pencapaian signifikan bagi sepak bola Vietnam, yang menunjukkan peningkatan kualitas dan daya saing di tingkat kontinental.

sulutnetwork.com – Laga krusial yang menentukan posisi ketiga terbaik di turnamen Piala Asia U-23 2026 ini berlangsung sengit di King Abdullah Sports City Hall Stadium, Jeddah, Arab Saudi, pada Jumat, 23 Januari 2026 malam waktu setempat. Pertandingan tersebut mempertemukan dua kekuatan sepak bola Asia yang memiliki tradisi panjang, meskipun dengan latar belakang dan gaya bermain yang berbeda. Vietnam, yang dikenal dengan semangat juang tak kenal lelah dan organisasi tim yang rapi di bawah asuhan pelatih Kim Sang-sik, menghadapi Korea Selatan yang selalu menjadi favorit dengan talenta-talenta muda berbakat dan permainan menyerang yang agresif.

Sebelum mencapai fase perebutan tempat ketiga, perjalanan kedua tim di Piala Asia U-23 2026 penuh dengan liku-liku. Vietnam, yang tergabung dalam grup D, menunjukkan performa impresif di babak penyisihan grup, berhasil lolos sebagai juara grup setelah mengalahkan Uzbekistan, Kuwait, dan Tajikistan. Di perempat final, mereka secara mengejutkan menyingkirkan tim kuat Iran dengan skor tipis 1-0, menunjukkan kematangan taktik dan pertahanan yang kokoh. Namun, langkah mereka terhenti di semifinal setelah kalah dramatis dari Jepang dengan skor 2-1, sebuah pertandingan yang juga berlangsung ketat hingga menit-menit akhir. Kekalahan tersebut menyisakan tekad kuat bagi Nguyen Quoc Viet dkk. untuk tidak pulang dengan tangan hampa, melainkan membawa pulang medali perunggu.

Di sisi lain, Korea Selatan, yang merupakan salah satu raksasa sepak bola Asia, juga memiliki perjalanan yang tak kalah menarik. Mereka berhasil melaju dari grup B sebagai runner-up di bawah China, setelah bersaing ketat dengan Thailand dan Yordania. Di babak delapan besar, Taeguk Warriors menunjukkan dominasinya dengan menyingkirkan Arab Saudi, tuan rumah sekaligus juara bertahan edisi sebelumnya, melalui kemenangan meyakinkan 2-0. Namun, harapan mereka untuk mencapai final pupus setelah di semifinal harus mengakui keunggulan China, yang tampil perkasa dan mengalahkan mereka 3-1. Kekalahan ini menjadi motivasi tambahan bagi Korea Selatan untuk setidaknya mengamankan posisi ketiga dan mempertahankan reputasi mereka sebagai salah satu kekuatan utama di Asia.

Peluit tanda dimulainya babak pertama dibunyikan, dan kedua tim langsung menunjukkan intensitas tinggi. Korea Selatan, dengan dominasi penguasaan bola yang menjadi ciri khasnya, mencoba membangun serangan dari lini tengah. Beberapa peluang tercipta melalui pergerakan cepat para penyerang sayap, namun pertahanan Vietnam yang solid dan terorganisir dengan baik mampu meredam setiap ancaman. Kiper Vietnam, Quan Van Chuan, juga tampil sigap dalam mengantisipasi tendangan jarak jauh maupun umpan-umpan silang berbahaya. Vietnam sendiri tidak tinggal diam, mereka sesekali melancarkan serangan balik cepat yang mengandalkan kecepatan Nguyen Quoc Viet dan Nguyen Dinh Bac.

Terus menekan, Vietnam akhirnya berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-31. Gol pembuka ini lahir dari skema serangan balik cepat yang sangat efektif. Berawal dari perebutan bola di lini tengah yang dimenangkan oleh gelandang Vietnam, bola langsung diumpan terobosan kepada Nguyen Quoc Viet yang bergerak tanpa kawalan. Dengan kecepatan dan ketenangannya, Nguyen Quoc Viet berhasil melewati satu pemain belakang Korea Selatan dan melepaskan tendangan mendatar yang terarah ke pojok gawang, tak mampu dijangkau kiper lawan. Papan skor berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan Vietnam. Gol ini sontak membakar semangat para pemain Vietnam dan memicu kegembiraan di bangku cadangan. Keunggulan tipis 1-0 ini bertahan hingga wasit meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama, memberikan keuntungan moral bagi Golden Star Warriors.

Memasuki babak kedua, Korea Selatan yang tertinggal satu gol meningkatkan tempo permainan dan melancarkan tekanan bertubi-tubi ke pertahanan Vietnam. Pelatih Korea Selatan melakukan beberapa perubahan taktik dan pergantian pemain untuk menambah daya gedor. Upaya mereka akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-69. Gol penyama kedudukan menjadi 1-1 dicetak oleh Kim Tae-won. Berawal dari sepak pojok yang dieksekusi dengan baik, bola melambung tinggi ke kotak penalti dan Kim Tae-won berhasil memenangkan duel udara, menyundul bola masuk ke gawang Vietnam tanpa bisa dihalau. Gol ini membangkitkan harapan Korea Selatan untuk membalikkan keadaan.

Namun, kegembiraan Korea Selatan tidak berlangsung lama. Hanya dua menit berselang, tepatnya pada menit ke-71, Vietnam kembali unggul. Sebuah pelanggaran di luar kotak penalti yang dilakukan oleh pemain Korea Selatan terhadap penyerang Vietnam menghasilkan tendangan bebas di posisi strategis. Kapten tim, Nguyen Dinh Bac, maju sebagai eksekutor. Dengan teknik yang mumpuni, Dinh Bac melepaskan tendangan melengkung yang melewati pagar betis pemain lawan dan bersarang mulus di sudut atas gawang Korea Selatan. Kiper lawan hanya bisa terpana melihat bola masuk. Skor kembali berubah menjadi 2-1 untuk keunggulan Vietnam, mengembalikan momentum positif bagi tim asuhan Kim Sang-sik.

Drama belum berakhir. Pertandingan semakin memanas dan ketegangan terasa di setiap sudut lapangan. Pada menit ke-86, Vietnam harus menerima pukulan telak ketika kapten sekaligus pencetak gol kedua mereka, Nguyen Dinh Bac, diganjar kartu merah langsung oleh wasit. Insiden tersebut terjadi setelah Dinh Bac melakukan tekel keras dan berbahaya terhadap pemain lawan di area tengah lapangan. Keputusan wasit, meskipun sempat diprotes, tetap tidak berubah. Bermain dengan 10 orang di sisa waktu normal dan kemungkinan perpanjangan waktu, tentu menjadi tantangan berat bagi Vietnam. Mereka dipaksa bermain lebih bertahan dan mengandalkan disiplin tinggi untuk menjaga keunggulan.

Korea Selatan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dengan maksimal. Mereka terus menggempur pertahanan Vietnam yang kini harus bekerja ekstra keras. Tekanan tanpa henti akhirnya membuahkan hasil di masa injury time. Pada menit ketujuh masa tambahan waktu (90+7), Shin Min-ha berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Gol ini tercipta dari kemelut di depan gawang Vietnam setelah beberapa kali percobaan serangan yang berhasil diblok. Dengan memanfaatkan celah di pertahanan yang mulai kelelahan, Shin Min-ha dengan tenang menyambar bola dan mencetak gol penyeimbang yang krusial. Gol dramatis ini memastikan pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan waktu 2×15 menit.

Di babak perpanjangan waktu, kedua tim menunjukkan determinasi luar biasa. Vietnam, dengan sepuluh pemain, memilih untuk bermain lebih rapat di lini belakang, sesekali melancarkan serangan balik jika ada kesempatan. Mereka tampak fokus untuk menjaga agar gawang tidak kebobolan lagi dan memaksa pertandingan ke babak adu penalti. Sementara itu, Korea Selatan terus mencoba membongkar pertahanan rapat Vietnam, namun upaya mereka selalu kandas di hadapan disiplin dan semangat juang para pemain Vietnam. Beberapa peluang tercipta, namun tidak ada yang berhasil dikonversi menjadi gol. Hingga peluit panjang babak perpanjangan waktu ditiup, skor tetap tidak berubah, 2-2. Pemenang perebutan tempat ketiga Piala Asia U-23 2026 harus ditentukan melalui adu penalti yang mendebarkan.

Sesi adu penalti dimulai dengan atmosfer yang sangat tegang. Para pemain dari kedua tim, pelatih, dan para suporter menantikan setiap tendangan dengan napas tertahan. Lima eksekutor pertama dari masing-masing tim silih berganti mengambil tendangan. Kedua kiper tampil gemilang dengan beberapa penyelamatan krusial, dan para penendang juga menunjukkan mental baja. Setelah lima penendang pertama dari kedua tim menyelesaikan tugasnya, skor masih imbang 5-5. Ini berarti adu penalti harus dilanjutkan ke babak sudden death, di mana setiap kegagalan akan langsung berakibat fatal.

Ketegangan semakin memuncak ketika adu penalti memasuki penendang keenam dan ketujuh. Pada akhirnya, Vietnam berhasil memastikan kemenangan dramatis mereka di penendang ketujuh. Setelah penendang keenam dari kedua tim sukses menjalankan tugasnya, giliran penendang ketujuh Vietnam, Le Van Do, dengan tenang menuntaskan tendangannya ke sudut gawang yang tak terjangkau kiper Korea Selatan. Kemudian, penendang ketujuh Korea Selatan, Lee Young-jun, gagal menunaikan tugasnya setelah tendangannya berhasil ditepis oleh kiper Quan Van Chuan, yang sebelumnya juga berhasil memblok tendangan penalti dari Kim Jun-ho. Sorak sorai kegembiraan langsung meledak dari kubu Vietnam. Dengan skor akhir 7-6 di adu penalti, Vietnam berhasil mengamankan peringkat ketiga Piala Asia U-23 2026.

Kemenangan ini merupakan pencapaian bersejarah bagi sepak bola Vietnam, menegaskan posisi mereka sebagai salah satu kekuatan yang patut diperhitungkan di kancah Asia. Medali perunggu ini menjadi bukti kerja keras, dedikasi, dan strategi yang matang dari tim asuhan Kim Sang-sik. Sementara itu, bagi Korea Selatan, hasil ini tentu menjadi kekecewaan, meskipun mereka telah menunjukkan semangat juang yang luar biasa sepanjang turnamen.

Setelah drama perebutan tempat ketiga, sorotan berikutnya akan tertuju pada laga puncak final Piala Asia U-23 2026. Pertandingan final mempertemukan dua tim yang juga tampil impresif sepanjang turnamen, yaitu China dan Jepang. Duel final ini dijadwalkan akan bergulir di Prince Abdullah Al-Faisal Sports City Stadium, pada Sabtu, 24 Januari 2026 malam waktu WIB. Kedua tim akan memperebutkan gelar juara dan kehormatan tertinggi di kompetisi usia muda paling bergengsi di Asia ini, menjanjikan tontonan yang tak kalah seru dan menarik bagi para penggemar sepak bola.