Sulutnetwork.com – Influencer Ferry Irwandi kembali menjadi perbincangan publik setelah rangkaian aksi kemanusiaannya bagi korban bencana alam di sejumlah wilayah Sumatera menuai apresiasi luas. Sosok yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial ini sebelumnya menyalurkan bantuan donasi dengan total nilai mencapai Rp10 miliar untuk para korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.
Ferry menyebut gerakan yang ia lakukan sebagai bentuk kepedulian “warga bantu warga”, sebuah inisiatif yang lahir murni dari dorongan untuk saling menolong sesama anak bangsa. Aksi tersebut pun menginspirasi banyak pihak, terutama para pengikutnya yang menyimak langsung perjalanan kemanusiaan Ferry selama berada di Sumatera pada Desember 2025 lalu.
Memasuki awal tahun 2026, Ferry kembali menyampaikan refleksi yang dinilainya tak kalah penting untuk menjadi perhatian bersama, yakni mengenai makna pendidikan dan peran masyarakat terdidik dalam kehidupan sosial.
Menurut Ferry, pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membentuk posisi serta peran seseorang di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa menjadi individu terdidik tidak boleh berhenti sebagai pencapaian personal semata.
“Menjadi masyarakat terdidik bukan hanya soal prestasi individu, tetapi merupakan amanah sosial yang membawa tanggung jawab intelektual,” ujar Ferry melalui unggahan di akun Instagram @irwandiferry, Sabtu (3/1/2026).
Ilmu Harus Memberi Dampak Nyata
Dalam pandangannya, Ferry menilai bahwa masyarakat terdidik memiliki kewajiban moral untuk memastikan ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat konkret bagi lingkungan sekitar. Pengetahuan, kata dia, tidak seharusnya berhenti pada pengakuan atau kebanggaan pribadi.
“Nilai tertinggi dari pengetahuan adalah ketika ia mampu menjawab persoalan sosial, meningkatkan kualitas hidup, serta membuka jalan menuju keadilan,” ungkapnya.
Di tengah kondisi masyarakat yang majemuk dan masih diwarnai ketimpangan, Ferry menegaskan bahwa kelompok terdidik memiliki tanggung jawab besar untuk memperluas akses pemahaman.
“Pendidikan seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok pemisah. Mereka yang memiliki akses lebih terhadap ilmu dituntut untuk berbagi, menerjemahkan, dan menyederhanakan agar pengetahuan menjadi milik bersama, bukan alat eksklusivitas,” lanjutnya.
Peran Kritis di Ruang Publik
Lebih jauh, Ferry juga menyoroti peran strategis kaum terdidik dalam menjaga kualitas ruang publik. Dengan kemampuan berpikir kritis, mereka diharapkan mampu merespons dinamika sosial secara jernih dan bertanggung jawab.
“Masyarakat terdidik seharusnya hadir untuk meluruskan disinformasi, meredam ketegangan, serta mendorong dialog yang rasional, beradab, dan berbasis fakta,” jelas Ferry.
Dalam situasi sosial yang semakin kompleks, ia menilai suara kelompok terdidik semestinya menjadi sumber kejernihan, bukan justru memperkeruh keadaan.
Pada akhirnya, Ferry menegaskan bahwa pendidikan harus berjalan seiring dengan integritas. Tanggung jawab kaum terdidik tidak hanya terletak pada kecakapan berpikir, tetapi juga pada keteladanan sikap, kejujuran intelektual, serta keberpihakan pada kepentingan publik.
“Kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari banyaknya orang terdidik, melainkan dari sejauh mana mereka bersedia memikul tanggung jawab sosialnya,” tegasnya.
Menurut Ferry, pendidikan akan menemukan makna sejatinya ketika digunakan untuk membangun masyarakat yang lebih adil, beradab, dan bermartabat.
