Site icon Sulut Network

Sensasi Como: Klub Milik Pengusaha Indonesia Lolos Liga Champions 2025-2026 dengan Anggaran Gaji Minimal, Kalahkan Milan dan Juventus

Klub sepak bola Italia, Como 1907, telah menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Serie A dengan memastikan tiket ke Liga Champions musim 2025-2026. Pencapaian monumental ini diraih pada pekan terakhir kompetisi, di mana Como yang baru promosi musim sebelumnya, berhasil mengungguli dua raksasa Italia, AC Milan dan Juventus, dalam perebutan posisi empat besar. Kesuksesan ini menjadi lebih istimewa mengingat Como berhasil melakukannya dengan struktur gaji pemain yang relatif minim, menyoroti efisiensi manajemen dan strategi klub di bawah kepemilikan pengusaha asal Indonesia, Hartono bersaudara.

sulutnetwork.com – Drama perebutan tiket Liga Champions di Serie A musim 2025-2026 mencapai puncaknya pada giornata terakhir, dengan Como 1907 muncul sebagai kuda hitam yang tak terduga. Kemenangan telak 4-1 atas Cremonese di pertandingan penutup menjadi kunci keberhasilan mereka, sekaligus memanfaatkan hasil buruk yang menimpa rival-rivalnya. Di sisi lain, AC Milan harus menelan pil pahit kekalahan 1-2 dari Cagliari, sementara Juventus yang sudah goyah sejak pekan sebelumnya setelah ditaklukkan Fiorentina 0-2, kembali gagal meraih poin penuh dengan hasil imbang 2-2 melawan Torino, memupuskan harapan mereka untuk berkompetisi di kasta tertinggi Eropa musim depan. Hasil-hasil ini menempatkan Como di posisi keempat klasemen akhir Serie A dengan 71 poin, satu poin di atas AC Milan dan dua poin di atas Juventus, menandai kelolosan pertama Como ke kompetisi Eropa dalam sejarah panjang klub tersebut.

Perjalanan Como menuju kasta tertinggi sepak bola Eropa ini merupakan kisah yang inspiratif dan penuh liku. Didirikan pada tahun 1907, Como memiliki sejarah yang panjang namun juga diwarnai dengan berbagai kesulitan finansial dan kebangkrutan yang berulang kali menjatuhkan mereka ke divisi bawah liga Italia. Klub yang bermarkas di kota indah tepi Danau Como ini pernah merasakan masa kejayaan singkat di Serie A pada tahun 1980-an, namun setelah itu lebih sering berkutat di Serie B, Serie C, bahkan hingga Serie D. Kondisi klub yang sering tidak stabil ini menarik perhatian pengusaha Indonesia, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, melalui perusahaan mereka, Djarum Group. Pada tahun 2019, mereka mengakuisisi Como 1907 dengan visi jangka panjang untuk membangun klub yang berkelanjutan, tidak hanya dari sisi prestasi tetapi juga keterlibatan komunitas dan pengembangan infrastruktur.

Di bawah kepemilikan baru, Como memulai era kebangkitan. Investasi strategis dilakukan pada manajemen, fasilitas pelatihan, dan pengembangan pemain. Salah satu langkah paling signifikan adalah mendatangkan mantan gelandang bintang Barcelona dan Arsenal, Cesc Fabregas, sebagai pemain pada tahun 2022. Fabregas tidak hanya menjadi ikon di lapangan, tetapi juga secara bertahap mengambil peran dalam struktur kepelatihan dan manajemen. Setelah pensiun sebagai pemain, ia langsung didapuk menjadi pelatih kepala. Pengalaman dan visi sepak bolanya yang modern terbukti menjadi katalisator bagi performa tim. Fabregas dikenal dengan filosofi permainan menyerang, penguasaan bola, dan pengembangan pemain muda, yang berhasil ia tanamkan dalam skuad Como.

Perjalanan Como dari divisi bawah menuju Serie A adalah bukti nyata dari keberhasilan manajemen baru dan Fabregas. Mereka promosi dari Serie C ke Serie B pada musim 2020-2021, dan kemudian secara mengejutkan berhasil mengamankan tiket promosi ke Serie A pada akhir musim 2024-2025. Sebagai tim promosi, ekspektasi di awal musim 2025-2026 tentu saja adalah bertahan di Serie A. Namun, di bawah arahan Fabregas, Como menunjukkan performa yang konsisten dan melebihi perkiraan, secara bertahap membangun momentum dan kepercayaan diri untuk bersaing di papan atas.

Musim Serie A 2025-2026 menjadi sangat kompetitif, terutama dalam perebutan empat besar untuk tiket Liga Champions. Menjelang beberapa pekan terakhir, persaingan semakin memanas melibatkan Como, AC Milan, Juventus, dan beberapa tim lain yang juga berjuang untuk posisi Eropa. Pada pekan-pekan krusial tersebut, Como menunjukkan ketahanan mental yang luar biasa. Mereka berhasil meraih poin-poin penting, sementara rival-rivalnya justru tersandung. Juventus, yang secara tradisional merupakan kekuatan dominan di Serie A, mengalami penurunan performa drastis di penghujung musim. Kekalahan 0-2 dari Fiorentina pada pekan sebelum terakhir menjadi pukulan telak yang membuat posisi mereka goyah.

Puncak drama terjadi pada giornata terakhir. Sebelum pertandingan dimulai, Como berada dalam posisi yang mengharuskan mereka memenangkan pertandingan dan berharap hasil positif dari pertandingan lain. Di kandang sendiri, Stadio Giuseppe Sinigaglia, Como tampil dominan melawan Cremonese, yang pada akhirnya mereka taklukkan dengan skor meyakinkan 4-1. Kemenangan ini memicu euforia di kalangan para pendukung, namun mereka masih harus menunggu hasil dari pertandingan lain. Harapan Como terwujud ketika berita kekalahan AC Milan 1-2 dari Cagliari tiba. Kekalahan tak terduga bagi Rossoneri tersebut secara langsung membuka jalan bagi Como untuk melompat ke posisi keempat. Sementara itu, Juventus yang berharap bisa memanfaatkan situasi, justru hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Torino, memastikan bahwa mereka tidak akan bisa mengejar ketertinggalan poin dan harus puas bermain di Liga Europa musim depan.

Pencapaian Como ini menjadi semakin menarik jika menilik aspek finansial. Sky Sport Italia melaporkan bahwa Como berhasil meraih tiket Liga Champions dengan ongkos gaji pemain yang relatif minim, hanya sekitar 47 juta Euro. Angka ini menempatkan mereka di urutan ke-11 dalam daftar besaran gaji klub Serie A. Perbandingan ini sangat mencolok jika dibandingkan dengan klub-klub raksasa yang mereka kalahkan. Inter Milan, juara Serie A musim tersebut, memiliki beban gaji mencapai 139 juta Euro. AC Milan, yang disalip Como di pekan terakhir, memiliki biaya gaji tim sebesar 100 juta Euro. Bahkan Juventus, yang finis di bawah Como dan Milan, memiliki beban gaji yang lebih besar lagi, yakni 129 juta Euro. Napoli dan Roma juga memiliki daftar gaji di atas 100 juta Euro, namun performa mereka tidak selalu sebanding dengan investasi tersebut.

Berikut adalah daftar besaran gaji pemain klub Serie A yang menunjukkan efisiensi Como:

  1. Inter: 139 juta Euro
  2. Juventus: 129 juta Euro
  3. Roma: 114 juta Euro
  4. Napoli: 109 juta Euro
  5. Milan: 100 juta Euro
  6. Lazio: 75 juta Euro
  7. Fiorentina: 65 juta Euro
  8. Atalanta: 59 juta Euro
  9. Torino: 52 juta Euro
  10. Bologna: 48 juta Euro
  11. Como: 47 juta Euro
  12. Sassuolo: 41 juta Euro
  13. Cremonese: 33 juta Euro
  14. Genoa: 31 juta Euro
  15. Cagliari: 29 juta Euro
  16. Verona: 29 juta Euro
  17. Udinese: 24 juta Euro
  18. Parma: 23 juta Euro
  19. Pisa: 21 juta Euro
  20. Lecce: 19 juta Euro

Perbedaan yang signifikan dalam anggaran gaji ini menggarisbawahi filosofi manajemen Como yang cerdas dan strategis. Daripada menghamburkan uang untuk pemain bintang dengan gaji selangit, mereka fokus pada perekrutan pemain yang sesuai dengan sistem Fabregas, pengembangan bakat muda, dan menciptakan tim yang solid dengan etos kerja tinggi. Keberhasilan ini mengirimkan pesan kuat bahwa uang bukan satu-satunya penentu kesuksesan dalam sepak bola modern. Kekompakan tim, taktik yang efektif, kepemimpinan yang kuat dari pelatih, dan dukungan manajemen yang visioner dapat mengatasi perbedaan finansial yang besar.

Bagi Como, kelolosan ke Liga Champions adalah sebuah anugerah. Kompetisi paling bergengsi di Eropa ini akan membawa peningkatan pendapatan yang signifikan melalui hak siar, sponsor, dan penjualan tiket. Ini akan memberikan Como sumber daya untuk memperkuat skuad, meningkatkan fasilitas, dan secara keseluruhan mengangkat profil klub di kancah internasional. Kota Como, yang sudah terkenal dengan keindahan alamnya, kini akan mendapatkan sorotan global yang lebih besar melalui sepak bola.

Bagi sepak bola Italia, kisah Como adalah angin segar. Ini menunjukkan bahwa dominasi klub-klub tradisional dapat ditantang, dan cerita-cerita "underdog" masih mungkin terjadi. Ini bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub kecil lainnya untuk bermimpi lebih tinggi dan menerapkan strategi manajemen yang lebih efisien. Tantangan bagi Como di Liga Champions tentu tidak akan mudah. Mereka akan berhadapan dengan raksasa-raksasa Eropa. Namun, pengalaman ini akan menjadi pembelajaran yang tak ternilai dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka di panggung terbesar.

Di balik kesuksesan Como, ada peran besar dari Hartono bersaudara sebagai pemilik. Akuisisi mereka pada tahun 2019 bukan hanya sekadar investasi finansial, melainkan juga komitmen jangka panjang terhadap pengembangan klub dan komunitas. Mereka tidak hanya memberikan suntikan dana, tetapi juga membawa visi bisnis yang terstruktur dan profesionalisme. Kesuksesan Como di Liga Champions ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, menunjukkan bagaimana investasi dari Tanah Air dapat membawa sebuah klub Eropa menuju puncak kejayaan. Ini adalah bukti bahwa dengan strategi yang tepat dan kepemimpinan yang kuat, sebuah klub dapat mencapai prestasi luar biasa, bahkan dengan anggaran yang lebih terbatas dibandingkan para pesaingnya. Como 1907 telah menulis babak baru dalam sejarah sepak bola Italia, sebuah kisah tentang ketekunan, strategi, dan keberanian untuk bermimpi besar.

Exit mobile version