Seattle, Washington – Harapan besar akan lonjakan pariwisata signifikan menjelang Piala Dunia FIFA 2026 di Seattle, Amerika Serikat, tampaknya belum terwujud sepenuhnya. Meskipun jutaan tiket pertandingan telah terjual secara global, data terbaru menunjukkan bahwa tingkat pemesanan hotel di kota tuan rumah tersebut masih jauh di bawah perkiraan awal, bahkan cenderung mengalami pembatalan dari pemesanan yang telah ada. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri pariwisata dan perhotelan lokal, yang telah berinvestasi besar untuk menyambut ajang olahraga terbesar di dunia ini.

sulutnetwork.com – Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya pernah menggambarkan turnamen akbar ini akan terasa seperti ‘104 Super Bowl’ yang berlangsung serentak di tiga negara. Namun, menjelang kick-off pada Juni mendatang, dengan tanggal 15 Mei 2026 sebagai titik acuan laporan, dampak yang diharapkan oleh pelaku industri pariwisata dan perhotelan di Seattle belum terasa secara substansial. Seattle dijadwalkan menjadi tuan rumah bagi enam pertandingan Piala Dunia 2026, yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sepanjang bulan Juni dan Juli. Ajang ini diharapkan menjadi katalisator ekonomi yang masif, namun realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak terduga.

Dikutip dari Washington State Standard pada Jumat, 15 Mei 2026, berdasarkan laporan komprehensif dari American Hotel and Lodging Association (AHLA), pola wisatawan menunjukkan dominasi perjalanan domestik. Kunjungan dari wisatawan mancanegara, yang merupakan segmen kunci untuk lonjakan pendapatan, masih minim dan belum menunjukkan angka signifikan. Survei internal AHLA mengungkapkan bahwa hampir 80% pelaku di industri hotel di Seattle melaporkan tingkat pemesanan mereka masih di bawah ekspektasi. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan tingkat hunian rata-rata pada musim panas biasa, periode yang secara tradisional selalu menjadi puncak kunjungan wisatawan ke Seattle.

Anthony Anton, Presiden Washington Hospitality Association, mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi ini. "Industri ini sedang sulit dan memang sudah lama sulit. Situasi pasca-pandemi, inflasi yang tinggi, dan tantangan tenaga kerja telah memberikan tekanan berkelanjutan," ujarnya. Anton menambahkan, "Jadi, musim panas yang bagus tentu tetap disambut baik. Dan jika hasilnya bisa lebih baik dari musim panas biasa, itu akan menjadi berkah yang sangat dibutuhkan." Komentar Anton mencerminkan harapan yang tetap tinggi namun dibarengi dengan realisme pahit mengenai kondisi pasar saat ini. Para pengusaha perhotelan telah berjuang keras untuk bangkit dari dampak pandemi COVID-19, dan Piala Dunia dianggap sebagai kesempatan emas untuk pemulihan dan pertumbuhan.

Meskipun tingkat pemesanan hotel belum mencapai puncaknya, biro pariwisata Seattle dan King County masih mempertahankan proyeksi optimistis mereka. Mereka memperkirakan Piala Dunia 2026 ini dapat memberikan dampak ekonomi hingga 845 juta USD (sekitar Rp 13,52 triliun) bagi wilayah tersebut. Angka ini mencakup berbagai aspek pengeluaran, mulai dari akomodasi, makanan dan minuman, transportasi lokal, belanja suvenir, hingga biaya operasional pertandingan. Proyeksi ini mengasumsikan adanya lonjakan masif dalam pengeluaran konsumen dan investasi yang terkait dengan turnamen.

Namun, Michael Stathokostopoulos, seorang analis terkemuka dari CoStar Group, sebuah perusahaan riset pasar properti dan data perhotelan global, memberikan pandangan yang lebih nuansa. Ia menilai bahwa ekspektasi terhadap dampak ekonomi Piala Dunia 2026 sempat terlalu tinggi di awal. "Jelas ini akan menjadi acara positif bagi AS," ungkapnya, menegaskan bahwa turnamen sebesar Piala Dunia pasti akan membawa keuntungan. Namun, ia melanjutkan, "Saya rasa awalnya dampaknya sedikit terlalu dibesar-besarkan, dan sekarang mungkin malah sedikit diremehkan." Pernyataan Stathokostopoulos menyoroti adanya volatilitas dalam persepsi dan proyeksi, di mana euforia awal bisa melampaui realitas dan kemudian bergeser menjadi pandangan yang terlalu pesimis. Fenomena ini sering terjadi pada mega-event, di mana ekspektasi publik dan industri sering kali berfluktuasi.

Salah satu faktor yang mungkin berkontribusi terhadap rendahnya pemesanan hotel saat ini adalah perilaku pemesanan yang cenderung mendadak dari penggemar sepak bola internasional. Banyak suporter dari luar negeri sering kali menunda pemesanan akomodasi hingga tim favorit mereka berhasil melaju ke babak selanjutnya, atau hingga jadwal pertandingan dan lokasi tim mereka lebih pasti. Hal ini memungkinkan adanya gelombang pemesanan mendekati hari pertandingan, terutama untuk laga-laga krusial. Selain itu, faktor biaya perjalanan internasional yang semakin tinggi, fluktuasi nilai tukar mata uang, dan pilihan akomodasi alternatif seperti Airbnb juga dapat memengaruhi keputusan wisatawan untuk menunda atau memilih opsi lain.

Seattle juga menaruh harapan besar pada laga-laga fase gugur yang akan berlangsung pada bulan Juli. Pertandingan-pertandingan ini diperkirakan dapat menarik lebih banyak suporter dari negara-negara besar dengan basis penggemar sepak bola yang militan, seperti Inggris, Prancis, Argentina, Brasil, dan Jerman. Kehadiran suporter dari negara-negara ini biasanya akan diikuti dengan pengeluaran yang lebih besar dan durasi tinggal yang lebih lama, terutama jika tim mereka melaju jauh dalam turnamen. Laga-laga eliminasi ini sering kali menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman sepak bola yang intens dan tak terlupakan.

Lebih dari sekadar dampak ekonomi jangka pendek, para pemimpin pariwisata Seattle juga melihat Piala Dunia sebagai platform untuk promosi jangka panjang. Jennifer Casillas, Wakil Presiden Downtown Seattle Association, menjelaskan visi tersebut. "Kami ingin menunjukkan alasan lain untuk datang ke sini dan kembali lagi setelah Piala Dunia," jelasnya. Ini mencakup upaya untuk menonjolkan keindahan alam Pacific Northwest, inovasi teknologi yang berkembang pesat di Seattle, kekayaan budaya, serta daya tarik kuliner dan hiburan yang ditawarkan kota tersebut. Tujuannya adalah untuk mengubah kunjungan singkat selama Piala Dunia menjadi minat berkelanjutan yang mendorong kunjungan berulang di masa depan, membangun warisan positif dari turnamen ini.

Untuk mengantisipasi lonjakan pemesanan di menit-menit terakhir dan memaksimalkan potensi turnamen, hotel-hotel di Seattle dan biro pariwisata lokal telah merancang berbagai strategi. Ini termasuk penawaran paket khusus, diskon untuk menginap lebih lama, serta kemitraan dengan maskapai penerbangan dan penyedia layanan tur. Peningkatan kampanye pemasaran digital yang menargetkan pasar internasional tertentu juga sedang digalakkan. Selain itu, kota Seattle juga telah melakukan investasi signifikan dalam infrastruktur, termasuk peningkatan transportasi publik dan fasilitas umum, untuk memastikan pengalaman yang mulus bagi para pengunjung.

Meskipun tantangan tetap ada, optimisme di kalangan pelaku industri perhotelan dan pariwisata Seattle tidak sepenuhnya pudar. Mereka berharap bahwa daya tarik Piala Dunia, dikombinasikan dengan pesona kota Seattle, akan pada akhirnya menarik gelombang pengunjung yang sesuai dengan ekspektasi awal, meskipun mungkin dengan pola pemesanan yang berbeda dari yang diperkirakan. Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang pertandingan sepak bola, tetapi juga tentang kemampuan sebuah kota untuk menampilkan dirinya di panggung global dan menciptakan dampak ekonomi serta citra positif yang berkelanjutan. Realitas saat ini mungkin belum sesuai harapan, tetapi jendela kesempatan masih terbuka lebar hingga peluit akhir ditiupkan.