Site icon Sulut Network

Perjalanan Thudong 58 Biksu Internasional dari Bali ke Borobudur: Antara Keteguhan Spiritual dan Realitas Waktu di Klaten

Puluhan biksu yang tengah menunaikan ritual thudong, perjalanan spiritual berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur, menghadapi dinamika tak terduga setibanya di Klaten, Jawa Tengah, pada Senin, 26 Mei lalu. Sebanyak 58 biksu dari berbagai negara di Asia Tenggara, setelah menempuh perjalanan hampir 400 kilometer, terpaksa mengakhiri etape berjalan kaki mereka di Klaten lebih cepat dari dugaan, beralih menggunakan bus untuk melanjutkan perjalanan penting menuju Yogyakarta. Keputusan ini diambil demi memenuhi jadwal pertemuan dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Bangsal Kepatihan Keraton Yogyakarta yang telah ditetapkan pada pukul 15.00 WIB, sebuah realitas yang menuntut penyesuaian dari disiplin thudong yang ketat.

sulutnetwork.com – Ritual thudong, sebuah praktik kuno dalam tradisi Buddhisme Theravada, bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah ziarah spiritual yang mendalam. Para biksu yang melaksanakannya bertekad untuk hidup dalam kesederhanaan ekstrem, mengandalkan sedekah dari umat, bermeditasi di alam terbuka, dan menempuh jarak ribuan kilometer dengan berjalan kaki tanpa alas kaki atau hanya dengan sandal seadanya. Tujuan utama thudong adalah untuk mengembangkan konsentrasi, ketekunan, kesabaran, dan mempraktikkan pelepasan diri dari segala bentuk keterikatan duniawi, serta untuk menyebarkan ajaran Buddha secara langsung kepada masyarakat yang mereka lewati. Perjalanan ini juga menjadi kesempatan bagi para biksu untuk mendalami Dhamma, ajaran Buddha, melalui pengalaman langsung dan interaksi dengan berbagai komunitas, menjadikannya sebuah bentuk meditasi berjalan yang menantang baik fisik maupun mental.

Perjalanan 58 biksu ini dimulai dari Singaraja, Bali, sebuah titik awal yang sarat makna sejarah dan budaya. Selama berhari-hari, mereka telah melintasi berbagai lanskap, mulai dari pesisir pantai hingga pegunungan, dari perkampungan terpencil hingga kota-kota padat penduduk di sepanjang Pulau Jawa. Setiap langkah yang mereka ayunkan adalah manifestasi dari keteguhan iman dan dedikasi spiritual. Rute yang mereka lalui tidak hanya menuntut ketahanan fisik yang luar biasa, tetapi juga kesiapan mental untuk menghadapi berbagai kondisi cuaca, medan yang bervariasi, serta interaksi dengan masyarakat yang beragam. Proses ini, yang telah menempuh hampir 400 kilometer, menjadi ujian sekaligus penguatan bagi para biksu dalam menjalani praktik Dhamma secara konkret. Mereka mengandalkan dana dari umat, yang seringkali diberikan dalam bentuk makanan atau kebutuhan pokok lainnya, sebagai bagian integral dari ritual thudong yang mengajarkan kerendahan hati dan ketergantungan pada kebaikan sesama.

Setibanya di Klaten, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang dikenal dengan toleransi dan keindahan alamnya, rombongan biksu disambut hangat oleh umat Buddha setempat dan masyarakat luas. Pagi hari itu, sekitar pukul 07.30 WIB, mereka melakukan Pindapata, sebuah ritual mengumpulkan dana makanan dari umat, di sekitar Wihara Bodhivasma, Jalan Mayor Kusmanto. Pindapata adalah momen sakral di mana para biksu berjalan tanpa alas kaki dengan mangkuk sedekah mereka, menerima persembahan makanan dari umat. Ritual ini bukan hanya tentang pengumpulan makanan, tetapi juga tentang memberikan kesempatan kepada umat untuk berbuat kebajikan dan menjalin hubungan spiritual dengan para sangha. Suasana haru dan khidmat menyelimuti jalanan Klaten saat umat dengan penuh hormat mempersembahkan makanan kepada para biksu, sebuah pemandangan yang menunjukkan eratnya ikatan antara komunitas Buddhis dan tradisi luhur mereka. Setelah Pindapata, para biksu beristirahat sejenak di Wihara Bodhivasma, mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.

Puncak kegiatan di Klaten adalah acara pelepasan para biksu yang dilakukan oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, sekitar pukul 09.00 WIB. Bupati Hamenang, mewakili seluruh masyarakat Klaten, menyampaikan sambutan hangat dan apresiasi atas kunjungan spiritual ini. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kegiatan semacam ini sebagai simbol persatuan dan toleransi di tengah keberagaman. "Dengan kegiatan jalan yang mungkin dianggap sepele tapi bisa menjadi gerakan besar dan menunjukkan kepada dunia bahwa dunia ini layak untuk saling hidup berdampingan meskipun semua berbeda-beda," ujar Bupati Hamenang, menggarisbawahi pesan universal tentang perdamaian dan kerukunan yang dibawa oleh para biksu. Setelah upacara pelepasan, rombongan biksu melanjutkan perjalanan kaki mereka melalui jalan-jalan utama Klaten, melintasi Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Pemuda, dan Jalan Dr. Soeradji Tirtonegoro, sebelum akhirnya tiba di Taman Makam Pahlawan Ratna Bantala Tegalyoso. Di titik inilah, perjalanan kaki mereka di Klaten berakhir, digantikan oleh mode transportasi yang lebih cepat.

Keputusan untuk beralih menggunakan bus bukanlah tanpa alasan. Ketua Koordinator Wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta Indonesia Walk for Peace 2026, Wiryo Alex Fernando, menjelaskan bahwa perubahan moda transportasi ini merupakan langkah pragmatis yang diambil untuk memastikan para biksu dapat tiba tepat waktu dalam pertemuan penting dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta. "Kenapa harus menggunakan bus, karena waktu yang telah ditentukan oleh Ngarsa Dalem (Sultan Hamengku Buwono X) itu jam 15.00 WIB. Jadi untuk terus jalan kaki kiranya tidak nyandak (tercapai waktunya) untuk sampai di bangsal Kepatihan Keraton Yogyakarta," terang Alex. Pertemuan dengan Sultan Hamengku Buwono X, yang tidak hanya menjabat sebagai Gubernur DIY tetapi juga sebagai Raja Keraton Yogyakarta dan seorang tokoh yang sangat dihormati, memiliki makna simbolis dan substansial yang besar. Ini adalah kesempatan bagi para biksu untuk menyampaikan pesan perdamaian mereka kepada salah satu pemimpin daerah yang paling berpengaruh di Indonesia, serta untuk memperkuat tali silaturahmi antar-umat beragama dan budaya. Bangsal Kepatihan Keraton Yogyakarta sendiri merupakan pusat pemerintahan dan budaya, tempat di mana keputusan penting seringkali diambil, menjadikan pertemuan ini sangat berarti dalam konteender misi perdamaian mereka.

Rombongan biksu yang terlibat dalam ritual thudong ini mencerminkan keragaman budaya dan spiritual dari Asia Tenggara. Total 58 biksu berasal dari empat negara: Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia. Kontingen terbesar datang dari Thailand, dengan 47 biksu, menunjukkan kuatnya tradisi thudong di negara tersebut. Dua biksu berasal dari Laos, empat dari Malaysia, dan sisanya merupakan biksu-biksu dari Indonesia. Kehadiran biksu dari berbagai negara ini tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual masing-masing individu, tetapi juga menjadi simbol nyata dari persatuan dan kerjasama lintas batas dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian. Perjalanan ini menjadi wadah bagi pertukaran budaya dan ajaran di antara para biksu, memperkuat ikatan persaudaraan spiritual yang melampaui batas-batas kebangsaan.

Misi utama dari perjalanan thudong ini, seperti yang diungkapkan oleh Alex Fernando, adalah untuk menguatkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. "Tujuan utama untuk menguatkan Bhinneka Tunggal Ika, kita di Indonesia ini berbeda-beda tapi tujuannya sama, yaitu menjaga kedamaian, berdamai dengan diri sendiri, lingkungan, negara dan lainnya," papar Alex. Bhinneka Tunggal Ika, semboyan nasional Indonesia yang berarti "Berbeda-beda tetapi Tetap Satu", adalah fondasi dari keberagaman dan toleransi di negeri ini. Melalui perjalanan yang penuh pengorbanan dan interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat, para biksu secara langsung mengaktualisasikan semangat ini, menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang, kepercayaan, atau kebangsaan tidak menghalangi mereka untuk bersatu demi tujuan mulia: menciptakan kedamaian. Konsep perdamaian yang mereka usung pun berlapis, dimulai dari kedamaian batin, berlanjut ke kedamaian dengan lingkungan, hingga kedamaian dalam skala negara dan global.

Perjalanan thudong ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih besar, "Indonesia Walk for Peace 2026", sebuah gerakan yang tampaknya dirancang untuk memiliki dampak jangka panjang dalam mempromosikan perdamaian dan toleransi di Indonesia. Kegiatan seperti ini memiliki potensi besar untuk menumbuhkan pemahaman dan rasa hormat antarumat beragama, serta menginspirasi masyarakat untuk merangkul keberagaman sebagai kekuatan. Kehadiran para biksu di berbagai daerah, berinteraksi langsung dengan penduduk lokal, membuka dialog dan menjembatani perbedaan, secara efektif menyebarkan pesan perdamaian yang otentik dan menyentuh hati. Ini bukan hanya sebuah ritual keagamaan, melainkan sebuah gerakan sosial yang memperkuat nilai-nilai kemanusiaan universal.

Setelah pertemuan penting di Yogyakarta, para biksu diperkirakan akan melanjutkan perjalanan kaki mereka menuju tujuan akhir: Candi Borobudur di Magelang. Borobudur, sebagai candi Buddha terbesar di dunia dan situs Warisan Dunia UNESCO, memiliki signifikansi spiritual dan historis yang tak terbantahkan. Bagi para biksu, mencapai Borobudur setelah menempuh ratusan kilometer adalah puncak dari ziarah mereka, sebuah momen refleksi dan perayaan spiritual. Di sana, mereka diharapkan akan melakukan serangkaian ritual dan meditasi, mempersembahkan doa-doa untuk perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia. Kehadiran mereka di Borobudur juga akan menjadi simbol kuat dari kebangkitan dan keberlanjutan tradisi Buddhis di Indonesia, serta daya tarik spiritual yang tak lekang oleh waktu dari candi megah tersebut.

Secara keseluruhan, perjalanan thudong 58 biksu dari Bali ke Borobudur, dengan singgah di Klaten dan pertemuan di Yogyakarta, adalah lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ini adalah sebuah narasi tentang keteguhan spiritual, toleransi antar-umat beragama, dan upaya kolektif untuk mempromosikan perdamaian. Melalui langkah-langkah kaki mereka yang sederhana namun penuh makna, para biksu ini telah menyebarkan pesan tentang harmoni dan Bhinneka Tunggal Ika, menginspirasi ribuan orang di sepanjang jalan dan menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan, bukan memisahkan. Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia yang semakin terfragmentasi, nilai-nilai universal tentang kedamaian, saling menghormati, dan toleransi tetap menjadi pilar utama bagi keberlangsungan peradaban manusia.

Exit mobile version