Sebuah kabar duka menyelimuti dunia pendakian Indonesia, khususnya bagi warga Kabupaten Sukabumi, menyusul meninggalnya Endang Subarna (48), seorang pendaki berpengalaman yang mengembuskan napas terakhirnya di lereng Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tragedi yang terjadi pada Kamis, 14 Mei 2026, ini mengejutkan banyak pihak, terutama setelah terungkap bahwa almarhum ternyata memiliki riwayat kesehatan yang patut menjadi perhatian serius bagi setiap penjelajah gunung. Kematian Endang bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat, namun juga menyisakan sebuah pesan terakhir yang penuh makna, sebuah wasiat yang diungkapkan kepada sang istri sebelum ia berangkat menuju puncak impiannya.
sulutnetwork.com – Endang Subarna, yang dikenal sebagai sosok bersemangat dari Kampung Cagar Alam, RT 01/RW 03, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Sukabumi, tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri di jalur pendakian Rinjani via Sembalun, tepatnya di kawasan Bukit Penyesalan. Insiden fatal tersebut terjadi saat ia berada di antara Pos 2 menuju Pos 3, sebuah segmen jalur yang dikenal menantang dan membutuhkan stamina prima. Diduga kuat, penyebab kematiannya adalah serangan jantung yang dipicu oleh kondisi fisik yang dipaksakan di tengah medan terjal dan tekanan atmosfer tinggi, mengingat riwayat gangguan pernapasan yang telah lama diidapnya.
Gunung Rinjani, dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl), adalah gunung berapi aktif kedua tertinggi di Indonesia dan merupakan salah satu tujuan pendakian paling populer di Tanah Air. Keindahan kawahnya yang menawan, Danau Segara Anak yang mistis, serta lanskap savana yang luas menjadi daya tarik utama bagi para pendaki dari berbagai penjuru. Namun, di balik keindahannya, Rinjani juga menyimpan tantangan yang sangat berat. Jalur pendakiannya dikenal ekstrem, dengan tanjakan curam, medan berbatu, serta perubahan cuaca yang drastis. Salah satu jalur paling populer adalah via Sembalun, yang terkenal dengan tanjakan panjang dan tanpa henti, terutama setelah Pos 2.
Kawasan Bukit Penyesalan, tempat Endang Subarna mengembuskan napas terakhir, merupakan salah satu segmen jalur yang paling menguras energi dan mental. Nama "Bukit Penyesalan" sendiri mencerminkan karakteristiknya; serangkaian bukit yang seolah tak berujung, menawarkan puncak-puncak palsu yang berulang kali menipu harapan pendaki, membuat banyak dari mereka merasa "menyesal" karena telah memilih jalur tersebut. Medan yang terus menanjak curam, dengan kemiringan yang signifikan, menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Di ketinggian ini, kadar oksigen di udara jauh lebih rendah dibandingkan di dataran rendah, sehingga tubuh harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Bagi individu dengan riwayat penyakit pernapasan, kondisi ini dapat menjadi sangat berbahaya.
Ketua RW 03 Desa Sekarwangi, Rahmat Nugraha, yang menjadi juru bicara pihak keluarga, meluruskan berbagai spekulasi terkait kondisi kesehatan Endang sebelum pendakian. Menurut Rahmat, almarhum memang memiliki riwayat penyakit gangguan pernapasan. Kondisi medis seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dapat sangat rentan terhadap lingkungan hipoksia (kekurangan oksigen) di ketinggian. Tekanan atmosfer yang lebih rendah menyebabkan tekanan parsial oksigen juga menurun, memaksa jantung dan paru-paru bekerja ekstra keras. Bagi penderita gangguan pernapasan, ini berarti beban ganda pada sistem kardiovaskular mereka.
Rahmat menjelaskan bahwa meskipun memiliki riwayat tersebut, Endang Subarna diduga memaksakan diri untuk melanjutkan pendakian. Keinginan kuat untuk mencapai puncak atau sekadar merasakan petualangan di gunung seringkali mendorong pendaki untuk melampaui batas fisik mereka, terkadang mengabaikan sinyal bahaya dari tubuh. "Adapun emang pada dasarnya mempunyai riwayat sesak napas gitu. Mungkin dikarenakan dia memaksakan diri untuk mendaki, akhirnya terjadilah musibah hilangnya nyawa," kata Rahmat, menggambarkan dilema yang mungkin dihadapi Endang. Kombinasi antara riwayat penyakit pernapasan, kelelahan fisik ekstrem, dan tekanan ketinggian yang tinggi di jalur Bukit Penyesalan sangat mungkin memicu serangan jantung, yang menjadi penyebab langsung kematiannya. Kondisi ini adalah pengingat keras akan pentingnya pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan kejujuran diri terhadap kondisi fisik sebelum melakukan pendakian gunung, terutama ke gunung-gunung tinggi seperti Rinjani.
Setelah insiden tragis pada Kamis pagi, tim Search and Rescue (SAR) gabungan yang terdiri dari petugas Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Basarnas, serta sukarelawan dan porter lokal, segera melakukan operasi evakuasi. Proses evakuasi jenazah dari medan terjal Bukit Penyesalan bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan koordinasi yang cermat, peralatan khusus, dan personel yang terlatih untuk membawa jenazah menuruni gunung dengan aman. Kondisi geografis yang sulit dan potensi perubahan cuaca yang mendadak menambah kompleksitas operasi ini. Tim bekerja keras selama berjam-jam, menghadapi tantangan alam demi membawa pulang jenazah Endang Subarna.
Setelah berhasil dievakuasi dari kawasan Gunung Rinjani dan menjalani proses administrasi yang diperlukan, jasad korban kemudian diterbangkan menuju ke Jawa Barat. Penerbangan repatriasi ini menunjukkan kecepatan dan efisiensi upaya berbagai pihak dalam memfasilitasi pengembalian jenazah kepada keluarga. Pesawat yang membawa jenazah mendarat di salah satu bandara di Jawa Barat pada hari Jumat, 15 Mei 2026, sekitar pukul 12.30 WIB. Setibanya di bandara, pihak keluarga telah menunggu dan langsung membawa jenazah menggunakan ambulans khusus. Pada pukul 13.15 WIB, ambulans yang membawa jenazah Endang Subarna meluncur dari bandara, memulai perjalanan darat menuju ke Kabupaten Sukabumi.
Rahmat Nugraha kembali memberikan penjelasan penting mengenai tujuan akhir ambulans. Alih-alih dibawa ke rumah tinggal Endang di wilayah RW 03 Desa Sekarwangi, jenazah langsung diarahkan menuju daerah Cisarua, Cibodas, Kecamatan Nagrak. Keputusan ini, yang mungkin menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat yang tidak mengetahui latar belakangnya, ternyata dilakukan demi menjalankan sebuah wasiat atau pesan terakhir yang sangat personal dari almarhum.
"Kenapa sampai bisa dimakamkan di kampung halamannya? Karena ada pesan dari mendiang suaminya, kata istrinya, kalau misalkan pendek usia, untuk ke depannya pengen dimakamkan katanya di dekat pemakaman ibu bapaknya yang berada di TPU Cisarua, Cibodas, Nagrak gitu," tutur Rahmat, menjelaskan alasan di balik pemindahan lokasi persemayaman terakhir tersebut. Wasiat ini menjadi bukti betapa mendalamnya ikatan Endang dengan kampung halamannya dan kedua orang tuanya yang telah lebih dulu berpulang. Dalam budaya masyarakat Indonesia, keinginan untuk dimakamkan di dekat leluhur adalah hal yang sangat dihormati dan seringkali menjadi prioritas bagi keluarga.
Perjalanan ambulans dari bandara menuju Cisarua, Cibodas, Nagrak, memakan waktu beberapa jam. Selama perjalanan tersebut, suasana duka menyelimuti para pengantar dan keluarga yang setia menunggu. Rombongan ambulans pembawa jenazah Endang dilaporkan tiba di kampung halamannya di Cisarua, Cibodas, sekitar pukul 15.30 WIB. Namun, prosesi pemakaman tidak bisa langsung dilakukan. Alam seolah turut berduka, saat itu wilayah tersebut sedang diguyur hujan yang sangat deras, membuat kondisi pemakaman menjadi tidak kondusif untuk segera melaksanakan prosesi sakral tersebut.
Keluarga dan masyarakat yang hadir dengan sabar menunggu hujan reda. Penundaan ini menambah haru suasana, namun juga memberikan waktu bagi semua yang hadir untuk sejenak merenung dan mendoakan almarhum. Setelah situasi dirasa aman dan hujan mulai reda, sekitar pukul 16.30 WIB, almarhum Endang Subarna akhirnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cisarua, Cibodas, Nagrak. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat, diiringi doa-doa dan tangis haru dari keluarga serta kerabat yang ditinggalkan. Jasadnya kini telah beristirahat dengan tenang, tepat di samping makam kedua orang tuanya, sebuah permintaan terakhir yang telah terpenuhi, membawa kedamaian bagi sang pendaki sejati.
Kisah Endang Subarna menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya para penggemar kegiatan alam bebas, akan pentingnya persiapan yang matang, kesadaran akan kondisi fisik, dan rasa hormat terhadap batas kemampuan diri. Gunung memang menawarkan keindahan yang luar biasa dan petualangan yang tak terlupakan, namun juga menyimpan risiko yang tidak bisa dianggap remeh. Semoga kepergian Endang menjadi pelajaran berharga dan wasiat terakhirnya menjadi pengingat akan pentingnya ikatan kekeluargaan dan tanah kelahiran.
