Masa depan Paul Pogba di kancah sepak bola Eropa kembali menjadi sorotan tajam setelah serangkaian kendala yang tak kunjung usai, mulai dari skorsing akibat kasus doping hingga cedera kambuhan yang membatasi penampilannya. Mantan bintang Manchester United dan Juventus itu kini menghadapi pertanyaan besar mengenai kelanjutan kariernya, dengan salah seorang legenda Liverpool, John Arne Riise, bahkan menyarankan agar Pogba mempertimbangkan untuk meninggalkan gemerlapnya sepak bola Eropa demi menemukan kembali kegembiraan bermain di liga lain.
sulutnetwork.com – Paul Pogba, yang dilaporkan bergabung dengan AS Monaco pada musim panas 2025 dengan kontrak berdurasi dua musim, diharapkan dapat menemukan kembali performa terbaiknya setelah periode sulit. Sebelumnya, ia sempat diskors dari aktivitas sepak bola selama 18 bulan akibat pelanggaran doping, sebuah hukuman yang berhasil dikurangi dari ancaman awal empat tahun setelah proses banding yang panjang dan melelahkan. Namun, alih-alih bangkit, kepindahan ke klub Ligue 1 tersebut justru diwarnai oleh serangkaian tantangan fisik yang kian memperumit situasinya, memunculkan spekulasi luas tentang apakah karier puncak sang gelandang telah mencapai titik akhir.
Perjalanan Paul Pogba di dunia sepak bola selalu diwarnai oleh ekspektasi tinggi dan talenta luar biasa. Dikenal sebagai salah satu gelandang paling berharga di generasinya, Pogba memukau dunia dengan visi, kekuatan fisik, dan kemampuannya mencetak gol dari lini tengah. Puncak kariernya termasuk memenangkan empat gelar Serie A bersama Juventus, Piala Liga dan Liga Europa dengan Manchester United, serta yang paling gemilang, membawa tim nasional Prancis menjuarai Piala Dunia 2018. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, jejak karier cemerlangnya mulai tertutup oleh bayang-bayang inkonsistensi, cedera, dan kontroversi di luar lapangan, puncaknya adalah kasus doping yang mengguncang jagat sepak bola.
Kasus doping yang menyeret nama Pogba dimulai dengan hasil tes positif terhadap zat terlarang DHEA, sebuah prohormon steroid, pada September 2023. Insiden ini sontak menghebohkan dunia dan menimbulkan kekhawatiran serius tentang masa depan pemain yang kala itu tengah berjuang keras untuk kembali ke performa terbaiknya bersama Juventus. Awalnya, ia menghadapi ancaman skorsing selama empat tahun, sebuah hukuman yang dapat mengakhiri karier seorang atlet profesional di usia emas. Namun, setelah melalui proses hukum dan banding yang rumit, tim kuasa hukum Pogba berhasil meyakinkan otoritas terkait untuk mengurangi durasi skorsingnya menjadi 18 bulan. Meskipun berhasil mengurangi sanksi, periode larangan bermain tersebut tetap memberikan dampak signifikan terhadap kondisi fisik dan mental Pogba, memaksanya absen dari lapangan hijau dalam waktu yang cukup lama dan mengganggu ritme permainannya secara drastis.
Keputusan AS Monaco untuk merekrut Pogba pada musim panas 2025, setelah ia menjalani masa skorsing dan diharapkan kembali fit, merupakan sebuah langkah berani. Klub asal Kerajaan Monaco tersebut tentu berharap bahwa gelandang berusia 33 tahun itu masih memiliki sisa-sisa magisnya untuk membantu mereka bersaing di kancah domestik maupun Eropa. Kontrak dua musim yang ditawarkan menunjukkan adanya keyakinan, meski dibarengi risiko, terhadap kemampuan Pogba untuk merevitalisasi kariernya. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Sejak bergabung, Pogba justru kembali dihantam badai cedera, khususnya masalah betis dan pergelangan kaki yang kronis. Cedera-cedera ini telah memaksanya absen dalam total 25 pertandingan untuk AS Monaco, sebuah statistik yang sangat mengkhawatirkan bagi seorang pemain yang baru saja mencoba membangun kembali reputasinya.
Dengan hanya enam penampilan di Ligue 1, performa Pogba di AS Monaco jauh dari harapan. Jumlah penampilan yang minim ini tidak hanya mencerminkan masalah fisiknya, tetapi juga menimbulkan keraguan besar di kalangan penggemar dan pengamat sepak bola tentang apakah ia masih memiliki kapasitas untuk bersaing di level tertinggi. Di usianya yang menginjak 33 tahun, pertanyaan "apakah Pogba sudah habis?" menjadi semakin relevan. Pada usia ini, pemulihan dari cedera cenderung lebih lambat, dan kemampuan fisik untuk mempertahankan intensitas permainan Eropa yang sangat menuntut menjadi semakin sulit. Situasi ini tentu saja memberikan tekanan besar bagi Pogba, baik secara pribadi maupun profesional, dan memicu perdebatan sengit tentang langkah terbaik selanjutnya bagi kariernya.
Melihat kondisi Pogba yang tak kunjung membaik, John Arne Riise, mantan bek kiri legendaris Liverpool, angkat bicara. Riise, yang dikenal dengan karier panjang dan suksesnya di sepak bola Eropa, memberikan pandangan yang cukup radikal namun realistis. Menurutnya, jika Pogba merasa bahwa fisik dan mentalnya tidak lagi mampu memberikan komitmen 100 persen untuk tuntutan sepak bola Eropa yang intens, maka meninggalkan benua tersebut bisa menjadi pilihan terbaik. Pernyataan Riise ini menyoroti aspek kebugaran fisik dan mental yang krusial bagi seorang atlet profesional. Tekanan di liga-liga top Eropa tidak hanya menuntut performa fisik prima, tetapi juga ketahanan mental yang luar biasa untuk menghadapi kritik, ekspektasi, dan persaingan ketat.
Riise secara spesifik menyarankan dua destinasi alternatif bagi Pogba: Major League Soccer (MLS) di Amerika Serikat atau Saudi Pro League di Arab Saudi. Kedua liga ini, menurut Riise, menawarkan lingkungan yang berbeda, di mana Pogba mungkin dapat "lebih menikmati bermain dan lebih menikmati hidupnya." MLS, dengan intensitas fisik yang sedikit lebih rendah dibandingkan liga-liga Eropa papan atas dan kualitas hidup yang menarik di kota-kota besar Amerika, telah menjadi tujuan populer bagi banyak bintang Eropa di akhir karier mereka. Pemain seperti David Beckham, Zlatan Ibrahimovic, dan Lionel Messi telah menunjukkan bagaimana MLS bisa menjadi panggung untuk terus bersinar tanpa tekanan yang berlebihan. Sementara itu, Saudi Pro League telah menarik perhatian dunia dalam beberapa tahun terakhir dengan investasi besar-besaran untuk merekrut nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo dan Neymar, menawarkan kontrak finansial yang sangat menggiurkan dan kesempatan untuk menjadi bagian dari proyek sepak bola yang sedang berkembang pesat. Di kedua liga ini, Pogba mungkin bisa menemukan kembali kegembiraan bermain, mendapatkan menit bermain yang lebih konsisten, dan menjadi figur sentral tanpa harus menghadapi tuntutan fisik dan taktis seberat di Eropa.
Saran dari Riise ini bukan tanpa dasar. Banyak pemain bintang yang mengalami penurunan performa atau cedera berulang di Eropa telah berhasil merevitalisasi karier mereka di liga-liga lain yang menawarkan tingkat persaingan berbeda. Lingkungan yang tidak terlalu menuntut secara fisik, dikombinasikan dengan tantangan baru dan peluang untuk menjadi mentor bagi pemain muda, seringkali menjadi formula sukses bagi mereka. Selain itu, aspek finansial juga tidak bisa dikesampingkan. Baik MLS maupun Saudi Pro League memiliki kapasitas untuk menawarkan gaji yang sangat kompetitif, yang bisa menjadi daya tarik tambahan bagi Pogba. Kepindahan ke salah satu liga ini tidak hanya akan memberikan kesempatan untuk terus bermain sepak bola, tetapi juga untuk menikmati gaya hidup yang berbeda dan mengurangi tekanan yang datang dari sorotan media Eropa yang tak henti-hentinya.
Situasi Pogba di AS Monaco kini berada di titik krusial. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa klub bisa saja mempertimbangkan untuk memutus kontrak Pogba lebih cepat dari durasi dua musim yang telah disepakati, jika kondisi fisiknya tidak kunjung membaik dan kontribusinya di lapangan terus minim. Pemutusan kontrak, meskipun merupakan langkah ekstrem, bukanlah hal yang mustahil dalam sepak bola modern, terutama jika seorang pemain tidak dapat memenuhi ekspektasi performa atau terus-menerus diganggu cedera. Bagi Monaco, mempertahankan pemain dengan gaji tinggi yang jarang tampil di lapangan tentu akan menjadi beban finansial yang signifikan. Oleh karena itu, opsi untuk mencari solusi terbaik bagi kedua belah pihak, termasuk pemutusan kontrak atau kesepakatan transfer ke klub lain, menjadi semakin relevan.
Jika skenario terburuk terjadi dan Pogba harus meninggalkan AS Monaco, atau bahkan Eropa, ia akan dihadapkan pada pilihan yang sulit namun penting. Apakah ia akan mengikuti saran Riise untuk mencari tantangan baru di MLS atau Saudi Pro League? Atau, apakah ia akan mempertimbangkan opsi lain, seperti kembali ke liga yang kurang kompetitif di Eropa, atau bahkan yang paling drastis, mengakhiri karier profesionalnya lebih awal? Keputusan ini tidak hanya akan memengaruhi sisa kariernya di lapangan, tetapi juga warisannya sebagai salah satu gelandang paling berbakat yang pernah ada. Bagi seorang pemain yang telah merasakan puncak kejayaan di Piala Dunia dan memenangkan berbagai gelar, mengakhiri karier dengan kondisi fisik yang rapuh dan di tengah bayang-bayang kontroversi tentu akan menjadi catatan yang pahit.
Paul Pogba kini berada di persimpangan jalan, di mana pilihan yang ia ambil akan menentukan babak terakhir dari kisah karier sepak bolanya. Antara perjuangan tanpa henti untuk kembali ke performa terbaik di Eropa yang sangat menuntut, atau mencari kebahagiaan dan ritme bermain di luar benua, pilihannya akan sangat krusial. Dunia sepak bola akan menanti dengan penuh pertanyaan, siapkah sang juara dunia ini untuk "cabut" dari Eropa demi babak baru dalam hidup dan kariernya.
