Site icon Sulut Network

Menguak Misteri UEFA Champions League Team of the Season 2025/26: Dominasi PSG, Absennya Mbappe Sang Top Skor

Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) baru saja merilis daftar 11 pemain terbaik atau Team of the Season untuk gelaran Liga Champions musim 2025/2026, sebuah pengumuman yang sontak memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pakar sepak bola. Daftar prestisius ini, yang secara tradisional menjadi cerminan performa individu luar biasa di panggung tertinggi kompetisi klub Eropa, kali ini menyajikan kejutan besar dengan tidak adanya nama Kylian Mbappe, penyerang tajam Real Madrid yang notabene menyandang predikat top skor turnamen dengan koleksi 15 gol impresif. Ironisnya, tim ini justru didominasi oleh para bintang dari klub juara bertahan dua kali berturut-turut, Paris Saint-Germain (PSG), yang sekali lagi mengukuhkan dominasi mereka di kancah Eropa.

sulutnetwork.com – Pengumuman daftar 11 pemain terbaik Liga Champions musim 2025/2026 oleh UEFA telah menjadi sorotan utama, terutama karena keputusan kontroversial untuk tidak memasukkan Kylian Mbappe, penyerang Real Madrid yang berhasil mencetak 15 gol dan menjadi pencetak gol terbanyak di turnamen tersebut. Komposisi tim impian ini sebagian besar diisi oleh skuad Paris Saint-Germain (PSG) yang berhasil meraih gelar juara untuk kali kedua secara beruntun, sebuah pencapaian historis yang menegaskan status mereka sebagai kekuatan dominan di sepak bola Eropa.

Keputusan UEFA untuk menyusun daftar pemain terbaik tidak hanya didasarkan pada statistik individual semata, melainkan juga mempertimbangkan dampak kolektif seorang pemain terhadap perjalanan timnya di sepanjang kompetisi. Ini menjelaskan mengapa meskipun Mbappe bersinar terang dengan rekor golnya, kegagalan Real Madrid melangkah lebih jauh dari babak perempat final menjadi faktor penentu yang membuatnya terdepak dari daftar elite tersebut. Sebaliknya, para pemain dari PSG, sang juara, dan beberapa klub yang berhasil mencapai fase-fase akhir turnamen, mendapat tempat yang layak berkat konsistensi dan kontribusi krusial mereka.

Mari kita bedah lebih dalam susunan 11 pemain terbaik pilihan UEFA ini, yang mencerminkan strategi dan performa menonjol di setiap lini. Di bawah mistar gawang, posisi kiper diisi oleh David Raya dari Arsenal. Penjaga gawang asal Spanyol ini tampil memukau sepanjang musim, mencatatkan sembilan clean sheet yang menjadikannya salah satu kiper dengan rekor pertahanan terbaik di Liga Champions. Keberaniannya dalam keluar dari garis gawang, refleksnya yang cepat, serta kemampuannya dalam mendistribusikan bola dari belakang, menjadi pilar penting bagi Arsenal dalam menjaga asa mereka di kompetisi ini, bahkan jika akhirnya mereka tidak mampu meraih gelar juara.

Lini pertahanan tengah dikawal oleh duet bek tangguh, yaitu Marquinhos dari PSG dan Gabriel dari Arsenal. Marquinhos, kapten sekaligus jantung pertahanan PSG, sekali lagi membuktikan kualitas kepemimpinannya dan soliditas defensifnya. Pengalamannya yang luas di Liga Champions, kemampuannya dalam membaca permainan, serta keberaniannya dalam melakukan tekel krusial, sangat vital bagi PSG dalam mempertahankan rekor tak terkalahkan mereka di banyak pertandingan. Di sisi lain, Gabriel dari Arsenal menunjukkan perkembangan signifikan. Postur tubuhnya yang kokoh, keunggulan dalam duel udara, dan intersep-intersep penting yang dilakukannya, menjadi fondasi kuat bagi pertahanan Arsenal yang musim ini tampil jauh lebih terorganisir dan disiplin di Eropa.

Pada posisi bek sayap, UEFA memilih Marcos Llorente dari Atletico Madrid di sisi kanan dan Nuno Mendes dari PSG di sisi kiri. Llorente, yang dikenal dengan fleksibilitasnya, menunjukkan performa luar biasa sebagai bek sayap kanan. Kecepatan, daya jelajah yang tinggi, serta kontribusinya baik dalam bertahan maupun menyerang, menjadikannya aset berharga bagi Atletico Madrid dalam meredam serangan lawan dan membangun serangan balik cepat. Sementara itu, Nuno Mendes dari PSG adalah perwujudan bek sayap modern. Kecepatan lari yang eksplosif, kemampuan dribel yang memukau, dan akurasi umpannya saat maju ke depan, tidak hanya memberikan dimensi serangan yang berbahaya bagi PSG tetapi juga disiplin dalam menjaga pertahanan di sisi kirinya.

Lini tengah dihuni oleh dua gelandang pekerja keras yang juga memiliki visi permainan yang brilian: Vitinha dari PSG dan Declan Rice dari Arsenal. Vitinha adalah motor penggerak di lini tengah PSG. Kemampuannya dalam mengontrol tempo permainan, akurasi operan, dan visinya dalam menciptakan peluang, menjadikannya penghubung vital antara lini belakang dan depan. Ia tak hanya piawai dalam mendistribusikan bola, tetapi juga aktif dalam memenangkan kembali penguasaan bola. Di sampingnya, Declan Rice tampil sebagai jangkar lini tengah Arsenal yang tak tergantikan. Perannya sebagai pelindung pertahanan, kemampuannya dalam memutus serangan lawan, serta progresinya dalam membawa bola ke depan, sangat krusial dalam menstabilkan permainan Arsenal dan memberikan kebebasan bagi rekan-rekannya untuk menyerang.

Dua posisi winger dalam formasi ini diisi oleh pemain-pemain yang memiliki kemampuan individu luar biasa dalam menciptakan peluang dan mengancam gawang lawan. Di sayap kanan, ada Michael Olise dari Bayern Munich. Olise menunjukkan musim yang fenomenal dengan dribel-dribel mematikan, kecepatan yang luar biasa, dan kemampuan mencetak gol serta memberikan assist. Kehadirannya memberikan daya ledak instan bagi serangan Bayern Munich dan seringkali menjadi pemecah kebuntuan dalam pertandingan-pertandingan penting. Sementara di sayap kiri, kejutan datang dari Khvicha Kvaratskhelia, yang dalam skenario ini diidentifikasi sebagai pemain PSG. Kvaratskhelia, dengan kemampuan dribelnya yang magis, kreativitas tanpa batas, dan insting mencetak golnya, menjadi momok menakutkan bagi setiap bek lawan. Kehadirannya di PSG, jika benar terjadi, akan semakin memperkuat lini serang mereka dan menjadi salah satu kunci kesuksesan back-to-back juara.

Di lini serang, UEFA memilih duet penyerang maut: Harry Kane dari Bayern Munich dan Ousmane Dembele dari PSG. Harry Kane, meskipun timnya tidak meraih gelar juara, tetap menunjukkan kelasnya sebagai salah satu penyerang terbaik dunia. Dengan 14 gol, ia hanya terpaut satu gol dari Mbappe sebagai top skor. Kemampuan finishing-nya yang klinis, visinya dalam memberikan assist, serta kontribusinya dalam membangun serangan, menjadikannya ancaman konstan bagi pertahanan lawan. Kane adalah penyerang komplet yang mampu mencetak gol dari berbagai situasi dan juga berperan sebagai playmaker. Di sampingnya, Ousmane Dembele dari PSG memberikan elemen kecepatan, kelincahan, dan ketidakpastian. Dribel-dribelnya yang tak terduga, kemampuannya dalam menciptakan ruang, dan assist-assist krusial yang diberikannya, sangat berperan dalam membuat lini serang PSG begitu cair dan sulit dihentikan.

Kini, mari kita kembali pada inti kontroversi: absennya Kylian Mbappe dari daftar ini. Dengan 15 gol, Mbappe adalah pencetak gol terbanyak Liga Champions musim 2025/2026, mengungguli Harry Kane dengan selisih satu gol. Angka ini adalah bukti nyata dari kehebatan individu dan naluri golnya yang luar biasa. Sepanjang fase grup hingga babak gugur, Mbappe tampil sebagai mesin gol Real Madrid, mencetak gol-gol penting yang membawa timnya melangkah jauh. Setiap sentuhannya di kotak penalti lawan terasa mengancam, dan kecepatannya yang tak tertandingi seringkali menjadi mimpi buruk bagi lini pertahanan lawan. Namun, kegemilangan individu ini harus dibayar mahal dengan kegagalan kolektif timnya.

Real Madrid, di mana Mbappe bernaung, harus angkat koper di babak perempat final setelah didepak oleh Bayern Munich dengan agregat skor 4-6. Kekalahan ini, meskipun menyakitkan, menjadi titik balik yang menjelaskan mengapa UEFA mengambil keputusan tersebut. UEFA cenderung memberikan bobot lebih pada performa tim secara keseluruhan, dan terutama kepada pemain-pemain dari tim yang berhasil melaju hingga babak final, atau setidaknya semi-final. Real Madrid, dengan segala ekspektasi tinggi yang menyelimutinya, tidak mampu melewati hadangan Bayern Munich, sebuah kegagalan yang secara tidak langsung meredupkan cahaya individu Mbappe di mata panel seleksi UEFA.

Mbappe pun harus "gigit jari". Dalam dua musimnya membela Real Madrid, ia gagal meraih trofi "Si Kuping Lebar" yang sangat diidam-idamkan, sebuah gelar yang menjadi tolok ukur kesuksesan tertinggi bagi banyak pemain di kancah Eropa. Kontras yang mencolok terjadi dengan mantan klubnya, Paris Saint-Germain, yang justru berhasil menorehkan sejarah dengan menjadi juara dua kali berturut-turut. Ini tentu menjadi pil pahit bagi Mbappe, yang meninggalkan PSG dengan ambisi besar untuk menaklukkan Eropa bersama Real Madrid, namun justru melihat mantan rekan-rekannya merayakan kesuksesan berturut-turut tanpa dirinya. Perjalanan Real Madrid di musim ini memang penuh tantangan, dengan beberapa pertandingan di fase gugur yang menguji mental dan kualitas mereka. Meskipun Mbappe seringkali menjadi penyelamat, performa tim yang kurang konsisten di momen-momen krusial akhirnya membuat mereka tersingkir.

Keputusan UEFA ini bukan tanpa preseden. Seringkali, pemain dari tim yang berhasil meraih gelar juara atau setidaknya menjadi finalis, mendapatkan prioritas dalam pemilihan tim terbaik. Ini karena dianggap bahwa performa mereka berkontribusi langsung pada kesuksesan kolektif di tahap paling menentukan turnamen. Meskipun mencetak banyak gol adalah pencapaian luar biasa, dampaknya terhadap hasil akhir tim di fase krusial menjadi pertimbangan penting. Untuk Mbappe, ini berarti bahwa meskipun ia adalah predator gol yang ulung, kegagalan Real Madrid untuk melewati perempat final dianggap sebagai batas yang tidak dapat ia lewati untuk mendapatkan tempat di tim elite ini.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa UEFA mungkin ingin menyoroti keseimbangan antara serangan dan pertahanan, serta kontribusi di berbagai posisi, bukan hanya pencetak gol semata. Para pemain dari PSG, Arsenal, Atletico Madrid, dan Bayern Munich yang terpilih, semuanya menunjukkan performa konsisten dan memiliki dampak signifikan pada perjalanan tim mereka masing-masing, baik dalam bertahan, menguasai lini tengah, maupun menciptakan peluang.

Kylian Mbappe kini menghadapi tantangan baru dalam karirnya di Real Madrid. Kegagalan meraih Liga Champions dalam dua musim pertamanya akan menjadi motivasi ekstra baginya untuk musim-musim mendatang. Ambisi pribadinya untuk menjadi pemain terbaik dunia dan memenangkan trofi paling bergengsi di level klub tetap membara. Real Madrid sendiri tentu akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan mereka kembali ke jalur juara dan memberikan dukungan maksimal bagi Mbappe serta seluruh skuad untuk meraih "La Decimoquinta" atau gelar ke-15 Liga Champions yang selalu menjadi target utama mereka. Di sisi lain, dominasi PSG yang berhasil mempertahankan gelar juara dua kali berturut-turut, sebuah pencapaian yang menempatkan mereka dalam jajaran klub elite Eropa, akan menjadi inspirasi sekaligus standar baru bagi klub-klub lain.

Exit mobile version