Site icon Sulut Network

Masangin: Menelusuri Jejak Mitos dan Ketulusan di Jantung Wisata Malam Alun-alun Kidul Yogyakarta

Yogyakarta, sebuah kota yang sarat akan budaya dan sejarah, tak pernah kehabisan pesona untuk memikat wisatawan. Salah satu magnet utamanya terletak di jantung kota, yaitu Alun-alun Kidul (Alkid), yang pada malam hari bertransformasi menjadi pusat atraksi dan kuliner yang ramai. Di tengah hiruk pikuk gerobak makanan, odong-odong hias, dan pertunjukan seni jalanan, ada satu daya tarik yang tak lekang oleh waktu, bahkan menjadi ikon yang paling dicari: Masangin, singkatan dari Masuk Antara Dua Beringin.

sulutnetwork.com – Fenomena Masangin bukan sekadar permainan biasa; ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sebuah warisan budaya yang kini dinikmati sebagai hiburan sekaligus ritual pencarian jati diri bagi banyak orang. Mitos yang menyelimuti Masangin begitu kuat, menyebutkan bahwa siapa saja yang berhasil berjalan lurus di antara dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup, maka keinginan dan hajatnya akan terkabul. Daya tarik inilah yang menjadikan Masangin jantung denyut wisata malam Alun-alun Kidul, sebuah pengalaman yang menggugah rasa ingin tahu, keberanian, dan tentu saja, harapan.

Alun-alun Kidul sendiri memiliki sejarah panjang dan makna filosofis yang mendalam bagi Keraton Yogyakarta. Berada di sisi selatan kompleks Keraton, Alun-alun Kidul (selatan) adalah bagian dari sumbu imajiner yang membentang dari Tugu Pal Putih di utara, Keraton di tengah, hingga Panggung Krapyak di selatan. Sumbu ini melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta. Alun-alun Kidul, atau yang juga dikenal sebagai Alun-alun Pengkeran, secara historis berfungsi sebagai tempat penggembalaan kuda-kuda Keraton dan juga lokasi latihan militer. Namun, seiring waktu, fungsi ini bergeser menjadi ruang publik yang vital, tempat masyarakat berinteraksi, berekreasi, dan menikmati malam. Keberadaan dua pohon beringin kembar di tengah Alun-alun Kidul, yang dikenal dengan nama Supit Urang atau Waringin Kurung, bukanlah tanpa makna. Dalam kosmologi Jawa, beringin melambangkan pengayoman, kekuatan, dan kesakralan. Dua beringin kembar ini adalah simbol keseimbangan dan keharmonisan, serta menjadi titik fokus bagi ritual Masangin yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Pada Kamis (28/6/2026), pantauan menunjukkan bahwa Alun-alun Kidul dipadati oleh ribuan wisatawan dari berbagai daerah, baik lokal maupun mancanegara. Antrean panjang terlihat di sekitar area Masangin, menandakan tingginya minat masyarakat untuk mencoba peruntungan dan merasakan sensasi mitos yang melegenda ini. Suasana semakin malam semakin hidup, dengan sorotan lampu hias dari berbagai odong-odong yang berkeliling, aroma kuliner khas Jogja yang menguar, dan tawa riang pengunjung yang memenuhi udara. Namun, di antara semua keriuhan itu, area Masangin memiliki energinya sendiri: gabungan antara ketegangan, fokus, dan antusiasme.

Pak Jumadi, seorang pemandu Masangin berusia 68 tahun, menjadi salah satu tokoh sentral dalam pengalaman ini. Dengan sabar dan ramah, ia membimbing para wisatawan yang ingin mencoba. "Semakin malam semakin ramai," ucapnya, mengamati kerumunan yang tak henti-hentinya datang. Pak Jumadi telah menjadi bagian dari tradisi ini selama puluhan tahun, mewarisi pengetahuan dan kearifan lokal dari generasi sebelumnya. Ia tidak hanya sekadar meminjamkan penutup mata, tetapi juga memberikan instruksi, semangat, dan terkadang, nasihat filosofis singkat. Hanya dengan biaya Rp 5.000, wisatawan sudah bisa menyewa penutup mata dan mendapatkan panduan. Dalam satu waktu, bisa ada lima orang yang mencoba Masangin secara bersamaan, menciptakan pemandangan yang menarik di mana setiap orang berjuang dengan arah dan fokusnya masing-masing. "Banyak yang berhasil, tak sedikit yang gagal," imbuhnya, tersenyum maklum.

Lebih dari sekadar permainan, Masangin adalah warisan budaya yang dilestarikan sebagai daya tarik wisata. Pak Jumadi menjelaskan bahwa di zaman dahulu, Masangin adalah syarat wajib bagi seorang calon Abdi Dalem Keraton. Abdi Dalem adalah para pelayan setia raja yang mengabdikan hidupnya untuk Keraton. Proses seleksi mereka sangat ketat, dan Masangin menjadi salah satu ujian terpenting untuk mengukur ketulusan hati dan kesetiaan calon Abdi Dalem. Jika seorang calon berhasil melewati dua beringin tersebut dengan mata tertutup, itu diyakini sebagai tanda bahwa hati orang tersebut tulus dalam melayani Sultan dan memiliki kemurnian niat yang tinggi. "Ada tiga kesempatan, ini menguji ketulusan. Konon, mitosnya kalau berhasil melewati Beringin maka keinginan orang tersebut akan terwujud," ungkap Pak Jumadi, merujuk pada mitos yang berkembang di masyarakat. Ujian ini bukan hanya tentang kemampuan fisik, tetapi lebih kepada kemampuan mengendalikan diri, memfokuskan pikiran, dan menjaga ketulusan batin.

Mbah Panggih, seorang sesepuh berusia 80 tahun, adalah tokoh lain yang tak kalah penting dalam pelestarian budaya Masangin. Dengan kerutan di wajahnya yang menyimpan segudang cerita, Mbah Panggih adalah penyedia penutup mata sekaligus penjaga tradisi. Ia telah lama menjadi saksi bisu dan bagian integral dari ritual ini, melihat ribuan wajah penuh harapan mencoba peruntungan mereka. Mbah Panggih biasanya akan menjelaskan tata cara permainan ini dengan detail kepada setiap orang yang ingin mewujudkan keinginannya. "Dulu itu budaya melewati Beringin mulainya memang malam, sekitar jam 5 sore," jelasnya, memberikan gambaran tentang waktu pelaksanaan Masangin di masa lalu yang memang kental dengan nuansa mistis dan spiritual. Kehadiran Mbah Panggih dan Pak Jumadi memberikan sentuhan otentik pada pengalaman Masangin, menjadikannya lebih dari sekadar atraksi turis, melainkan sebuah interaksi dengan penjaga kearifan lokal.

Pengalaman para wisatawan yang mencoba Masangin sangat beragam, mencerminkan kompleksitas pikiran dan perasaan manusia. Rosa (30), salah seorang pengunjung, berhasil melewati tantangan ini dalam sekali percobaan. Pengalamannya cukup unik, ia mengaku bahwa dalam hatinya, ia tidak memiliki keinginan apa pun yang spesifik. "Waktu jalan nggak mikir apa-apa, terus pas udah mau dekat Beringin terasa seperti ada tembok," ceritanya, menggambarkan sensasi aneh yang dirasakannya. Ia bahkan kaget dapat menuntaskannya dalam sekali percobaan, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang membimbingnya. Sensasi "tembok" ini kerap kali diceritakan oleh mereka yang berhasil, seolah ada batas tak terlihat yang membantu mereka tetap lurus.

Hal yang sama dialami oleh Ibu Marsel, seorang wisatawan dari Jakarta yang datang untuk liburan bersama keluarga. Ia dan suaminya sama-sama berhasil melewati dua beringin tersebut. "Saya berhasil tadi, suami juga berhasil. Saya nggak ada keinginan apa-apa, hanya dilakukan saja," ucapnya, menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu bergantung pada kekuatan keinginan, melainkan juga pada ketenangan dan kepasrahan. Keberhasilan tanpa beban keinginan ini kerap diinterpretasikan sebagai pertanda kemurnian hati atau keberuntungan yang murni.

Namun, tidak semua pengalaman berakhir dengan keberhasilan instan. Apri (35), wanita dari Jakarta lainnya, memiliki cerita yang berbeda. Ia gagal dalam dua percobaan pertamanya, namun berhasil setelahnya. "Pertama belok ke kiri, kedua ke kanan dan terakhir lurus. Jujur awal-awal ragu banget, tapi pas yang ketiga udah mulai tenang dan enggak mikirin apa-apa. Eh malah berhasil," kenangnya. Pengalaman Apri menyoroti aspek psikologis dari Masangin: keraguan, kecemasan, dan pikiran yang berkecamuk seringkali menjadi penghalang utama. Keberhasilan seringkali datang ketika seseorang mampu menyingkirkan semua pikiran tersebut dan hanya berfokus pada langkah ke depan, seolah-olah menguji kekuatan batin untuk mencapai ketenangan di tengah ketidakpastian. Ini adalah metafora yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup, di mana ketenangan batin seringkali menjadi kunci keberhasilan.

Atraksi Masangin di Alun-alun Kidul ini mulai buka dari jam 15.00 WIB dan terus ramai hingga tengah malam, menjadi salah satu pilihan utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman unik di Yogyakarta. Lebih dari sekadar hiburan, Masangin adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan mitos, sejarah, dan nilai-nilai ketulusan yang diyakini sejak zaman dahulu. Ini adalah cerminan bagaimana sebuah tradisi kuno dapat beradaptasi dan tetap relevan di era modern, menarik minat berbagai lapisan masyarakat dengan janji pengalaman yang tak terlupakan dan harapan yang abadi. Keberadaannya adalah bukti hidup dari kekayaan budaya Jawa yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Exit mobile version