Kegelisahan melanda keluarga, rekan, dan civitas akademika Institut Teknologi Bandung (ITB) menyusul laporan hilangnya Arief Wibisono (25), seorang mahasiswa Program Magister Teknik Lingkungan ITB angkatan 2024, saat mendaki Gunung Puntang. Arief dilaporkan hilang kontak setelah terpisah dari rombongannya pada Sabtu, 9 Mei 2026. Beruntung, setelah lebih dari 24 jam pencarian intensif yang melibatkan berbagai unsur SAR gabungan, Arief berhasil ditemukan dalam kondisi selamat pada Senin, 11 Mei 2026. Penemuan ini membawa kelegaan besar bagi semua pihak yang terlibat dalam upaya pencarian.

sulutnetwork.com – Insiden hilangnya pendaki di kawasan pegunungan memang kerap menjadi sorotan, mengingat risiko dan tantangan yang menyertai aktivitas pendakian, terutama bagi mereka yang kurang familiar dengan medan atau abai terhadap prosedur keselamatan. Kasus Arief Wibisono ini kembali menegaskan pentingnya persiapan matang, kepatuhan terhadap jalur pendakian, serta menjaga kekompakan kelompok demi menghindari situasi darurat di alam bebas. Gunung Puntang, yang terletak di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dikenal sebagai salah satu destinasi pendakian populer dengan keindahan alamnya yang memukau, namun juga menyimpan potensi bahaya bagi pendaki yang tidak waspada.

Gunung Puntang sendiri memiliki ketinggian Puncak Mega mencapai 2.222 meter di atas permukaan laut (mdpl), menawarkan pemandangan yang spektakuler namun dengan medan yang bervariasi, mulai dari hutan pinus, area terbuka, hingga jalur yang cukup terjal dan licin, terutama saat musim hujan. Kawasan ini juga dikenal dengan peninggalan sejarahnya, seperti reruntuhan bekas stasiun radio kolonial yang menambah daya tarik bagi para pendaki dan penjelajah. Popularitas Gunung Puntang menarik banyak pendaki, baik pemula maupun berpengalaman, untuk menjelajahi keindahan alamnya. Namun, kondisi geografis yang sebagian besar ditutupi hutan lebat dan minimnya penerangan di malam hari menjadikan wilayah ini cukup menantang dan rawan disorientasi jika pendaki keluar dari jalur utama yang telah ditandai.

Kisah hilangnya Arief bermula pada Sabtu, 9 Mei 2026. Ia bersama dua rekannya memulai pendakian Gunung Puntang via jalur Pasir Kuda, Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, sekitar pukul 07.45 WIB. Rombongan tiga pendaki ini memiliki tujuan untuk mencapai Puncak Mega, salah satu titik tertinggi di Gunung Puntang yang menawarkan panorama indah. Setelah beberapa jam pendakian, mereka berhasil tiba di Puncak Mega sekitar pukul 12.00 WIB. Di sana, rombongan tersebut beristirahat sejenak, menikmati pemandangan dan mengisi ulang energi sebelum memutuskan untuk kembali turun.

Setelah beristirahat selama kurang lebih satu jam, rombongan memutuskan untuk memulai perjalanan turun menuju basecamp Gunung Puntang. Namun, pada saat perjalanan turun inilah insiden yang tidak diinginkan terjadi. Arief Wibisono, dengan alasan yang belum sepenuhnya jelas, berjalan lebih dahulu dan terpisah dari dua rekannya. Kedua rekannya mengira Arief mungkin ingin cepat sampai atau memiliki kecepatan jalan yang berbeda. Mereka melanjutkan perjalanan turun dengan perkiraan akan bertemu kembali di basecamp.

Kekhawatiran mulai muncul ketika kedua rekan Arief tiba di basecamp sekitar pukul 16.00 WIB. Mereka mencari keberadaan Arief, namun tidak menemukannya di antara para pendaki yang sudah turun atau di area basecamp. Beberapa waktu berlalu, dan Arief tak kunjung menampakkan diri. Merasa ada yang tidak beres, rekan-rekan Arief bersama dengan tim ranger basecamp segera melakukan pencarian mandiri di sekitar jalur pendakian dan area yang mungkin dilewati Arief. Upaya pencarian mandiri ini terus dilakukan hingga malam hari, namun hingga pukul 22.00 WIB, Arief Wibisono masih belum ditemukan. Kondisi malam hari yang gelap gulita, medan hutan yang rapat, dan suhu yang mulai menurun semakin menyulitkan upaya pencarian dan menambah kekhawatiran akan keselamatan Arief.

Melihat situasi yang semakin kritis dan tidak adanya tanda-tanda keberadaan Arief, laporan resmi mengenai pendaki hilang akhirnya disampaikan kepada Kantor SAR Bandung. Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menyatakan bahwa pihaknya segera merespons laporan tersebut pada Minggu, 10 Mei 2026, setelah menerima informasi terkait pendaki tersesat di jalur pendakian Gunung Puntang via Pasir Kuda, Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari. "Tim rescue Kantor SAR Bandung diberangkatkan untuk melaksanakan asesmen dan pencarian bersama unsur SAR gabungan yang telah berada di lokasi," kata Ade, menjelaskan langkah awal yang diambil.

Operasi pencarian dan penyelamatan pun segera diaktifkan dengan melibatkan berbagai unsur SAR gabungan. Kantor SAR Bandung bertindak sebagai koordinator utama operasi, dengan mengerahkan tim rescue yang terlatih dan dilengkapi peralatan standar pencarian di medan gunung. Selain itu, Brimob juga turut serta dalam operasi ini, membawa personel dengan kemampuan khusus dan ketahanan fisik yang prima untuk menyisir area sulit. Tim Ranger Pasir Kuda, yang memiliki pengetahuan mendalam tentang medan dan kondisi lokal Gunung Puntang, menjadi aset berharga dalam upaya pencarian. Relawan dari berbagai organisasi pecinta alam dan masyarakat setempat juga turut bergabung, menunjukkan solidaritas dan semangat gotong royong dalam menghadapi situasi darurat ini.

Peralatan yang digunakan dalam operasi pencarian sangat komprehensif, mencakup peralatan mountaineering seperti tali karmantel, carabiner, dan harness untuk evakuasi di medan terjal; alat komunikasi seperti radio HT dan telepon satelit untuk koordinasi antar tim di lapangan dan dengan posko utama; perlengkapan medis darurat untuk memberikan pertolongan pertama jika korban ditemukan; serta kendaraan rescue yang siap siaga untuk mobilitas tim dan evakuasi. Strategi pencarian difokuskan pada penyisiran jalur pendakian utama, serta area-area yang dicurigai sebagai tempat korban mungkin tersesat atau berlindung, dengan mempertimbangkan informasi terakhir mengenai posisi Arief dan karakteristik medan.

Malam Minggu hingga Senin dini hari menjadi momen krusial bagi tim SAR gabungan. Mereka bekerja tanpa henti di tengah hutan belantara Gunung Puntang yang gelap dan dingin. Tantangan yang dihadapi tidak sedikit, mulai dari medan yang berat, cuaca yang tidak menentu, hingga kemungkinan adanya hewan liar. Namun, semangat dan tekad untuk menemukan Arief dalam keadaan selamat terus membakar tim pencari. Keluarga Arief, serta pihak ITB, terus memantau perkembangan operasi dengan penuh harap dan cemas.

Setelah lebih dari 24 jam upaya pencarian yang melelahkan, secercah harapan akhirnya muncul. Pada Senin, 11 Mei 2026, kabar gembira datang dari lapangan. Mahasiswa Program Magister Teknik Lingkungan ITB tersebut akhirnya berhasil ditemukan. Informasi awal mengenai penemuan ini dilaporkan oleh salah seorang relawan yang turut serta dalam pencarian. "Alhamdulillah terima kasih tim SAR gabungan korban hilang di Gunung Puntang sudah ditemukan dengan selamat," tulis pemilik akun Instagram @darmanto_wanadri_96, yang merupakan salah satu relawan pencarian, mengunggah kabar tersebut yang segera menyebar dan membawa kelegaan.

Kabar baik ini juga dibenarkan oleh pihak Institut Teknologi Bandung. Lala Arief, selaku Humas ITB, mengungkapkan rasa syukurnya. "Alhamdulillah, Arief sudah ditemukan dengan selamat. Ditemukan di Leuweung Malang, ditemukan oleh warga," kata Lala. Penemuan Arief oleh warga dan petugas gabungan di area Leuweung Malang menunjukkan kolaborasi yang efektif antara tim SAR resmi dan partisipasi aktif masyarakat lokal yang mengenal medan.

Kapolsek Pameungpeuk, Kompol Asep Dedi, turut mengonfirmasi penemuan mahasiswa tersebut dan menjelaskan kondisi Arief saat ditemukan. "Alhamdulillah sudah ketemu dalam kondisi sehat (selamat)," ujar Asep, memberikan detail penting yang menenangkan banyak pihak. Menurutnya, Arief Wibisono diduga keluar dari jalur pendakian awal dari Basecamp Pasir Kuda, Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Peristiwa disorientasi dan keluar jalur merupakan salah satu penyebab umum pendaki tersesat di gunung.

Jarak lokasi penemuan dari Basecamp Pasir Kuda cukup signifikan, sekitar 8 kilometer, menunjukkan seberapa jauh Arief berjalan atau tersesat dari jalur yang seharusnya. Kondisi ini juga mengindikasikan betapa bahayanya jika seorang pendaki kehilangan orientasi di tengah hutan. Setelah ditemukan, Arief segera diberikan pertolongan pertama oleh petugas gabungan untuk memulihkan kondisinya. Meskipun dalam keadaan selamat dan sehat, terpapar di alam bebas selama lebih dari sehari pasti meninggalkan jejak kelelahan fisik dan mental.

"Mahasiswa masih dibawa ke tempat yang aman dulu," pungkas Kompol Asep Dedi, menjelaskan bahwa prioritas utama setelah penemuan adalah memastikan Arief mendapatkan penanganan medis yang layak dan waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali ke keluarganya. Proses evakuasi dari lokasi penemuan menuju tempat yang lebih aman juga memerlukan kehati-hatian, mengingat jarak dan medan yang harus dilalui.

Kasus hilangnya Arief Wibisono di Gunung Puntang ini menjadi pengingat penting bagi semua pendaki mengenai urgensi persiapan yang matang dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Selalu mendaki dalam kelompok, tidak memisahkan diri, membawa perlengkapan navigasi dan komunikasi yang memadai, serta menginformasikan rencana pendakian kepada pihak berwenang atau keluarga, adalah beberapa langkah krusial yang harus selalu ditaati. Keberhasilan operasi pencarian Arief juga menjadi bukti nyata efektivitas koordinasi dan sinergi antara berbagai lembaga SAR, aparat keamanan, dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi situasi darurat di alam bebas. Semoga insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh komunitas pendaki agar selalu mengedepankan keselamatan dalam setiap petualangan.