Thailand Selatan bersiap menyambut gelombang besar wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia dan Indonesia, selama periode libur panjang Idul Adha dan rangkaian hari libur lainnya pada Mei 2026. Proyeksi optimis ini datang dari sektor pariwisata setempat, yang memperkirakan kedatangan puluhan ribu turis dan sumbangan signifikan terhadap perekonomian regional. Kesiapan infrastruktur dan berbagai agenda promosi telah diintensifkan untuk mengakomodasi lonjakan pengunjung, menegaskan kembali daya tarik Thailand Selatan sebagai destinasi favorit di Asia Tenggara.
sulutnetwork.com – Diperkirakan sekitar 30.000 wisatawan asal Malaysia akan membanjiri wilayah selatan Thailand, dengan total estimasi belanja mencapai 600 juta baht, atau setara dengan sekitar Rp 268 miliar. Angka ini mencerminkan potensi ekonomi yang besar dari sektor pariwisata, yang diharapkan dapat memberikan dorongan signifikan bagi bisnis lokal mulai dari perhotelan, kuliner, hingga industri suvenir. Prediksi ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari tren perjalanan regional yang terus menguat, didorong oleh kemudahan akses, daya tarik budaya, dan harga yang kompetitif.
Presiden Thailand-Southeast Asia Halal Trade and Tourism Association, Aida Oujeh, menggarisbawahi pentingnya segmen pasar ini. Menurutnya, rata-rata wisatawan Malaysia diperkirakan akan menghabiskan sekitar 20.000 baht (sekitar Rp 10 juta) per orang selama kunjungan mereka ke Thailand selatan. Angka ini mencakup berbagai pengeluaran mulai dari akomodasi, transportasi, makanan, belanja, hingga aktivitas rekreasi. Data ini juga menyoroti preferensi wisatawan Malaysia yang cenderung mencari pengalaman lengkap, tidak hanya sekadar destinasi, tetapi juga nilai tambah dalam hal layanan dan fasilitas yang ramah bagi wisatawan Muslim.
Mayoritas wisatawan tersebut diproyeksikan akan mengarah ke lima provinsi selatan Thailand yang terkenal, yakni Songkhla, Pattani, Yala, Narathiwat, dan Satun. Provinsi-provinsi ini memiliki keunikan masing-masing, menawarkan perpaduan antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan kuliner lezat yang telah lama menjadi magnet bagi pelancong regional. Aida Oujeh, sebagaimana dikutip dari NST pada Kamis, 28 Mei 2026, menekankan bahwa fokus utama tetap pada penyediaan pengalaman yang memuaskan bagi setiap pengunjung, sekaligus memastikan dampak positif bagi komunitas lokal.
Selain wisatawan dari Malaysia, arus kedatangan wisatawan asal Indonesia juga diperkirakan akan meningkat secara signifikan di wilayah selatan Thailand pada periode yang sama. Kedekatan geografis, kemiripan budaya, serta semakin mudahnya akses transportasi menjadikan Thailand Selatan pilihan menarik bagi masyarakat Indonesia yang ingin menghabiskan liburan. Lonjakan permintaan ini telah tercermin dari tingkat hunian hotel di sejumlah destinasi wisata utama, terutama Hat Yai, yang dilaporkan telah mencapai hampir 90%. Angka ini merupakan indikator kuat bahwa destinasi tersebut telah siap menerima lonjakan pengunjung dan bahwa popularitasnya terus terjaga.
Dalam mengantisipasi gelombang wisatawan ini, sektor perhotelan di wilayah tersebut telah menyiapkan sekitar 20.000 kamar hotel. Kesiapan ini mencakup berbagai jenis akomodasi, mulai dari hotel bintang lima hingga guesthouse yang lebih terjangkau, memastikan bahwa ada pilihan untuk setiap segmen wisatawan. Aida Oujeh menambahkan bahwa "kebanyakan wisatawan Malaysia menuju Hat Yai yang masih menjadi kota paling populer di Thailand selatan." Hat Yai, sebagai pusat ekonomi dan pariwisata di Songkhla, menawarkan berbagai fasilitas modern, pusat perbelanjaan, restoran, dan kehidupan malam yang semarak, menjadikannya magnet utama bagi wisatawan yang mencari kombinasi antara relaksasi dan hiburan.
Aksesibilitas ke Thailand Selatan juga menjadi faktor kunci dalam menarik wisatawan. Banyak pelancong diperkirakan akan masuk melalui berbagai titik perbatasan darat yang strategis, termasuk pos perbatasan Bukit Kayu Hitam, Padang Besar, hingga pos Kota Putra di Kedah, Malaysia, yang terhubung langsung dengan Ban Prakob di Songkhla, Thailand. Efisiensi dan kelancaran proses di titik-titik perbatasan ini sangat penting untuk memastikan pengalaman perjalanan yang nyaman bagi wisatawan. Otoritas terkait di kedua negara terus berkoordinasi untuk meminimalkan antrean dan memperlancar arus masuk dan keluar.
Untuk semakin memikat wisatawan selama musim liburan ini, otoritas pariwisata Thailand telah merancang serangkaian acara dan festival menarik. Ini termasuk festival kuliner yang menampilkan kekayaan masakan lokal, tur promosi destinasi yang menyoroti keindahan alam dan situs budaya, hingga acara berskala internasional seperti Hat Yai Jazz Music Festival. Acara-acara semacam ini tidak hanya menawarkan hiburan tetapi juga memberikan pengalaman budaya yang mendalam, mendorong wisatawan untuk menjelajahi lebih jauh dan menghabiskan lebih banyak waktu di wilayah tersebut. Festival kuliner, khususnya, seringkali menjadi daya tarik utama, memungkinkan pengunjung untuk mencicipi hidangan otentik Thailand selatan yang terkenal akan cita rasa pedas dan rempahnya.
Bagi wisatawan Malaysia, Hat Yai dan Danok di Songkhla tetap menjadi destinasi favorit utama. Hat Yai menawarkan suasana kota yang ramai dengan banyak pilihan belanja dan kuliner, sementara Danok seringkali menjadi persinggahan singkat bagi mereka yang mencari hiburan perbatasan atau sekadar merasakan suasana lintas negara. Di sisi lain, Satun banyak dipilih untuk wisata pulau dan kegiatan belanja. Provinsi Satun, dengan keindahan alamnya yang memukau, seperti Taman Nasional Tarutao dan Koh Lipe, menawarkan pengalaman liburan tropis yang tak terlupakan, cocok bagi mereka yang mencari ketenangan dan keindahan bawah laut. Keberadaan Geopark Satun yang diakui UNESCO juga menambah daya tarik bagi wisatawan yang tertarik pada ekowisata dan geologi.
Tingginya antusiasme wisatawan ini juga terlihat dari peningkatan arus kendaraan yang signifikan menuju Thailand. Kompleks Immigration, Customs, Quarantine and Security (ICQS) Rantau Panjang, salah satu pintu gerbang utama dari Malaysia ke Thailand, telah melaporkan antrean kendaraan yang mengular hingga sekitar satu kilometer. Kondisi ini, meskipun menunjukkan popularitas destinasi, juga menjadi tantangan bagi otoritas perbatasan untuk mengelola arus lalu lintas dan memastikan kelancaran perjalanan bagi semua pihak. Upaya peningkatan kapasitas dan efisiensi layanan di pos-pos pemeriksaan terus dilakukan untuk mengantisipasi puncak arus wisatawan.
Secara keseluruhan, proyeksi lonjakan wisatawan Malaysia dan Indonesia ke Thailand Selatan selama periode liburan Idul Adha 2026 menegaskan posisi strategis wilayah ini sebagai hub pariwisata regional. Dengan estimasi pendapatan yang substansial dan tingkat hunian hotel yang tinggi, sektor pariwisata Thailand Selatan diproyeksikan akan menikmati periode pertumbuhan yang kuat. Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri pariwisata dalam menyiapkan infrastruktur, layanan, dan acara promosi menjadi kunci keberhasilan dalam menarik dan memuaskan para pelancong, sekaligus memastikan keberlanjutan ekonomi bagi komunitas lokal.
