Liverpool kembali terpuruk di pentas Premier League setelah menelan kekalahan pahit dari Aston Villa. Hasil minor ini semakin memperburuk rekor sang manajer, Arne Slot, yang kini mencatatkan serangkaian statistik memalukan yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir bagi klub Merseyside Merah. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan penggemar dan analis sepak bola mengenai arah klub ke depannya.
sulutnetwork.com – Kekalahan terbaru yang menyakitkan bagi Liverpool datang pada Sabtu dini hari (16/5/2026) di Villa Park, markas Aston Villa, di mana mereka dihajar dengan skor telak 4-2. Hasil ini bukan sekadar kekalahan biasa; ini adalah kekalahan ke-12 Liverpool dalam 37 pertandingan Liga Inggris musim 2025/2026. Parahnya, status mereka sebagai juara bertahan Liga Inggris kini terasa begitu kontras dengan realitas pahit yang sedang dialami. Dengan hanya mengumpulkan 59 poin, Liverpool harus rela melorot ke posisi kelima klasemen, tergeser oleh Aston Villa yang mengamankan 62 poin dan berhasil mengunci tiket prestisius ke Liga Champions musim depan. Situasi ini menandai titik terendah bagi klub yang hanya setahun sebelumnya merayakan gelar juara Premier League di bawah kepemimpinan Slot.
Musim 2025/2026 memang menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai bagi Liverpool. Selain jumlah kekalahan yang mencapai dua digit, lini pertahanan The Reds juga menunjukkan kerapuhan yang mengkhawatirkan. Gawang mereka telah kemasukan 52 gol, sebuah angka yang mencolok dan menjadi yang terbanyak di antara lima tim teratas Liga Inggris. Statistik ini secara telanjang memperlihatkan adanya masalah fundamental dalam organisasi pertahanan tim, baik dari segi individu pemain maupun sistem yang diterapkan oleh Slot. Angka kebobolan yang tinggi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana sebuah tim yang baru saja menjadi juara liga bisa mengalami penurunan drastis dalam aspek vital tersebut. Analisis mendalam menunjukkan bahwa kombinasi dari inkonsistensi performa pemain kunci di lini belakang, kurangnya perlindungan dari lini tengah, serta potensi kelemahan dalam skema transisi bertahan, semuanya berkontribusi pada kerentanan ini.
Menurut data yang dirilis oleh Sofascore, Arne Slot, yang baru dua tahun menukangi Liverpool, telah menyamai, bahkan memecahkan, beberapa rekor buruk yang telah lama tidak tercatat dalam sejarah klub. Ini menjadi pukulan telak bagi reputasinya, terutama setelah ekspektasi tinggi yang menyertai kedatangannya dan keberhasilannya meraih gelar liga di musim sebelumnya. Salah satu rekor memalukan yang dicatatkan adalah perolehan poin terendah, yakni 59 poin, sejak musim 2015/2016. Pada musim 2015/2016, Liverpool yang saat itu baru memulai era Jurgen Klopp masih dalam tahap pembangunan kembali, sebuah kontras yang tajam dengan status mereka di bawah Slot sebagai juara bertahan. Penurunan poin yang drastis ini mengindikasikan kemunduran signifikan dalam performa dan konsistensi tim di kompetisi domestik.
Lebih lanjut, di bawah asuhan Slot, Liverpool mencatatkan jumlah kekalahan terbanyak dalam satu musim liga, yaitu 12 kali, sebuah angka yang belum pernah terjadi sejak musim 2011/2012. Musim 2011/2012 adalah periode transisi bagi Liverpool, di mana mereka berada di bawah kepemimpinan Kenny Dalglish dan kemudian Brendan Rodgers, sebuah era yang juga penuh tantangan dan restrukturisasi tim. Melampaui rekor kekalahan dari periode tersebut menunjukkan betapa sulitnya Liverpool mempertahankan dominasi mereka di Premier League musim ini. Sejarah mencatat bahwa tim-tim juara biasanya memiliki mentalitas pantang menyerah dan kemampuan untuk menghindari kekalahan beruntun, namun Liverpool di bawah Slot tampaknya kehilangan esensi tersebut.
Selain itu, jumlah kebobolan sebanyak 52 gol dalam satu musim Premier League adalah rekor terburuk yang dicatatkan Liverpool sejak musim 1993/1994. Angka ini membawa kembali memori akan era yang jauh berbeda dalam sejarah klub, di mana standar pertahanan mungkin tidak seketat era modern. Mencapai angka kebobolan setinggi itu di era sepak bola modern, di mana analisis taktik dan kekuatan fisik pemain bertahan semakin berkembang, adalah indikator serius akan adanya kelemahan struktural. Ini bukan hanya tentang kesalahan individu, melainkan juga bisa menjadi cerminan dari sistem pertahanan yang kurang solid, kurangnya tekanan dari lini depan, atau bahkan masalah kebugaran pemain yang menyebabkan mereka mudah ditembus lawan.
Apabila dihitung dari seluruh kompetisi yang diikuti, termasuk Liga Champions, Piala FA, dan Piala Liga, Liverpool telah tumbang sebanyak 20 kali sejauh musim ini. Statistik ini menempatkan Arne Slot pada posisi yang tidak diinginkan sebagai manajer Liverpool dengan kekalahan terbanyak selama semusim penuh. Ia bahkan memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh manajer legendaris seperti Rafael Benitez, yang mencatatkan 19 kekalahan dalam dua musim terpisah, yakni 2004/2005 dan 2009/2010. Perbandingan dengan era Benitez, yang dikenal dengan kekuatan taktisnya dan keberhasilannya membawa Liverpool meraih gelar Liga Champions, semakin menyoroti beratnya krisis yang melanda Anfield di bawah kepemimpinan Slot. Benitez, meskipun terkadang kurang konsisten di liga, mampu membangun tim yang tangguh di kompetisi piala, sesuatu yang gagal ditiru oleh Slot musim ini.
Kemerosotan performa yang sangat cepat ini, hanya setahun setelah meraih gelar Premier League, memicu berbagai spekulasi dan tekanan besar dari para penggemar. Banyak suporter yang menyuarakan kekecewaan mereka secara terbuka, baik melalui media sosial, forum penggemar, maupun langsung di stadion. Desakan agar Liverpool memecat Slot dari kursi manajer semakin menguat seiring dengan setiap kekalahan yang diderita. Para penggemar, yang telah terbiasa dengan standar tinggi dan kesuksesan di bawah manajer sebelumnya, merasa bahwa tim telah kehilangan identitas dan daya saingnya. Mereka menuntut perubahan radikal untuk mengembalikan kejayaan klub.
Meskipun demikian, Arne Slot sendiri tetap menunjukkan optimisme yang kuat mengenai masa depannya di Anfield. Dalam konferensi pers pasca-pertandingan, Slot menegaskan keyakinannya bahwa ia masih akan memimpin Liverpool pada musim depan. "Saya rasa saya tidak memutuskan itu sendirian, tetapi saya memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa saya akan menjadi manajer Liverpool musim depan," kata Slot. Ia menambahkan, "Pertama-tama, saya terikat kontrak dengan klub ini dan kedua, dari semua pembicaraan yang telah kami lakukan. Itulah pendapat saya." Pernyataan ini mengindikasikan adanya dukungan internal dari manajemen klub, atau setidaknya, komunikasi yang memberikan jaminan kepada Slot mengenai posisinya. Namun, dalam dunia sepak bola modern, kontrak dan dukungan verbal bisa saja berubah sewaktu-waktu jika hasil di lapangan terus-menerus mengecewakan.
Situasi yang dihadapi Liverpool di bawah Arne Slot kini menjadi salah satu babak paling menantang dalam sejarah modern klub. Dari puncak kejayaan sebagai juara bertahan Premier League, mereka kini terdampar di posisi kelima, kehilangan tiket Liga Champions, dan mencatatkan serangkaian rekor buruk yang mengguncang fondasi tim. Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah apakah Slot mampu membalikkan keadaan, membangun kembali kepercayaan penggemar, dan mengembalikan Liverpool ke jalur kemenangan. Musim panas yang akan datang akan menjadi periode krusial bagi Slot dan manajemen klub untuk melakukan evaluasi menyeluruh, menyusun strategi transfer yang tepat, dan mungkin, merombak beberapa aspek taktis guna menghindari terulangnya mimpi buruk di musim-musim berikutnya. Tekanan untuk segera berbenah sangatlah besar, mengingat reputasi dan ambisi Liverpool sebagai salah satu klub terbesar di dunia.




