Kebaya, bukan sekadar sehelai kain tradisional, telah bertransformasi menjadi representasi identitas budaya yang kini merayakan pengakuan global. Perjalanan panjang dan berliku menuju panggung dunia ini tidak lepas dari dedikasi Rahmi Hidayati, seorang pegiat budaya yang tanpa henti mengadvokasi pelestarian dan pengakuan kebaya sebagai warisan budaya. Kisahnya adalah cerminan ketekunan dalam menjaga nilai-nilai luhur di tengah arus modernisasi dan dinamika diplomasi budaya internasional.
sulutnetwork.com – Rahmi Hidayati, tokoh sentral di balik Komunitas Kebaya Indonesia, telah memimpin sebuah inisiatif monumental yang bertujuan untuk melestarikan kebaya, busana tradisional yang tengah gencar diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan prestisius dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Upaya ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan sebuah deklarasi kolektif akan kekayaan dan kedalaman budaya yang terkandung dalam setiap helai kebaya, memposisikannya sebagai identitas tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Dalam sebuah diskusi mendalam bertajuk "Cerita Kebaya," yang diselenggarakan oleh Rumah Cinta Wayang dan tlatahwaktu, Rahmi Hidayati membagikan pandangannya mengenai kompleksitas advokasi budaya. Wanita yang dikenal memiliki hobi unik mendaki gunung dengan mengenakan kebaya ini, menguraikan perjalanan panjang dalam memperjuangkan penetapan Hari Kebaya Nasional serta berbagai tantangan diplomasi budaya yang harus dihadapi di tingkat regional ASEAN. Diskusi tersebut menjadi wadah penting untuk memahami lebih jauh strategi dan semangat yang melatarbelakangi gerakan pelestarian kebaya, dari tingkat lokal hingga internasional.
Perjuangan Rahmi dan Komunitas Kebaya Indonesia mencapai puncaknya ketika UNESCO, melalui Sidang ke-19 Komite Antarpemerintah untuk Warisan Budaya Tak Benda (Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage/ICH) yang berlangsung di Asunción, Paraguay, akhirnya secara resmi menetapkan kebaya sebagai warisan budaya tak benda. Kabar gembira ini, yang juga melansir arsip detikNews, menandai tonggak sejarah penting bagi upaya pelestarian budaya Indonesia dan kawasan. Pengakuan ini tidak hanya mengukuhkan posisi kebaya di kancah global, tetapi juga membuka jalan bagi perlindungan dan promosi lebih lanjut di masa mendatang.
Namun, di balik perayaan ini, terhampar sebuah perjalanan yang sama sekali tidak mudah dan penuh rintangan. Rahmi Hidayati mengungkapkan bahwa inisiatif untuk mendapatkan pengakuan UNESCO ini telah dimulai sejak tahun 2017, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyusun berkas, melakukan riset mendalam, serta membangun konsensus di berbagai tingkatan. Proses ini melibatkan tidak hanya persiapan teknis, tetapi juga upaya kolaboratif yang luas dan strategis.
Yang perlu digarisbawahi, Indonesia tidak menempuh jalan ini sendirian. Dalam sebuah langkah diplomasi budaya yang cerdas dan kolaboratif, Indonesia memutuskan untuk mengajukan nominasi bersama (joint nomination) kepada UNESCO. Langkah ini melibatkan empat negara tetangga, yaitu Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Keputusan untuk bekerja sama ini bukan tanpa alasan kuat dan perhitungan matang.
Rahmi menjelaskan urgensi di balik pendekatan multinasional ini. "Kalau kita menolak joint nomination, mereka bisa daftarkan sendiri, dan akhirnya kebaya jadi punya mereka. Dengan bergabung, kita memastikan kebaya diakui sebagai warisan bersama di kawasan ini," jelas Rahmi saat menyampaikan pandangannya di Perumahan Depok Indah. Pernyataan ini menyoroti risiko besar yang mungkin terjadi jika Indonesia bersikukuh mengajukan nominasi secara tunggal. Potensi negara lain untuk mengklaim kebaya sebagai milik eksklusif mereka merupakan ancaman serius terhadap klaim budaya Indonesia. Oleh karena itu, strategi nominasi bersama menjadi kunci untuk mengamankan pengakuan kebaya sebagai warisan yang dimiliki dan dijaga oleh berbagai bangsa di Asia Tenggara.
Rahmi lebih lanjut menekankan bahwa pengaruh budaya Indonesia, khususnya melalui jalur rempah yang telah terjalin berabad-abad lalu, memiliki peran signifikan dalam penyebaran kebaya hingga ke semenanjung Malaya. Jalur rempah bukan hanya medium perdagangan, tetapi juga jembatan pertukaran budaya yang intens, membawa serta tradisi busana seperti kebaya ke berbagai pelosok kawasan. Hal ini memperkuat argumentasi bahwa kebaya adalah warisan bersama yang telah berakar dan berkembang di berbagai wilayah, meskipun dengan adaptasi lokal yang khas. Saat ini, fokus utama Komunitas Kebaya Indonesia adalah mendaftarkan berbagai jenis kebaya lain sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia terlebih dahulu, sebagai fondasi yang kuat sebelum melangkah lebih jauh ke tingkat internasional untuk nominasi yang lebih spesifik.
Dalam konteks modernisasi dan adaptasi busana tradisional, Rahmi Hidayati memiliki pandangan yang inklusif dan progresif. Baginya, memodifikasi busana tradisional adalah cara yang mulus untuk tetap tampil kontemporer dan relevan di era modern, asalkan tetap menghormati "pakem" atau prinsip-prinsip dasar yang telah mapan. "Pakem" ini merujuk pada kaidah-kaidah estetika, struktur, dan filosofi yang menjadi ciri khas kebaya.
Ia memberikan contoh konkret bagaimana kain lurik atau potongan-potongan kain sisa yang mungkin dianggap tidak terpakai, dapat diolah kembali menjadi "kebaya kutu baru" yang terlihat kontemporer dan modis. Kuncinya adalah tetap mematuhi prinsip-prinsip dasar simetri dan proporsi yang menjadi esensi dari kebaya kutu baru tradisional. Pendekatan ini memungkinkan inovasi tanpa mengorbankan identitas dan akar budaya kebaya. Ini adalah sebuah upaya untuk menjembatani jurang antara tradisi dan tren masa kini, memastikan kebaya tetap relevan bagi generasi muda.
Meskipun demikian, Rahmi juga menyadari adanya batasan dalam modifikasi. Ia bahkan menciptakan istilah khusus yang lucu namun sarat makna untuk kebaya-kebaya yang telah menyimpang secara signifikan dari akar tradisionalnya. "Kalau modelnya tidak simetris atau kancingnya tidak di tengah, mungkin itu ‘Kebaya Selingkuh’ kali ya," candanya. Istilah "Kebaya Selingkuh" ini menggambarkan desain yang, meskipun mungkin menarik secara visual, telah kehilangan elemen fundamental dari bentuk asli kebaya, seperti penempatan kancing yang tidak pada tempatnya atau asimetrisnya potongan yang jauh dari pakem.
Selain itu, ia juga memperkenalkan istilah "Kebaya Gombrong," yang merujuk pada gaya kebaya yang lebih santai dan longgar. Gaya ini sering dipilih karena kenyamanannya, meskipun tidak sepenuhnya mengikuti pakem karena tidak menonjolkan garis pinggang yang menjadi salah satu ciri khas kebaya tradisional yang anggun dan membentuk siluet tubuh. "Kebaya Gombrong" mencerminkan preferensi gaya hidup yang lebih kasual, namun tetap mengindikasikan pergeseran dari bentuk tradisional yang lebih formal dan terstruktur. Istilah-istilah ini tidak hanya sekadar humor, melainkan juga sebuah refleksi kritis terhadap evolusi kebaya dan bagaimana masyarakat menafsirkan serta mengadopsinya dalam berbagai bentuk.
Dari Jurnalis Menjadi Penggiat Budaya: Jejak Rahmi Hidayati
Latar belakang Rahmi Hidayati yang kini gigih bernegosiasi dengan pejabat tinggi, mulai dari menteri, direktur jenderal, hingga beberapa akademisi, menyimpan kisah menarik yang tak banyak diketahui. Siapa sangka bahwa ketekunan dan kemampuannya dalam advokasi budaya ini sangat dipengaruhi oleh pengalamannya di bidang jurnalisme. Profesi wartawan yang pernah digelutinya membentuknya menjadi pribadi yang cakap dalam berkomunikasi, membangun jaringan, dan memahami dinamika kebijakan.
Jaringan luas yang ia bangun sepanjang kariernya di dunia media terbukti menjadi aset berharga. Jaringan ini memudahkan aksesnya ke lingkaran-lingkaran berpengaruh di pemerintahan dan akademisi, yang semuanya kini ia manfaatkan demi mempromosikan dan melestarikan budaya. Pengalaman meliput berbagai isu dan bertemu dengan beragam narasumber memberinya perspektif yang luas serta kemampuan untuk menyusun argumen yang persuasif.
Rahmi mengenang kedekatannya dengan beberapa tokoh penting yang kini membantunya meloloskan regulasi terkait kebaya. "Dulu waktu Pak Menteri masih jadi aktivis, saya wartawan. Biasa nongkrong bareng," kenangnya. Anecdote ini tidak hanya menunjukkan hubungan personal yang kuat, tetapi juga menggambarkan bagaimana relasi yang terjalin di masa lalu kini berbuah manis dalam mendukung misi pelestarian budaya. Kemudahan akses ini memungkinkan Komunitas Kebaya Indonesia untuk lebih efektif dalam menyuarakan aspirasi mereka dan mempercepat proses pengakuan serta perlindungan kebaya.
Kini, melalui Komunitas Kebaya Indonesia yang ia dirikan, Rahmi Hidayati terus konsisten menyuarakan pentingnya agar perempuan Indonesia bangga mengenakan kebaya dalam keseharian mereka. Gerakan ini bukan hanya sekadar ajakan berpakaian, melainkan sebuah kampanye yang lebih dalam untuk menumbuhkan rasa memiliki dan cinta terhadap warisan budaya sendiri. Baginya, setiap lipatan kain kebaya adalah sebuah narasi panjang yang mengisahkan sejarah bangsa, mencerminkan harga diri, dan membawa harapan akan masa depan budaya yang lestari.
Rahmi percaya bahwa dengan mengenakan kebaya secara rutin, masyarakat, khususnya perempuan Indonesia, akan semakin terhubung dengan identitas leluhur mereka. Ini adalah cara praktis untuk menjaga kebaya tetap hidup, tidak hanya sebagai artefak sejarah di museum, tetapi sebagai bagian integral dari kehidupan modern. Upaya ini mencakup berbagai program, mulai dari edukasi tentang sejarah dan filosofi kebaya, pelatihan menjahit kebaya, hingga mengadakan acara-acara yang mendorong pemakaian kebaya dalam berbagai kesempatan.
Dedikasi Rahmi Hidayati dan Komunitas Kebaya Indonesia telah membuktikan bahwa pelestarian budaya adalah sebuah proses dinamis yang membutuhkan kolaborasi, diplomasi, dan semangat pantang menyerah. Pengakuan UNESCO adalah sebuah pencapaian besar, namun perjalanan untuk memastikan kebaya terus relevan dan dicintai oleh generasi mendatang adalah sebuah misi berkelanjutan. Rahmi Hidayati, dengan segala pengalamannya, telah menjadi mercusuar inspirasi bagi banyak pihak untuk terus menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia di kancah global. Dari sebuah kain sederhana, kebaya telah menjelma menjadi simbol kebanggaan yang tak lekang oleh waktu, berkat perjuangan tak kenal lelah para pegiatnya.




