Kawasan pesisir utara Jakarta, khususnya Kota Tua, tidak pernah kehabisan cerita sejarah yang menarik untuk diungkap, seolah setiap sudutnya menyimpan warisan masa lalu yang kaya. Di tengah lanskap arsitektur kolonial yang didominasi bangunan-bangunan era awal, berdiri sebuah mahakarya arsitektur abad ke-20 yang kokoh, menyimpan jejak kejayaan salah satu perusahaan pelayaran Belanda terkaya di masanya, yakni Gedung Internasional. Bangunan ini bukan sekadar struktur fisik, melainkan sebuah narasi bisu tentang perdagangan global, inovasi arsitektur, dan pertautan budaya yang membentuk Jakarta modern.
sulutnetwork.com – Keunikan bangunan bersejarah ini terungkap dalam rute tur edukatif "Oud Batavia en Omstreken: Dulu & Sekarang", sebuah inisiatif yang dipandu dengan apik oleh Gilang Ramadhan, seorang pemandu profesional dari Free Guided Tour UPK Old Town. Gilang menyoroti bahwa meskipun Gedung Internasional berlokasi di area yang identik dengan bangunan-bangunan era 1800-an, keberadaannya secara relatif jauh lebih muda. Sebuah prasasti yang terukir di batu fondasinya secara jelas mencatat tanggal peresmian bangunan ini pada 25 Mei 1912. Penanda waktu ini secara signifikan membedakannya dari tetangga-tetangganya yang lebih tua, memberikan perspektif baru tentang evolusi arsitektur dan ekonomi di jantung Batavia pada awal abad ke-20.
Kota Tua, atau yang dulunya dikenal sebagai Batavia, merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan Hindia Belanda yang strategis. Sebagai kota pelabuhan utama, Batavia menjadi gerbang penting bagi aktivitas ekonomi kolonial, menarik berbagai perusahaan besar, termasuk dari sektor keuangan, asuransi, dan tentu saja, pelayaran. Lingkungan ini dipenuhi dengan bangunan-bangunan megah yang mencerminkan kemakmuran dan kekuasaan era tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi konstruksi, gaya arsitektur pun mengalami pergeseran. Gedung Internasional, dengan fasad dan strukturnya yang mencerminkan era awal abad ke-20, menjadi contoh nyata dari transisi ini, menampilkan desain yang lebih modern dan material yang lebih canggih dibandingkan struktur pendahulunya.
Gilang Ramadhan menjelaskan kepada rombongan tur pada Selasa (8/4/2026), "Jadi ini abad ke-20 baru didirikannya. Makanya mungkin terlihat jauh lebih muda atau lebih kokoh dibandingkan yang lain, dan dari segi desain berbeda sama gedung-gedung yang bangunnya tahun 1800-an." Perbedaan ini bukan hanya sekadar estetika; ia mencerminkan kemajuan dalam teknik konstruksi dan preferensi gaya pada masanya, di mana Art Deco atau Art Nouveau mulai mempengaruhi desain bangunan-bangunan penting. Gedung-gedung abad ke-19 cenderung mengadopsi gaya Neoklasik atau Indische Empire yang lebih konservatif, sementara bangunan abad ke-20 seperti Gedung Internasional mulai mengintegrasikan elemen-elemen modernitas yang lebih ramping dan fungsional, namun tetap mempertahankan kemegahan.
Awalnya, gedung ini dikenal dengan nama yang cukup panjang dan menggambarkan kompleksitas fungsinya: Van den Agent Der Internationale Crediet Enn Handelsvereeniging Rotterdam. Nama tersebut secara gamblang menunjukkan bahwa bangunan ini didirikan sebagai pusat agen untuk sebuah serikat kredit dan perdagangan internasional dari Rotterdam, sebuah kota pelabuhan penting di Belanda. Rancangan awal gedung memang diperuntukkan sebagai ruang kantor bagi berbagai lembaga keuangan dan asuransi yang beroperasi di Batavia. Namun, mengingat ukurannya yang cukup besar dan banyaknya ruangan yang tersedia, beberapa bagian dari gedung ini akhirnya disewakan kepada entitas lain, memaksimalkan penggunaan ruang dan menghasilkan pendapatan tambahan.
Salah satu penyewa utama yang paling menonjol dalam sejarah gedung ini adalah Rotterdam Lloyd. Ini bukanlah perusahaan pelayaran biasa; Rotterdam Lloyd adalah salah satu dari lima perusahaan ‘sultan’ milik Belanda di sektor pelayaran, sebuah gelar yang menyiratkan kekuatan ekonomi dan dominasi pasar yang luar biasa. Perusahaan-perusahaan ‘sultan’ ini menguasai rute-rute pelayaran strategis, menghubungkan Hindia Belanda dengan pasar-pasar global yang vital, dan memainkan peran krusial dalam mengangkut komoditas seperti rempah-rempah, kopi, teh, dan karet dari koloni ke Eropa, serta membawa barang-barang manufaktur dan penumpang kembali ke timur.
Gilang menyoroti bagaimana detail arsitektur warisan raksasa maritim ini masih terlihat jelas dan terpelihara dengan baik di gedung tersebut. Pada puncak operasinya, Rotterdam Lloyd secara efektif mengelola jaringan rute pelayaran internasional dan logistik yang luas, menghubungkan kepulauan Indonesia dengan pasar-pasar global yang jauh. "Kita bisa melihat dalam poster promosi servisnya, ada rute yang menghubungkan Sumatera dan Jawa ke Ceylon (Sri Lanka) dan Egypt (Mesir). Jadi bukan hanya di dalam wilayah Nusantara, tapi juga sampai ke luar," kata Gilang. Ini menunjukkan skala operasional Rotterdam Lloyd yang melampaui batas-batas regional, menjadikannya pemain kunci dalam perdagangan maritim global pada awal abad ke-20.
Kejayaan Rotterdam Lloyd dan kemewahan era tersebut juga terabadikan dalam elemen-elemen arsitektur internal gedung. Kaca patri di Gedung Internasional adalah salah satu bukti paling mencolok dari kemewahan dan gaya artistik yang populer pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Desain kaca patri seringkali menggabungkan motif-motif dekoratif yang rumit dengan simbolisme yang kaya. Di lantai dua bangunan, pengunjung masih dapat mengagumi keindahan kaca patri yang menampilkan lambang Kota Batavia, berdampingan dengan lambang ‘RL’ yang secara jelas melambangkan Rotterdam Lloyd. Keberadaan dua lambang ini dalam satu komposisi artistik menegaskan hubungan erat antara perusahaan pelayaran tersebut dengan kota Batavia sebagai pusat operasionalnya.
Saat pengunjung berjalan melintasi lorong gedung yang megah, mereka akan menjumpai pameran ornamen bersejarah yang terawat dengan cermat, menangkap esensi masa lalu yang kaya. Di sebelah kanan gedung, terdapat sebuah ruangan dengan kusen pintu yang unik, bertuliskan ‘Kas’. Ruangan ini, seperti yang diindikasikan oleh namanya, dulunya berfungsi sebagai kantor keuangan atau tempat penyimpanan uang. Di atas kusen pintu tersebut, sebuah patung singa bermahkota diukir dengan sangat teliti, sebuah simbol yang secara universal dikenal sebagai lambang Kerajaan Belanda. Kehadiran simbol kerajaan ini menegaskan otoritas dan koneksi institusional yang kuat antara perusahaan yang beroperasi di gedung ini dengan pemerintah kolonial Belanda.
Di sisi kiri lorong, suasana maritim yang kental terasa lebih jelas. "Kita bisa lihat di sini ada ukiran perahu Galeon atau perahu-perahu Eropa Belanda. Memang karena ini berkaitan dengan perusahaan pelayaran, tentu mereka membuat ukiran-ukiran yang sangat sesuai," terang Gilang sambil menunjuk ornamen kayu di kusen pintu. Ukiran-ukiran ini tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga sebagai narasi visual yang menceritakan identitas dan fokus utama perusahaan, yakni pelayaran. Perahu Galeon sendiri adalah jenis kapal layar besar yang digunakan secara luas oleh kekuatan maritim Eropa, termasuk Belanda, selama era penjelajahan dan perdagangan global, melambangkan kekuatan dan jangkauan maritim mereka.
Pelestarian ukiran kayu ini selaras dengan keaslian bangunan secara keseluruhan, yang bahkan mencakup lantai-lantainya. Ubin keramik yang menghiasi dinding dan lantai di seluruh gedung merupakan instalasi asli dari tahun 1912. Warna-warnanya yang tak lekang oleh waktu dan pola geometris yang khas akan langsung membangkitkan kenangan akan lantai serupa yang terdapat di Museum Bank Indonesia. Kemiripan ini bukan kebetulan; ia mencerminkan tren desain interior dan ketersediaan material dari pemasok yang sama atau gaya yang populer pada era yang sama di Batavia. Ubin-ubin ini, yang masih kokoh setelah lebih dari satu abad, adalah bukti kualitas konstruksi dan material yang digunakan pada masa itu.
Bangunan ini, yang telah diakui secara resmi sebagai cagar budaya, telah menjalani proses revitalisasi yang cermat dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya secara utuh. Upaya pelestarian ini sangat krusial untuk menjaga integritas sejarah dan arsitektur gedung. Saat ini, pengelolaannya ditangani oleh Konsorsium Kota Tua, sebuah entitas yang berdedikasi untuk melestarikan dan merevitalisasi warisan budaya di kawasan tersebut. Konsorsium ini bekerja untuk memastikan bahwa bangunan-bangunan bersejarah tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat diakses dan dinikmati oleh publik, serta memiliki fungsi yang relevan di masa kini.
Lantai dua bangunan yang luas, saat ini masih kosong, menawarkan peluang yang signifikan untuk pengembangan lebih lanjut. Ruangan-ruangan kosong ini memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai ruang usaha bisnis, galeri seni, atau tempat pertemuan pribadi yang eksklusif, melalui kerja sama dengan konsorsium pengelola. Pemanfaatan kembali ruang-ruang bersejarah seperti ini merupakan bagian penting dari strategi pelestarian yang berkelanjutan, di mana fungsi baru dapat mendukung biaya pemeliharaan dan menjaga bangunan tetap hidup dan relevan dalam konteks perkotaan modern.
Meskipun fasad bangunan mempertahankan karakter asli dan kekokohannya yang mengesankan, tantangan dalam melestarikan situs warisan budaya ini tetap menjadi masalah besar. Pantauan detikTravel menunjukkan bahwa beberapa kusen pintu dan dinding bangunan masih dirusak oleh coretan tangan yang sembarangan, sebuah bentuk vandalisme yang merusak keindahan dan nilai sejarah. Vandalisme ini bukan hanya sekadar tindakan merusak properti, tetapi juga merupakan penghinaan terhadap warisan budaya yang tak ternilai harganya.
"Ini tentu vandalisme. Kami masih memerangi yang namanya vandalisme di beberapa titik dan gedung lain. Tentunya ini perlu sinergi dengan kesadaran masyarakat. Pemerintah melakukan preservasi dan penjagaan, di sisi lain masyarakat juga perlu edukasi lebih jauh tentang pentingnya menjaga bangunan cagar budaya," kata Gilang. Pernyataan ini menekankan bahwa upaya pelestarian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pengelola, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dan kesadaran dari seluruh lapisan masyarakat. Edukasi tentang pentingnya cagar budaya dan dampaknya terhadap identitas kota dan pariwisata sangatlah esensial untuk membendung perilaku merusak ini.
Gedung Internasional di Kota Tua adalah lebih dari sekadar tumpukan bata dan semen; ia adalah kapsul waktu yang menyimpan cerita tentang era keemasan perdagangan maritim, inovasi arsitektur, dan kompleksitas sejarah kolonial. Melalui upaya pelestarian dan edukasi yang berkelanjutan, bangunan ini akan terus berdiri sebagai saksi bisu masa lalu, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan warisan berharga yang membentuk identitas Jakarta.
