Real Madrid baru saja menutup musim yang mengecewakan tanpa meraih satu pun trofi, mengulang hasil nirgelar yang terakhir terjadi lebih dari satu dekade lalu. Di tengah krisis performa dan serangkaian pergantian pelatih, Presiden Real Madrid, Florentino Perez, secara mengejutkan tetap membela keputusannya merekrut Xabi Alonso sebagai pelatih di awal musim. Perez bersikeras bahwa kegagalan tim bukan karena kualitas Alonso, melainkan dampak dari jadwal padat dan persiapan pramusim yang terganggu, khususnya akibat partisipasi di Piala Dunia Antarklub 2025. Pernyataan ini sontak memicu perdebatan di kalangan penggemar dan pengamat sepak bola mengenai akar permasalahan sesungguhnya di balik keterpurukan raksasa Spanyol tersebut.

sulutnetwork.com – Real Madrid, sebuah klub yang identik dengan kesuksesan dan dominasi, kini harus menghadapi kenyataan pahit tanpa gelar dalam dua musim berturut-turut. Situasi ini, yang terakhir kali dialami pada musim 2008/09 dan 2009/10, menjadi alarm serius bagi manajemen dan para pendukung. Keputusan Perez untuk menunjuk Xabi Alonso sebagai suksesor Carlo Ancelotti pada awal musim disambut dengan harapan besar, mengingat reputasi Alonso sebagai mantan gelandang top yang cerdas dan menjanjikan dalam karier kepelatihannya. Namun, perjalanan Alonso di kursi panas Bernabeu hanya berlangsung singkat, menyisakan pertanyaan besar tentang strategi klub dan faktor-faktor yang mempengaruhi performa tim.

Xabi Alonso, yang sebelumnya menorehkan nama di hati para Madridista sebagai pemain, datang dengan ekspektasi tinggi untuk membawa Real Madrid kembali ke puncak. Setelah kepergian Carlo Ancelotti, yang mungkin dianggap telah mencapai batasnya atau ada perbedaan visi, Alonso ditunjuk untuk memimpin skuad bertabur bintang. Dengan latar belakang sebagai produk akademi Real Sociedad, karier gemilang di Liverpool dan Real Madrid, serta pengalaman melatih tim junior Real Madrid B dan kemudian Bayer Leverkusen (sebelum berita ini, Alonso melatih Leverkusen dengan sukses, tapi konteks berita ini Alonso di Madrid), penunjukannya dilihat sebagai langkah progresif untuk menyuntikkan filosofi baru. Para pendukung berharap sentuhan magis Alonso, yang dikenal dengan pemahaman taktiknya yang mendalam dan kepemimpinannya di lapangan, dapat diimplementasikan dari pinggir lapangan.

Namun, harapan itu mulai pudar seiring berjalannya waktu. Selama delapan bulan kepemimpinannya, Alonso memimpin Real Madrid dalam 34 pertandingan. Dari jumlah tersebut, ia berhasil mencatatkan 24 kemenangan, namun juga menelan enam kekalahan, dengan sisanya berakhir imbang. Rekor ini, meski tidak sepenuhnya buruk di atas kertas, dianggap tidak memenuhi standar tinggi yang ditetapkan di Real Madrid. Permasalahan mulai terlihat dalam konsistensi performa, terutama dalam pertandingan-pertandingan krusial melawan rival-rival kuat. Ada kekhawatiran tentang kemampuan tim untuk mempertahankan momentum dan mengatasi tekanan di kompetisi domestik maupun Eropa. Kritikan mulai bermunculan dari media dan sebagian penggemar yang merasa tim belum menemukan identitas dan stabilitas yang diharapkan di bawah Alonso.

Puncaknya, pada bulan Januari, Real Madrid memutuskan untuk memberhentikan Xabi Alonso. Keputusan ini datang setelah serangkaian hasil yang kurang memuaskan, yang membuat posisi klub terancam di beberapa kompetisi. Pemecatan Alonso yang terbilang cepat, hanya delapan bulan setelah penunjukannya, mengindikasikan adanya ketidakpuasan serius dari manajemen terhadap arah dan progres tim. Perombakan di tengah musim seringkali menjadi tanda kepanikan dan upaya terakhir untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Kepergian Alonso meninggalkan kekosongan dan pertanyaan besar tentang siapa yang akan mengambil alih kemudi di tengah musim yang sudah berjalan.

Setelah berpisah dengan Xabi Alonso, manajemen Real Madrid membuat keputusan untuk mempromosikan Alvaro Arbeloa sebagai pelatih tim senior. Arbeloa, yang juga merupakan mantan pemain Real Madrid dan memiliki ikatan emosional kuat dengan klub, sebelumnya melatih tim junior. Penunjukan Arbeloa sebagai pelatih interim diharapkan dapat memberikan suntikan semangat baru dan stabilitas, mengingat pengalamannya di klub dan pemahamannya terhadap budaya Real Madrid. Namun, rekor kepelatihan Arbeloa justru menunjukkan statistik yang lebih buruk dibandingkan pendahulunya. Di bawah asuhan Arbeloa, Real Madrid hanya berhasil memetik 15 kemenangan dari total 25 pertandingan, serta menelan delapan kekalahan.

Periode kepemimpinan Arbeloa menjadi saksi bisu runtuhnya ambisi Real Madrid di semua lini. Satu per satu, impian meraih gelar pupus. Di Copa del Rey, Los Blancos tersingkir di babak-babak awal, sebuah hasil yang mengejutkan mengingat kedalaman skuad mereka. Kemudian, di Liga Champions, kompetisi yang menjadi kebanggaan Real Madrid dengan koleksi gelar terbanyak, mereka juga harus angkat kaki lebih awal dari yang diperkirakan. Kekalahan di fase krusial kompetisi elite Eropa ini merupakan pukulan telak bagi klub dan para penggemar. Terakhir, dalam persaingan LaLiga, Real Madrid harus mengakui keunggulan rival abadi mereka, Barcelona, yang berhasil mengunci gelar juara. Kegagalan di ketiga kompetisi utama ini mengukuhkan status Real Madrid sebagai tim nirgelar untuk dua musim berturut-turut, mengulang catatan buruk pada musim 2008/09 dan 2009/10, yang mana saat itu ditangani oleh pelatih berbeda seperti Bernd Schuster dan Juande Ramos.

Kegagalan dua musim berturut-turut tanpa gelar adalah anomali yang sangat jarang terjadi di Real Madrid. Klub ini memiliki sejarah panjang yang diukir dengan trofi-trofi bergengsi, baik di level domestik maupun Eropa. Setiap musim, ekspektasi terhadap Real Madrid selalu berada di puncak, menuntut setidaknya satu gelar mayor. Oleh karena itu, periode nirgelar ini menjadi perhatian serius dan memicu evaluasi mendalam di berbagai level klub. Mengingat Real Madrid adalah salah satu klub terkaya dan paling sukses di dunia, situasi ini tidak hanya memengaruhi moral tim dan penggemar, tetapi juga dapat memiliki implikasi finansial dan strategis untuk masa depan. Perbandingan dengan musim 2008/09 dan 2009/10, yang juga merupakan periode transisi dan ketidakstabilan, semakin menyoroti urgensi untuk segera menemukan solusi dan kembali ke jalur kemenangan.

Di tengah rentetan hasil buruk dan kritik yang berdatangan, Presiden Florentino Perez tampil untuk membela keputusannya dan memberikan pandangannya mengenai akar permasalahan. Dengan tegas, bos berusia 79 tahun ini menyatakan kepada La Sexta, "Merekrut dia itu bukanlah sebuah kesalahan." Pernyataan ini menunjukkan dukungan penuh Perez terhadap Xabi Alonso, meskipun pelatih tersebut telah dipecat. Lebih lanjut, Perez tidak menyalahkan individu, melainkan menunjuk pada faktor-faktor eksternal yang dianggapnya menjadi pemicu utama kemerosotan tim.

Perez secara spesifik menyoroti partisipasi Real Madrid di Piala Dunia Antarklub 2025 sebagai penyebab utama dari kekacauan musim ini. "Saya rasa awal mula semuanya ada di Piala Dunia Antarklub," sahut Perez. "Kami tidak menjalani pramusim." Pernyataan ini memerlukan klarifikasi konteks. Mengingat Piala Dunia Antarklub FIFA dengan format baru yang diperluas akan berlangsung pada tahun 2025, Perez kemungkinan besar merujuk pada dampak dari kualifikasi atau persiapan intensif yang diperlukan untuk turnamen tersebut yang telah mengganggu jadwal pramusim tim di musim yang baru saja berakhir. Pramusim adalah periode krusial bagi setiap tim untuk membangun kebugaran fisik, mengintegrasikan taktik baru, dan menciptakan kohesi antar pemain. Ketiadaan atau gangguan pada pramusim dapat berdampak serius pada performa tim sepanjang musim.

Dampak dari pramusim yang terganggu, menurut Perez, adalah gelombang cedera yang melanda skuad Real Madrid. "Kami mendapatkan 28 cedera," ungkapnya. Angka 28 cedera adalah jumlah yang sangat signifikan dan mengkhawatirkan bagi klub manapun. Cedera dapat mengganggu stabilitas tim secara drastis, memaksa pelatih untuk terus-menerus merotasi pemain, dan menghambat pengembangan taktik yang konsisten. Kehilangan pemain kunci karena cedera, terutama di posisi-posisi vital, dapat melemahkan kekuatan tim secara keseluruhan dan mengurangi kedalaman skuad. Hal ini juga memberikan beban tambahan kepada pemain yang tersisa, meningkatkan risiko kelelahan dan cedera lebih lanjut.

Perez menambahkan bahwa situasi ini diperparah dengan pergantian pelatih di tengah musim. "Kami ganti pelatih. Kami tidak bisa memulihkan kebugaran kami," jelasnya. Perubahan di kursi kepelatihan tentu saja membawa transisi taktis dan adaptasi bagi para pemain, yang semakin sulit dilakukan jika kondisi fisik mereka tidak prima. Dengan skuad yang dihantam cedera dan kebugaran yang suboptimal, baik Xabi Alonso maupun Alvaro Arbeloa menghadapi tantangan berat dalam mengimplementasikan visi mereka dan mendapatkan hasil yang konsisten. Para pemain tidak memiliki dasar kebugaran yang memadai untuk menghadapi jadwal pertandingan yang padat.

Presiden Real Madrid juga menyoroti jadwal pertandingan yang tak kenal ampun sebagai faktor pendorong masalah kebugaran dan cedera. "Ketika Anda terus bermain pada Hari Rabu dan Minggu tanpa basis itu, para pemain cedera, dan kebugaran kami tidak cukup bagus," Florentino Perez menambahkan. Bermain dua kali seminggu secara reguler, yang merupakan standar bagi klub-klub top Eropa yang bersaing di berbagai kompetisi, membutuhkan tingkat kebugaran yang ekstrem. Tanpa persiapan fisik yang matang di pramusim, dan dengan jumlah cedera yang tinggi, mustahil bagi tim untuk menjaga intensitas dan performa optimal di setiap pertandingan. Kelelahan fisik dan mental akan menumpuk, menyebabkan penurunan kualitas permainan dan meningkatkan risiko kesalahan.

Pernyataan Perez ini mengalihkan fokus dari tanggung jawab kepelatihan atau manajemen transfer, menuju pada faktor eksternal yang berhubungan dengan jadwal pertandingan internasional dan turnamen besar. Meskipun Piala Dunia Antarklub 2025 masih di masa depan, potensi dampaknya terhadap jadwal dan persiapan pramusim klub-klub besar, terutama yang terlibat dalam kualifikasi atau format baru, adalah isu yang semakin sering dibahas di dunia sepak bola. Bagi Real Madrid, yang selalu memiliki ambisi tinggi di setiap kompetisi, gangguan sekecil apapun pada persiapan tim dapat memiliki konsekuensi besar.

Reaksi terhadap pernyataan Perez ini bervariasi. Beberapa pihak mungkin melihatnya sebagai upaya untuk melindungi citra klub dan keputusannya sendiri, serta mengalihkan perhatian dari masalah internal yang mungkin ada. Namun, tidak sedikit pula yang mengakui validitas argumen tentang jadwal padat dan dampaknya pada kebugaran pemain. Klub-klub top Eropa memang sering mengeluhkan beban pertandingan yang berlebihan, yang menyebabkan kelelahan dan cedera. Keberadaan pemain bintang seperti Kylian Mbappe (yang disebutkan dalam sumber awal sebagai bagian dari skuad) sekalipun tidak dapat menjamin kesuksesan jika fondasi kebugaran dan stabilitas tim rapuh.

Musim nirgelar ini akan menjadi bahan evaluasi mendalam bagi Real Madrid. Keputusan mengenai pelatih permanen berikutnya, strategi transfer di musim panas, dan cara mengatasi tantangan jadwal padat akan sangat krusial untuk mengembalikan Los Blancos ke jalur kemenangan. Florentino Perez, dengan segala pengalamannya, kini menghadapi salah satu periode tersulit dalam kepemimpinannya. Bagaimana klub ini merespons krisis ini akan menentukan apakah ini hanya kemunduran sementara atau awal dari periode yang lebih sulit. Yang jelas, dengan atau tanpa Xabi Alonso, Real Madrid harus segera menemukan formula yang tepat untuk kembali mengangkat trofi yang menjadi identitas mereka.