Tokyo – Jepang, dengan pesona budayanya yang kaya, keindahan alam yang memukau, dan inovasi teknologi yang tak henti, kembali menggaungkan ambisi besar dalam sektor pariwisatanya. Negeri Matahari Terbit ini menargetkan kedatangan 60 juta wisatawan asing pada tahun 2030, sebuah lonjakan signifikan yang diharapkan akan memperkuat posisinya sebagai destinasi global terkemuka. Target ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari komitmen pemerintah untuk menjadikan pariwisata sebagai pilar utama ekonomi dan sarana diplomasi budaya.
sulutnetwork.com – Pemerintah Jepang secara resmi telah menyetujui Rencana Dasar Kelima untuk mempromosikan Jepang sebagai negara yang berorientasi pariwisata, menggarisbawahi tekadnya untuk mencapai angka 60 juta pengunjung asing pada tahun 2030. Angka ini mewakili peningkatan sekitar 40 persen dari target sebelumnya untuk tahun 2025, yang menunjukkan percepatan ambisi pasca-pandemi. Pengumuman ini, sebagaimana dikutip dari Japan Today pada Minggu, (24/5/2026), menjadi tonggak penting dalam strategi jangka panjang Jepang untuk memanfaatkan potensi pariwisatanya secara maksimal. Target ambisius ini juga menandakan kepercayaan Jepang terhadap daya tariknya yang tak lekang oleh waktu dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan dinamika pasar global.
Visi Besar di Balik Angka-Angka
Visi untuk menarik 60 juta turis asing bukan muncul dari ruang hampa. Jepang telah lama menyadari potensi pariwisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pemahaman budaya global. Sebelum pandemi COVID-19, Jepang telah mencatat rekor kedatangan turis, mendekati 32 juta pada tahun 2019. Pandemi memang sempat menghentikan laju ini, namun dengan pembukaan kembali perbatasan dan pemulihan industri perjalanan global, Jepang melihat peluang untuk tidak hanya kembali ke level pra-pandemi tetapi melampauinya secara signifikan.
Target 60 juta pengunjung asing pada tahun 2030 ini didasari oleh beberapa faktor kunci. Pertama, dorongan ekonomi. Industri pariwisata memberikan kontribusi besar terhadap PDB melalui pengeluaran wisatawan untuk akomodasi, makanan, transportasi, belanja, dan hiburan. Ini secara langsung mendukung bisnis lokal, dari toko suvenir kecil hingga hotel mewah. Kedua, penguatan "soft power" Jepang. Semakin banyak orang yang mengunjungi Jepang, semakin besar pula apresiasi dan pemahaman mereka terhadap budaya, nilai-nilai, dan inovasi negara tersebut, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hubungan internasional dan investasi. Ketiga, diversifikasi ekonomi. Dengan mengurangi ketergantungan pada sektor manufaktur dan ekspor, pariwisata menawarkan jalur pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan.
Implikasi Angka 60 Juta: Tantangan Logistik dan Demografi
Untuk mencapai target 60 juta pengunjung berarti Jepang harus mampu menerima sekitar 160.000 kedatangan per hari. Dengan asumsi masa tinggal rata-rata sekitar 10 hari berdasarkan tren terkini, ini berarti akan ada sekitar 1,6 juta wisatawan asing yang berada di Jepang setiap harinya. Angka ini mendekati 40 persen dari 4,13 juta penduduk asing yang tercatat pada akhir tahun 2025 dan sekitar 1,3 persen dari total populasi Jepang yang berjumlah sekitar 120 juta jiwa. Skala ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kapasitas infrastruktur, sumber daya manusia, dan dampak sosial.
Dari segi logistik, 60 juta pengunjung juga berarti sekitar 320.000 orang akan masuk dan keluar negara setiap hari melalui bandara, di samping pergerakan wisatawan domestik dan warga Jepang yang bepergian ke luar negeri. Beban ini tentu sangat besar dan memerlukan perencanaan yang matang serta investasi infrastruktur yang masif.
Mengatasi Isu "Overtourism" yang Dianggap Berlebihan
Pemerintah Jepang, dalam tanggapannya, menganggap julukan overtourism yang kerap disematkan sebagai terlalu berlebihan. Mereka berpendapat bahwa pariwisata dapat dikelola dengan langkah-langkah tenang dan praktis. Contoh yang diberikan adalah pengendalian kerumunan di festival kembang api, yang menunjukkan bahwa dengan perencanaan dan manajemen yang tepat, volume wisatawan yang tinggi dapat diakomodasi tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari penduduk atau merusak pengalaman wisatawan.
Namun, di balik pernyataan pemerintah, kekhawatiran overtourism adalah hal yang nyata di banyak destinasi populer di seluruh dunia, termasuk beberapa titik di Jepang seperti Kyoto. Masalah yang sering muncul meliputi kepadatan berlebihan di tempat wisata, tekanan pada transportasi umum, peningkatan sampah, dan perubahan lingkungan sosial-budaya masyarakat lokal. Jepang menyadari bahwa untuk mencapai target 60 juta turis, mereka harus secara proaktif menerapkan strategi manajemen keramaian yang lebih canggih, seperti sistem reservasi untuk atraksi tertentu, promosi perjalanan di luar musim puncak, dan penyebaran wisatawan ke daerah-daerah yang kurang dikenal. Edukasi bagi wisatawan tentang etika lokal dan dukungan untuk bisnis lokal yang autentik juga menjadi bagian dari upaya untuk menjaga keseimbangan.
Kendala Infrastruktur Bandara: Batu Sandungan Utama
Salah satu tantangan terbesar dalam mencapai target 2030 adalah kapasitas bandara. Jepang saat ini sangat bergantung pada bandara-bandara utama seperti Haneda dan Narita di wilayah Tokyo, serta Bandara Internasional Kansai di Prefektur Osaka. Ketiga bandara ini adalah gerbang utama bagi sebagian besar wisatawan internasional.
Namun, ada kendala signifikan. Penundaan pembangunan landasan pacu ketiga di Bandara Narita, misalnya, menjadi hambatan besar. Selain itu, kebutuhan untuk memperluas kapasitas layanan, termasuk penambahan staf imigrasi, bea cukai, dan penanganan bagasi di semua bandara utama, sangat mendesak. Tanpa peningkatan signifikan dalam kapasitas operasional dan infrastruktur, jumlah penerbangan tambahan di wilayah ibu kota kemungkinan tidak akan meningkat banyak dalam waktu dekat. Situasi ini membuat target tahun 2030 terasa sulit digapai jika hanya mengandalkan bandara-bandara yang sudah ada dan beroperasi di batas kapasitasnya. Jepang perlu mencari solusi inovatif, termasuk optimalisasi slot penerbangan, peningkatan efisiensi operasional, dan pemanfaatan teknologi baru untuk mempercepat proses di bandara.
Pentingnya Pariwisata Regional: Kunci untuk Meratakan Beban dan Memperkaya Pengalaman
Melihat data kunjungan wisatawan asing per prefektur pada tahun 2025, terlihat adanya ketimpangan yang jelas. Tokyo menyumbang 34 persen dari total kunjungan, diikuti oleh Prefektur Osaka sebesar 14 persen, Prefektur Kyoto sebesar 11 persen, Hokkaido sebesar 7 persen, Okinawa sebesar 5 persen, dan Prefektur Fukuoka sebesar 4 persen. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar wisatawan masih terkonsentrasi di beberapa wilayah metropolitan dan destinasi populer.
Di sisi lain, banyak prefektur di luar tiga wilayah metropolitan utama mencatatkan tingkat hunian kamar di bawah 60 persen pada tahun 2025. Data ini mengindikasikan bahwa kapasitas akomodasi di daerah-daerah tersebut masih sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Mencapai 60 juta pengunjung akan sangat bergantung pada strategi Jepang dalam mengarahkan lebih banyak wisatawan asing ke destinasi regional.
Strategi ini bukan hanya tentang meratakan beban, tetapi juga tentang memperkaya pengalaman wisatawan dan mendistribusikan manfaat ekonomi secara lebih merata ke seluruh negeri. Jepang memiliki kekayaan budaya, alam, dan kuliner yang luar biasa di luar kota-kota besar, mulai dari pemandian air panas terpencil (onsen) di pegunungan, desa-desa tradisional yang lestari, hingga keindahan pedesaan yang menenangkan.
Mendorong Konektivitas dan Daya Tarik Regional
Untuk menarik lebih banyak wisatawan melalui bandara regional, Jepang membutuhkan perluasan rute internasional yang signifikan. Ini termasuk peningkatan penerbangan dari Tiongkok, Korea Selatan, Asia Tenggara, dan pasar lainnya ke bandara-bandara seperti Sendai, Hiroshima, Nagoya, dan Sapporo. Promosi akan lebih realistis dengan menetapkan bandara utama untuk setiap blok regional dan menghubungkannya secara efektif ke jaringan transportasi utama, seperti kereta api cepat (Shinkansen) dan bus, serta situs-situs wisata utama di wilayah tersebut.
Namun, tantangan terbesar bagi pariwisata regional adalah apakah setiap wilayah benar-benar merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi dan ditinggali. Ini memerlukan pengembangan produk wisata yang unik dan autentik, yang menonjolkan keunikan lokal. Misalnya, wilayah Tohoku dapat mempromosikan festival musim dinginnya yang spektakuler, Hokkaido dengan keindahan alamnya yang luas, atau Shikoku dengan jalur ziarah kunonya.
Dalam pendekatan ini, pemerintah Jepang telah menugaskan 10 organisasi manajemen destinasi wilayah luas (Wide-Area Destination Management Organizations/DMOs), seperti Organisasi Promosi Pariwisata Tohoku, untuk memimpin upaya promosi pariwisata masuk. Organisasi-organisasi ini menyatukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk operator kereta api lokal, bank regional, dan pemerintah daerah, yang dapat memperkuat daya tarik regional melalui kolaborasi dan investasi bersama. DMOs ini berperan penting dalam mengembangkan rute perjalanan, meningkatkan kualitas layanan, dan memasarkan destinasi regional ke pasar internasional.
Target Outbound Wisatawan Jepang: Mendorong Resiproksitas Global
Selain menarik wisatawan asing, pemerintah Jepang juga menargetkan jumlah warga Jepang yang bepergian ke luar negeri pada tahun 2030 untuk melampaui angka tertinggi sepanjang masa, yaitu 20,08 juta. Target ini menunjukkan komitmen Jepang terhadap resiproksitas dalam pariwisata global. Mendorong warganya untuk menjelajahi dunia tidak hanya memperluas wawasan mereka, tetapi juga memperkuat hubungan internasional dan mendukung industri penerbangan serta pariwisata di negara-negara lain. Ini adalah bagian dari strategi Jepang untuk menjadi pemain global yang aktif dan terhubung.
Kesimpulan: Menuju Negara Berorientasi Pariwisata yang Seimbang
Pengunjung dari luar negeri bukanlah gelombang destruktif yang merusak kehidupan sehari-hari di komunitas regional. Sebaliknya, dengan pengelolaan yang tepat, mereka dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi dan revitalisasi budaya. Dengan meningkatkan daya tarik lokal, memperbaiki aksesibilitas, dan memastikan bahwa manfaat pariwisata dirasakan secara luas, baik penduduk maupun wisatawan akan menjadi lebih puas.
Jepang memiliki potensi yang tak terbatas untuk menjadi negara yang benar-benar berorientasi pada pariwisata, di mana pariwisata berkelanjutan dan inklusif menjadi inti dari pembangunan nasional. Target 60 juta turis pada tahun 2030 adalah ambisi yang menantang, namun dengan perencanaan yang cermat, investasi yang tepat, dan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat lokal, Jepang memiliki peluang besar untuk mewujudkan visinya dan semakin memantapkan posisinya di panggung pariwisata dunia. Ini bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang kualitas pengalaman, keberlanjutan, dan dampak positif yang ditinggalkan bagi semua.
(bnl/ddn)




