Jumlah kunjungan wisatawan asal Indonesia ke Korea Selatan pada tahun 2025 tercatat mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, menembus angka 365.596 orang. Angka impresif ini menandai peningkatan sebesar 9% dibandingkan tahun sebelumnya dan secara signifikan melampaui capaian di tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata berada di kisaran 200.000 kunjungan. Prestasi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar wisatawan terbesar bagi Korea Selatan, menduduki peringkat kesembilan secara global dan keempat di kawasan Asia Tenggara.
sulutnetwork.com – Pencapaian monumental ini diungkapkan oleh PR & Media Executive Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta Office, Novi Nursyahbani, dalam sebuah agenda kolaborasi antara KTO dengan merek lokal Buttonscarves yang berlangsung di Jakarta pada Kamis, 21 Mei 2026. Novi Nursyahbani menegaskan bahwa pasar Indonesia memiliki peran strategis yang sangat besar dalam industri pariwisata Korea Selatan. Dalam skala global, Indonesia berhasil masuk dalam jajaran sepuluh besar negara penyumbang wisatawan terbanyak, tepatnya di posisi kesembilan. Sementara di lingkup Asia Tenggara, Indonesia hanya kalah dari Filipina, Vietnam, dan Singapura, menempati posisi keempat. Data ini secara eksplisit menunjukkan betapa signifikannya minat masyarakat Indonesia untuk menjelajahi keindahan dan kekayaan budaya Korea Selatan, sebuah tren yang terus menguat dan menjadi perhatian utama bagi otoritas pariwisata Korea.
Kenaikan jumlah kunjungan wisatawan Indonesia ke Korea Selatan tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor pendorong yang saling berkaitan. Salah satu faktor utama yang diidentifikasi oleh KTO adalah peningkatan konektivitas udara antara kedua negara. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak maskapai penerbangan yang membuka rute penerbangan langsung (direct flight) dari berbagai kota di Indonesia menuju Korea Selatan. Keberadaan rute-rute langsung ini mempermudah aksesibilitas bagi wisatawan, mengurangi waktu tempuh, dan seringkali menawarkan opsi harga yang lebih kompetitif. Maskapai-maskapai besar seperti Garuda Indonesia dan Korean Air telah lama melayani rute ini, memberikan pilihan penerbangan premium. Selain itu, kehadiran maskapai berbiaya rendah (LCC) seperti Jeju Air, Air Busan, dan yang terbaru T’way Air, semakin memperluas jangkauan dan pilihan bagi calon wisatawan. Maskapai LCC ini kerap menjadi favorit karena menawarkan tarif yang lebih terjangkau, memungkinkan lebih banyak segmen masyarakat untuk berwisata ke Korea Selatan. Fleksibilitas dan banyaknya pilihan penerbangan ini menjadi katalisator penting dalam memicu lonjakan angka kunjungan.
Lebih dari sekadar konektivitas, daya tarik budaya pop Korea atau yang dikenal luas sebagai "Hallyu Wave" memainkan peran krusial dalam menarik minat wisatawan Indonesia. Fenomena K-Pop, drama Korea (K-Drama), film, fashion, dan kuliner Korea telah meresap jauh ke dalam budaya populer di Indonesia, menciptakan basis penggemar yang masif dan loyal. Banyak wisatawan Indonesia yang terinspirasi untuk mengunjungi Korea Selatan setelah melihat lokasi syuting drama favorit mereka, merasakan langsung suasana konser idola K-Pop, atau mencoba makanan khas yang sering muncul di tayangan televisi. Pengaruh Hallyu ini menciptakan citra Korea Selatan sebagai destinasi modern yang trendi, kaya akan hiburan, dan memiliki estetika visual yang menarik. Media sosial juga berperan besar dalam menyebarkan pesona Hallyu, dengan para penggemar yang aktif berbagi pengalaman dan rekomendasi, semakin memperkuat keinginan untuk berwisata ke sana. KTO sendiri secara aktif memanfaatkan popularitas Hallyu melalui berbagai promosi dan kolaborasi dengan selebriti atau influencer, termasuk kolaborasi dengan merek lokal seperti Buttonscarves, untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan spesifik.
Peningkatan jumlah kunjungan ini juga didukung oleh diversifikasi destinasi wisata yang ditawarkan Korea Selatan. Meskipun Seoul tetap menjadi magnet utama dengan ikon-ikon modern seperti Menara N Seoul, Istana Gyeongbokgung, dan distrik perbelanjaan Myeongdong, wisatawan kini semakin tertarik untuk menjelajahi kota-kota lain. Busan, sebagai kota pelabuhan terbesar kedua, menawarkan pesona pantai, festival film internasional, dan desa budaya Gamcheon yang ikonik. Pulau Jeju, yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, memukau dengan lanskap vulkaniknya, air terjun yang indah, dan pantai-pantai eksotis. Gyeongju, ibu kota kuno Kerajaan Silla, menyajikan pengalaman wisata sejarah yang mendalam dengan kuil-kuil kuno dan makam raja-raja. Sementara itu, Provinsi Gangwon-do menawarkan keindahan alam pegunungan, resor ski bertaraf internasional, dan menjadi lokasi Olimpiade Musim Dingin 2018. Berbagai pilihan destinasi ini memungkinkan wisatawan untuk merencanakan perjalanan yang lebih personal dan mendalam, tidak hanya terpaku pada satu kota, sehingga meningkatkan potensi kunjungan berulang dan memperpanjang durasi tinggal.
Menyadari potensi besar dari pasar Indonesia yang mayoritas Muslim, Korea Selatan telah secara proaktif mengembangkan pariwisata ramah Muslim. Inisiatif ini sangat penting untuk memastikan kenyamanan dan kemudahan bagi wisatawan Muslim dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti mencari makanan halal dan tempat beribadah. Novi Nursyahbani menjelaskan bahwa kini hampir di seluruh kota di Korea Selatan telah tersedia fasilitas yang ramah Muslim, mulai dari restoran halal hingga tempat beribadah. Korea Tourism Organization (KTO) bahkan telah mengembangkan sistem klasifikasi tersendiri untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan restoran-restoran yang memenuhi standar ramah Muslim, memberikan panduan yang jelas bagi wisatawan.

Sistem klasifikasi KTO ini mencakup empat kategori sertifikasi yang berbeda, dirancang untuk memberikan informasi yang transparan mengenai tingkat keramahan Muslim suatu restoran. Kategori pertama adalah "Halal Certified," yang merupakan tingkat tertinggi. Restoran dengan sertifikasi ini telah diverifikasi dan disahkan secara resmi oleh Federasi Muslim Korea, menjamin bahwa semua bahan makanan, proses persiapan, dan penyajiannya sepenuhnya sesuai dengan hukum Islam. Sertifikasi ini memberikan jaminan penuh bagi wisatawan Muslim mengenai kehalalan makanan yang disajikan. Kategori kedua adalah "Self Certified," di mana pemilik usaha secara mandiri menyatakan bahwa hidangan yang mereka sajikan adalah halal. Meskipun tidak melalui proses sertifikasi resmi dari Federasi Muslim Korea, pengakuan mandiri ini menunjukkan komitmen pemilik untuk memenuhi kebutuhan diet Muslim, seringkali dengan menggunakan bahan-bahan halal dan proses masak yang terpisah.
Kategori ketiga adalah "Muslim Friendly." Restoran dalam kategori ini mungkin menyajikan beberapa menu makanan halal, namun di sisi lain, mereka juga mungkin menjual minuman beralkohol atau hidangan non-halal lainnya. Untuk wisatawan Muslim, biasanya ada panduan atau tanda khusus yang menunjukkan menu-menu yang halal, memungkinkan mereka untuk memilih dengan bijak. Kategori ini mencerminkan upaya untuk mengakomodasi kebutuhan Muslim tanpa harus mengubah seluruh operasional restoran. Terakhir, kategori keempat adalah "Pork Free." Ini adalah level dasar yang paling rendah, di mana restoran tersebut menjamin bahwa menu utamanya tidak menggunakan daging babi. Meskipun demikian, restoran ini mungkin masih menyajikan daging lain yang tidak disembelih secara halal atau bahan-bahan lain yang tidak sepenuhnya ramah Muslim. Klasifikasi ini sangat membantu wisatawan Muslim dalam menentukan pilihan restoran yang sesuai dengan preferensi dan tingkat kenyamanan mereka, mulai dari yang paling ketat hingga yang lebih fleksibel. Adanya logo atau tanda ramah Muslim yang terpampang di setiap restoran yang termasuk dalam klasifikasi ini semakin memudahkan wisatawan dalam mengidentifikasi tempat makan yang sesuai.
Selain ketersediaan makanan halal, fasilitas ibadah juga menjadi prioritas dalam pengembangan pariwisata ramah Muslim. Novi Nursyahbani menyoroti bahwa kini tempat ibadah bagi umat Muslim, atau mushola, telah tersebar luas di berbagai lokasi strategis di Korea Selatan. Di ibu kota Seoul, landmark utama bagi komunitas Muslim adalah Seoul Central Mosque, sebuah pusat keagamaan dan budaya yang penting. Di kota-kota besar lainnya, seperti Busan, terdapat Masjid Al-Fatih yang menjadi rujukan bagi wisatawan dan penduduk Muslim setempat. Demikian pula di Gwangju, tersedia Masjid Gwangju yang memudahkan umat Muslim untuk menunaikan salat.
Yang lebih signifikan, fasilitas mushola kini juga dapat ditemukan di tempat-tempat wisata populer dan pusat perbelanjaan besar yang sering dikunjungi wisatawan. Sebagai contoh, di Lotte World, salah satu taman hiburan terbesar di Korea Selatan, serta di COEX Mall, kompleks pusat konvensi dan perbelanjaan raksasa, telah tersedia ruang ibadah yang memadai. Mushola-mushola ini umumnya dilengkapi dengan fasilitas yang mumpuni, seperti tempat wudu, sajadah, dan penunjuk arah kiblat, memastikan bahwa wisatawan Muslim dapat menjalankan ibadah mereka dengan nyaman dan tenang tanpa harus meninggalkan area wisata. Ketersediaan fasilitas ibadah yang mudah diakses di lokasi-lokasi wisata kunci ini menjadi nilai tambah yang besar bagi wisatawan Muslim dari Indonesia, menghilangkan kekhawatiran mereka terkait waktu salat saat sedang menjelajahi destinasi.
Pengembangan pariwisata ramah Muslim ini tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan praktis, tetapi juga merupakan strategi cerdas dari KTO untuk menarik dan mempertahankan pasar wisatawan dari negara-negara mayoritas Muslim. Dengan menunjukkan komitmen terhadap inklusivitas dan pemahaman budaya, Korea Selatan membangun reputasi sebagai destinasi yang ramah dan nyaman bagi semua kalangan. Upaya KTO dalam mengklasifikasikan restoran dan memastikan ketersediaan tempat ibadah merupakan langkah progresif yang memperkuat posisi Korea Selatan sebagai destinasi pilihan bagi wisatawan Indonesia dan Muslim global lainnya.
Melihat tren positif ini, Korea Tourism Organization diprediksi akan terus mengintensifkan promosi dan pengembangan produk wisata yang relevan. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk merek lokal seperti Buttonscarves, adalah salah satu strategi pemasaran yang efektif untuk menjangkau segmen pasar tertentu. Ke depannya, KTO kemungkinan akan terus berinvestasi dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas ramah Muslim, serta memperluas jaringan konektivitas udara. Dengan fondasi yang kuat dari popularitas budaya, infrastruktur yang memadai, dan komitmen terhadap keramahan, Korea Selatan siap untuk menyambut lebih banyak lagi wisatawan Indonesia dan mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata paling diminati di dunia.
(upd/wsw)




