Bandung – Sebuah kisah heroik tentang perjuangan bertahan hidup datang dari Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, ketika Arief Wibisono, seorang mahasiswa Program Magister Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2024, berhasil ditemukan selamat setelah dua malam mencekam terperangkap di dasar jurang. Arief dilaporkan hilang sejak Sabtu, 9 Mei 2026, dan ditemukan dalam kondisi hidup pada Senin, 11 Mei 2026, oleh tim gabungan SAR dan warga setempat, mengakhiri kekhawatiran yang melanda banyak pihak.
sulutnetwork.com – Hilangnya Arief Wibisono di tengah belantara Gunung Puntang telah menyulut operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan berbagai elemen, dari petugas SAR, kepolisian, warga lokal, hingga komunitas pendaki. Kisahnya menjadi sorotan tidak hanya karena statusnya sebagai mahasiswa ITB, tetapi juga karena determinasi luar biasa yang ia tunjukkan untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem, menghadapi luka-luka, kedinginan, kelaparan, dan isolasi total di kedalaman jurang yang curam. Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya yang selalu mengintai di medan pegunungan serta ketangguhan jiwa manusia dalam menghadapi tantangan terberat sekalipun.
Gunung Puntang, yang terletak di bagian selatan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, merupakan salah satu destinasi pendakian populer yang menawarkan keindahan alam serta sejarah yang kaya. Dikenal dengan puncaknya, Puncak Mega, dan sisa-sisa bangunan Radio Malabar yang bersejarah, gunung ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para petualang dan pecinta alam. Namun, di balik pesonanya, Gunung Puntang juga menyimpan medan yang menantang, dengan jalur-jalur yang terjal, hutan yang lebat, dan jurang-jurang dalam yang dapat membahayakan pendaki yang kurang berhati-hati atau kehilangan orientasi. Vegetasi yang rapat, kontur tanah yang licin, terutama setelah hujan, dan perubahan cuaca yang cepat menjadi faktor-faktor risiko yang harus selalu diperhitungkan oleh setiap pendaki. Kawasan hutan lindung yang mengelilingi jalur pendakian juga dikenal dengan keanekaragaman hayati yang kadang menghadirkan satwa liar, menambah kompleksitas tantangan bagi mereka yang tersesat.
Kejadian yang menimpa Arief bermula pada Sabtu, 9 Mei 2026, saat ia bersama rombongan rekan-rekannya sedang dalam perjalanan turun dari Puncak Mega menuju base camp Pasirkuda. Seperti lazimnya dalam kegiatan mendaki gunung, setiap rombongan seringkali memiliki anggota dengan kecepatan berjalan yang bervariasi. Dalam situasi tersebut, Arief, yang dikenal memiliki kecepatan berjalan lebih tinggi, memutuskan untuk berjalan di depan dan tanpa disadari meninggalkan dua rekannya di belakang. Keputusan ini, meskipun tampak sepele pada awalnya, ternyata menjadi titik awal dari serangkaian peristiwa yang mengubah perjalanannya menjadi pengalaman bertahan hidup yang tak terlupakan.
Kapolsek Pameungpeuk, Kompol Asep Dedi, menjelaskan kronologi awal kejadian berdasarkan keterangan yang diperoleh dari korban. "Informasi dari korban. Pada saat pulang dari Puncak Mega korban jalan cepat dan salah arah seharusnya ke arah Pasirkuda malah ke arah basecamp PGPI (Persatuan Gunung Puntang Indonesia) yang berada di Banjaran," ujar Kompol Asep Dedi. Kesalahan orientasi ini, meskipun sering terjadi pada pendaki yang kelelahan atau kurang familiar dengan jalur, berakibat fatal bagi Arief. Jalan yang seharusnya membawanya ke base camp yang aman justru mengarahkannya ke daerah yang lebih terpencil dan berbahaya.
Saat berjalan sendirian di jalur yang salah itulah, sekitar pukul 16.00 WIB, Arief diduga terpeleset. Medan yang licin, mungkin karena sisa hujan atau dedaunan basah, ditambah dengan kelelahan, membuatnya kehilangan pijakan. Tanpa sempat bereaksi, tubuhnya meluncur dan jatuh ke dalam jurang sedalam sekitar 6 hingga 7 meter. Benturan keras saat jatuh menyebabkan Arief mengalami luka lecet di sekujur tubuh dan memar. Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Nita Yuanita, membenarkan keterangan tersebut. "Jadi dia jatuh, terperosok ke jurang 6-7 meter, lalu tidak bisa naik ke atas ke jalur, jadi membuka jalur menyusuri sungai," tutur Nita, menggambarkan betapa sulitnya posisi Arief setelah terjatuh.
Terperangkap di dasar jurang, dalam kondisi terluka dan sendirian, Arief menghadapi kenyataan pahit. Upaya pertamanya untuk kembali naik ke jalur pendakian terhalang oleh tebing curam dan licin. Dengan hari yang semakin gelap dan suhu yang mulai menurun drastis, ia menyadari bahwa satu-satunya pilihan adalah bertahan di lokasi jatuhnya. Malam pertama di dasar jurang menjadi ujian mental dan fisik yang luar biasa. Kegelapan total menyelimuti hutan, hanya diselingi suara-suara alam liar yang asing dan menakutkan. Rasa sakit akibat luka-luka, dingin yang menusuk tulang, serta rasa lapar dan haus mulai menghampiri. Namun, di tengah keputusasaan itu, Arief terus berjuang melawan rasa takut dan kepanikan, berusaha mencari perlindungan seadanya dari hembusan angin malam dan embun yang dingin. Pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran akan nasibnya, namun dorongan untuk bertahan hidup jauh lebih kuat.
Memasuki Minggu pagi, 10 Mei 2026, Arief terbangun dengan tubuh yang lebih lelah dan luka-luka yang terasa lebih perih. Namun, secercah harapan muncul bersamaan dengan terbitnya matahari. Dengan semangat yang baru, ia memutuskan untuk tidak tinggal diam. Melihat bahwa lokasi jatuhnya tidak jauh dari aliran sungai, Arief mengambil keputusan berani untuk menyusuri sungai tersebut, berharap aliran air akan membawanya ke area yang lebih ramai atau setidaknya jalur yang bisa membawanya keluar dari hutan. "Pada saat itu korban bermalam di tempat jatuh dan pada hari Minggu 10 mei 2026 jam 06.00 WIB. Korban langsung menyusuri sungai (karena jatuh hampir dekat sungai) hingga jam 18.00 WIB," jelas Kompol Asep Dedi.
Perjalanan menyusuri sungai bukanlah hal yang mudah. Arief harus berjuang melewati bebatuan licin, arus sungai yang kadang deras, dan vegetasi yang rapat di tepi sungai. Setiap langkah adalah perjuangan, dengan rasa sakit yang terus menghantam dan energi yang semakin menipis. Ia harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset lagi dan memperparah lukanya. Dalam kondisi kelaparan dan kehausan, Arief mungkin memanfaatkan air sungai untuk minum, meskipun risiko kontaminasi tetap ada. Sepanjang hari itu, ia terus berjalan, tanpa tahu pasti ke mana arah tujuannya, hanya berpegang pada keyakinan bahwa sungai akan membimbingnya menuju peradaban. Ketika malam kembali tiba, sekitar pukul 18.00 WIB, Arief memutuskan untuk kembali bermalam di tepi sungai, mencari tempat yang relatif aman untuk beristirahat dan mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Malam kedua ini tidak kalah mencekam, namun ia sudah memiliki sedikit pengalaman dari malam sebelumnya, membuatnya lebih siap secara mental, meski fisik semakin melemah.
Senin pagi, 11 Mei 2026, menjadi hari penentuan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Arief melanjutkan perjalanannya menyusuri sungai. Setelah berjam-jam berjalan, sebuah titik terang akhirnya muncul. Sekitar pukul 09.30 WIB, Arief bertemu dengan seorang petani kopi di daerah Jadipa Banjaran, Desa Mekarjaya. Pertemuan ini adalah momen yang sangat mengharukan dan penuh kelegaan. Petani kopi tersebut, yang terkejut melihat kondisi Arief yang lusuh, terluka, dan kelelahan, segera menyadari bahwa Arief adalah pendaki yang hilang yang sedang dicari. Tanpa membuang waktu, petani tersebut langsung memberitahukan penemuan Arief kepada petugas pencarian korban yang sedang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.
Kabar penemuan Arief segera menyebar dan disambut dengan kelegaan besar oleh tim gabungan SAR, kepolisian, warga, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pencarian. Tim penyelamat segera bergerak cepat menuju lokasi pertemuan Arief dengan petani kopi. Proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati, mengingat kondisi Arief yang lemah dan luka-luka yang dideritanya. Setelah berhasil dievakuasi, Arief langsung dibawa ke RSUD Bedas Arjasari untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Nita Yuanita, Dekan FTSL ITB, memberikan update mengenai kondisi Arief di rumah sakit. "Kondisi Arief, mengalami luka di sekujur tubuh (goresan), dan ada memar di tubuh. Saat ini posisi menunggu hasil rontgen," ujarnya. Meskipun mengalami banyak luka goresan dan memar di sekujur tubuhnya, Arief dipastikan masih dalam keadaan sadar dan stabil. Ia menjalani serangkaian pemeriksaan medis untuk memastikan tidak ada cedera internal yang serius. Pihak FTSL, Prodi, dan Ikatan Alumni Teknik Lingkungan (IATL) ITB turut mendampingi Arief dan keluarganya selama di rumah sakit, menunjukkan dukungan penuh dari komunitas akademik.
Pada akhirnya, setelah menjalani perawatan awal, Arief diserahterimakan kepada pihak keluarga. "Update terakhir, barusan Arief sudah diserahterimakan kepada keluarga, pihak FTSL, Prodi, dan IATL mendampingi sampai selesai. Kami masih di rumah sakit (RSUD) Bedas Arjasari bersama Arief dan keluarga," kata Nita Yuanita, mengakhiri kekhawatiran yang telah berlangsung selama berhari-hari. Kisah Arief Wibisono di Gunung Puntang adalah testimoni nyata akan ketahanan fisik dan mental manusia. Dua malam penuh ketidakpastian di tengah belantara hutan, dengan luka-luka dan tanpa perbekalan yang memadai, menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Namun, berkat kegigihannya dan bantuan dari tim penyelamat serta warga lokal, Arief berhasil melewati cobaan berat ini dan kembali ke pelukan keluarganya. "Alhamdulillah masih diberi keselamatan," pungkas Nita, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas keselamatan mahasiswanya. Peristiwa ini juga menjadi pengingat penting bagi para pendaki untuk selalu memprioritaskan keselamatan, tidak meremehkan medan gunung, dan selalu menjaga komunikasi serta kebersamaan dalam kelompok.



